Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan TVRI Yogyakarta kembali menghadirkan OPSI: Obrolan Psikologi, sebuah talk show interaktif mingguan. Episode kedua yang tayang pada Selasa, 29 April 2025, pukul 15.00-16.00 WIB, membahas tema “Klik, Pinjam, Menyesal: Memahami Pinjol secara Neurosains”.
psikologiugm
Apa itu self love? Bagaimana agar self love tidak menjadi berlebihan? Bagaimana konsep selfless dan pengaruhnya bagi kehidupan ini? Apakah selfless sama dengan people pleasure? Yuk, baca artikel ini sampai tuntas.
=&0=&=&1=&
Self love hanyalah istilah yang berkembang dalam psikologi modern dan semakin populer di kalangan masyarakat saat ini. Wajar saja jika definisi self love tidak akan pernah dapat kita temui di definisi para tokoh psikologi karena memang tidak ada satupun individu yang dilabeli sebagai penemu konsep ini. Namun, terdapat beberapa tokoh penting dalam psikologi yang mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan self love. Gagasan para tokoh tersebut akan membangun paradigma berpikir kita tentang self love.
Pertama yakni konsep self acceptance (penerimaan diri) yang digagas oleh Carl Rogers, seorang tokoh utama psikologi humanistik. Rogers menyatakan bahwa untuk mencapai potensi terbaiknya, manusia perlu untuk menerima secara utuh dirinya tanpa syarat apapun. Saat manusia mampu menerima kondisi dirinya, baik kelebihan maupun kekurangannya, maka ia akan merasakan kesejahteraan emosional.
Konsep kedua adalah self esteem (harga diri) yang dicetuskan oleh Nathaniel Branden. Branden mengemukakan bahwa harga diri terdiri dari dua elemen utama, yaitu rasa layak dan rasa kompetensi. Rasa layak berhubungan dengan sejauh mana seorang individu yakin bahwa dirinya layak untuk bahagia, sukses, dan dihormati terlepas dari semua kekurangan dan kesalahan yang pernah dibuatnya. Elemen rasa kompetensi mencakup kepercayaan diri untuk menyelesaikan tugas harian sekaligus tantangan kehidupan.
Selanjutnya terdapat pula konsep self compassion (belas kasih pada diri sendiri) yang dikembangkan oleh Kristin Neff. Belas kasih pada diri sendiri dibutuhkan terutama saat diri sedang mengalami kegagalan. Alih-alih mengkritik diri dengan sangat keras saat gagal, seseorang yang memiliki belas kasih pada diri sendiri akan lebih memilih untuk berkata, “Kegagalan ini memang menyakitkan, tetapi semua orang pasti mengalami kegagalan. Saya akan belajar dari pengalaman ini dan memberikan diri saya izin untuk memperbaiki kesalahan”.
Ada pula konsep authenticity (keaslian diri) oleh Brene Brown. Nah, keaslian diri ini sangat erat kaitannya dengan menjadi diri sendiri yang asli, jujur, dan tidak terpengaruh oleh ekspektasi atau penilaian orang lain. Agama juga menegaskan pentingnya mengenal diri sendiri yang asli, karena ia dapat menjadi jalan untuk lebih memahami tujuan hidup serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus sesama manusia.
Berdasarkan pemaparan tentang konsep psikologi yang erat kaitannya dengan self love, kita dapat memahami bahwa self love sangat dekat dengan perasaan cukup pada diri sendiri. Ringkasnya, self love muncul saat seseorang mampu mengenal dirinya dengan baik, menerima setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, menghargai diri sendiri, dan memberikan cinta kasih pada diri dengan ikhlas tanpa syarat apapun.
=&2=&=&3=&=&4=&
Self love memang baik karena ia mencakup cinta dan perhatian terhadap diri sendiri, namun bisa jadi berbahaya ketika ia dimaknai dan dipersepsikan sebagai pride of self (kekaguman yang besar pada diri sendiri). Ketika hal ini terjadi, maka akibatnya akan terjadi self centered yang mana di dalamnya terdapat egoisme, obsesi diri, sangat fokus terhadap diri sendiri, dan mementingkan diri sendiri. Orang yang memiliki self love ekstrem cenderung memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk mencapai ambisi yang diinginkan.
Self love ekstrem perlu diwaspadai karena dapat memicu timbulnya permasalahan psikis yang lebih parah, seperti contohnya Narcissistic Personality Disorder (NPD). NPD ditandai dengan adanya pikiran dan perilaku sombong, manipulatif, tidak memiliki empati, merasa ada kebutuhan untuk dikagumi, merasa dirinya harus menjadi pusat, dan menyeru orang lain untuk mendengarkan dirinya. Selain NPD, gangguan kepribadian yang erat kaitannya dengan self centered adalah psikopat, sosiopat, bipolar, dsb.
“Wah, berarti semisal ada orang yang egois banget, maka dapat diartikan dia memiliki indikasi gangguan kepribadian, dong? Contohnya, orang yang lebih mementingkan me time dengan dalih self love padahal sebenarnya dia harus menghadiri rapat atau kepentingan umum lainnya”.
Eits, tidak segampang itu, ya. Gangguan kepribadian dapat ditegakkan hanya oleh tenaga profesional, yaitu psikolog klinis atau psikiater. Jadi, jangan asal menuduh orang-orang sekitar yang menurut pandangan kita egois sebagai pengidap gangguan kepribadian tertentu, ya.
Nah, di pembahasan berikutnya mari membahas tentang konsep selfless. Hm, kok kontradiksi ya dengan self love? Memang secara sekilas terdengar kontradiksi, namun sebenarnya selfless merupakan sebuah topik yang berkembang di literatur psikologi yang menekankan tentang perilaku tanpa pamrih. Selfless bisa menjadi opsi untuk meruntuhkan benteng keegoisan pada diri manusia. Menariknya, selfless juga dibahas pada literatur keagamaan. Penasaran, kan? Yuk, simak bareng-bareng paparan berikut.
=&5=&=&6=&
Teman-teman pasti percaya bahwa cara pandang manusia turut dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Kemudian, cara seseorang berpikir dan memandang sesuatu juga memengaruhinya dalam bersikap. Contoh, kehidupan pasca kematian. Bagi manusia yang tidak percaya maka ia akan menjadikan kehidupan sebagai ajang untuk menjadi yang tercantik, terkaya, tersukses, terbesar, dan ter- lainnya sampai menghalalkan segala macam cara hanya demi memuaskan ambisi hidupnya. Lain halnya dengan orang yang percaya bahwa terdapat kehidupan setelah kematian, ia akan mencoba menjalani hidup dengan bijak, hati-hati, tidak terlalu mengambisikan dunia, dan meyakini bahwa tidak ada manusia besar selain Tuhan yang Maha Besar.
Psikologi mengkaji sebuah topik yang masih belum dipahami oleh banyak orang, yakni
selflessness. Selflessness
Pernahkah di antara kita ada yang terkadang merasa lebih mudah lelah tak cuma secara fisik tapi juga mental? Nah, ini sebenarnya ada kaitannya dengan bagaimana kita mengefisienkan energi/ cognitive resources yang kita punya dalam menjalankan peran kita dalam kehidupan sehari-hari. Efisiensi cognitive resource mengacu pada cara kita mengelola dan mengoptimalkan resource kita untuk mencapai tujuan hidup dengan lebih efektif.
Apakah teman teman tau disamping memberi manfaat secara fisik, olahraga bermanfaat bagi kesehatan mental dan kognitif? Agar semakin semangat berolahraga dan melakukan olahraga hanya tidak karena FOMO atau takut ketinggalan tren, artikel berikut ini akan membahas tentang manfaat olahraga dari perspektif neuropsikologi, dengan memberi pemahaman bagaimana olahraga dapat mempengaruhi fungsi otak dan kesehatan mental.
=&0=&
Neuropsikologi merupakan pemahaman tentang bagaimana otak dan strukturnya berpengaruh terhadap pemikiran dan perilaku manusia. Misalnya, dalam perencanaan, pengambilan keputusan, berkomunikasi, mengendalikan emosi, respon terhadap stress, hingga berolahraga melibatkan peran dan fungsi otak dan susunannya.
Saat kita berolahraga, jantung memompa darah lebih kuat dan cepat sehingga meningkatkan aliran darah ke otak. Peningkatan aliran darah dari jantung berperan penting untuk menyalurkan nutrisi yang dibutuhkan otak dalam menjalankan tugasnya. Sehingga, aliran darah dan nutrisi akibat olahraga dapat membantu otak agar bekerja secara optimal.
Perlu diketahui, bahwa saat kita berolahraga beberapa bagian di otak kita terlibat dalam aktivitas fisik yang masing-masing memainkan peran yang berbeda dalam mengkoordinasikan gerakan dan mengatur fungsi tubuh, mulai dari motor cortex di lobus frontal yang berfungsi untuk mengontrol gerakan, basal ganglia di dasar otak yang berfungsi dalam pengendalian gerakan otomatis seperti berjalan, cerebellum atau otak kecil di bagian otak belakang yang berfungsi untuk mengatur kontraksi otot dan menjaga keseimbangan, hippocampus di lobus temporal berperan dalam pembentukan memori dan aktivitas fisik seperti aerobik dapat meningkatkan neurogenesis di area hippocampus, dan prefrontal cortex di bagian depan otak atau lobus frontal yang bertanggung jawab sebagai fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan, perencanaan, dan lain sebagainya.
Disamping itu, di dalam otak kita terdiri dari milyaran neuron atau sel saraf yang berkomunikasi satu sama lain. Untuk berkomunikasi dan membawa pesan antar neuron, membutuhkan senyawa kimia yang disebut dengan neurotransmitter. Kita mungkin sudah tidak asing dengan istilah dopamin, serotonin, dan endorfin, istilah-istilah tersebut merupakan jenis neurotransmitter. Di otak manusia juga terdiri dari banyak jenis neurotransmitter yang masing-masing memiliki fungsi spesifik. Saat kita berolahraga, produksi neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin meningkat untuk memfasilitasi dan memberi efek positif dari aktivitas fisik, serta mengurangi produksi hormon kortisol. Dopamin biasanya identik dengan hormon bahagia yang bertanggung jawab untuk membuat kita merasa bahagia, misalnya saat kita rutin olahraga dan mencapai berat badan ideal, hormon ini akan diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak. Kemudian, serotonin merupakan hormon yang berperan dalam mengatur suasana hati, tidur, dan nafsu makan. Saat berolahraga, produksi serotonin meningkat dan memberi suasana hati yang bahagia hingga mengurangi gejala depresi, selain itu peningkatan serotonin setelah olahraga juga membantu meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi kecemasan.
=&1=&
Setelah melakukan berbagai aktivitas seharian, mengejar tumpukan deadline, berinteraksi dengan beragam karakter orang, bisa menjadi sangat melelahkan dan memicu stress. Stres merupakan respons alami yang mendorong kita untuk menghadapi tantangan dan ancaman dalam kehidupan. Kita tentu mengalami stress setiap harinya di level tertentu. Apabila stress yang kita alami stress ringan, akan membantu kita dalam menjalani aktivitas sehari-hari, karena dapat meningkatkan kewaspadaan, fokus, hingga kita mampu menyelesaikan tugas dengan lebih efektif. Namun, apabila stres yang dialami merupakan stres tingkat tinggi, cara kita meresponnya akan mempengaruhi kesehatan tubuh dan pikiran.
Stres yang kita alami, terkadang membuat kita sulit untuk rileks, sulit untuk berkonsentrasi, atau menimbulkan kecemasan dan mudah tersinggung. Tingkat stres yang tinggi juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, sulit tidur, hilangnya nafsu makan atau bahkan nafsu makan yang berlebih.
Untuk mengatasi stress harian, cobalah untuk mempelajari teknik manajemen stress yang berguna untuk mengurangi beban dan mendukung kesehatan fisik dan mental. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah berolahraga secara rutin. Dengan berolahraga secara rutin, bahkan dengan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki dapat membantu mengurangi stress dan rasa cemas, sehingga tidur di malam hari menjadi lebih mudah tanpa insomnia dan overthinking. Selain itu, olahraga yang dilakukan pagi, siang, atau sore hari juga mendukung kualitas tidur yang lebih baik.
Peran olahraga dalam mengurangi stres, depresi, dan kecemasan telah terbukti melalui berbagai penelitian. Di antaranya, penelitian systematic review oleh Chong dkk pada tahun 2022 yang menjelaskan bahwa olahraga aerobik, dan tai chi dapat mengurangi kecemasan. Latihan badan dan pikiran seperti yoga, dan pilates juga dapat mengurangi kecemasan.
=&2=&
Selain bermanfaat terhadap kesehatan fisik dan mental, olahraga juga mampu menstimulasi bagian otak yang berfungsi dalam memori, pembelajaran dan meningkatkan berbagai fungsi kognitif, seperti atensi, memori kerja, fungsi eksekutif, dan fleksibilitas kognitif.
Saat berolahraga, area prefrontal korteks di otak juga menunjukkan respon positif karena terjadinya peningkatan aliran darah selama aktivitas fisik, dan memberi lebih banyak oksigen dan nutrisi ke otak, sehingga mendukung kesehatan dan fungsi otak secara keseluruhan. Prefrontal korteks merupakan bagian otak yang terletak di bagian depan atau lobus frontal, dan berperan penting dalam pengambilan keputusan yang kompleks, perencanaan jangka panjang, pemecahan masalah, atensi, dan pengendalian diri.
Selain itu, olahraga dan aktivitas fisik berperan penting dalam mendukung neuroplastisitas atau plastisitas otak. Plastisitas otak merupakan kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi neural baru sepanjang hidup. Plastisitas otak ini berperan penting dalam proses pemulihan dari cedera otak, serta membantu melawan penurunan kognitif terkait dengan penuaan seperti pikun. Dengan berolahraga atau latihan fisik secara teratur, dapat mengurangi keparahan gangguan gejala mental seperti depresi, penyakit Alzheimer, dan Parkinson.
=&3=&
Jika kamu belum menjadikan olahraga sebagai rutinitasmu, mungkin kamu bisa mencoba beberapa tips dibawah ini:
seringkali menggunakan berbagai cara untuk memenangkan suara selama kampanye pemilihan umum. Beberapa di antaranya mencakup pemanfaatan popularitas partai dan pemimpin, representasi diri sebagai pelindung identitas nasional dan bahkan keberagamaan, serta membentuk koalisi dengan partai lain. Para aktor politik sering kali didorong oleh motivasi untuk meningkatkan elektabilitas mereka di hadapan masyarakat untuk memimpin masyarakat ke arah tertentu.
Secara sederhana, ELM memberikan gambaran mengenai proses pembentukan opini yang terjadi pada diri individu akibat persuasi yang diberikan oleh pihak lain. Kaitannya dengan penggunaan media dalam kampanye politik, model ini dapat menjelaskan mekanisme pemrosesan kognitif masyarakat pada saat mengonsumsi informasi politik yang disajikan di dalam media pada masa kampanye politik. Dalam model ini, dijelaskan bahwa efektivitas media dalam mempersuasi masyarakat dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor internal individu yang terdiri atas kemampuan dan motivasi, serta jalur komunikasi yang digunakan oleh media dalam menyampaikan pesan politik kepada masyarakat.
=&0=&
Pada jalur sentral, masyarakat cenderung fokus meperhatikan isi dari kampanye yang diberikan oleh masing-masing calon legislatif. Selain memerhatikan visi dan misi, masyarakat juga akan mencermati narasi-narasi yang disampaikan oleh para calon legislatif hingga jargon yang disiarkan pada saat kegiatan kampanye berlangsung. Masyarakat yang memproses informasi melalui jalur sentral biasanya cukup kritis dan berhati-hati dalam menganalisis pesan yang disampaikan oleh calon legislatif. Apabila pesan yang disampaikan oleh calon legislatif dirasa menguntungkan dan sesuai dengan harapan, masyarakat akan memberikan respon positif. Namun sebaliknya, apabila pesan yang disampaikan dirasa merugikan dan justru bertolak belakang dengan keinginan, masyarakat akan memberikan respon negatif. Untuk itu, dalam hal ini media memiliki peran yang besar untuk dapat menyuguhkan informasi berkualitas sesuai dengan harapan masyarakat mengenai konten kampanye dari para calon legislatif sebagai upaya untuk dapat mempersuasi masyarakat.
=&1=&
Berbeda dengan jalur sentral, masyarakat yang memproses informasi melalui jalur peripheral lebih memperhatikan faktor-faktor lain di luar konten kampanye yang disampaikan oleh calon legislatif, seperti profil calon legislatif, cara penyampaian informasi yang dilakukan oleh calon legislatif, hingga daya tarik yang dimiliki oleh calon legislatif. Bagi masyarakat tersebut, aspek-aspek nonsubstantif seperti popularitas, citra diri, serta visualisasi dari calon legislatif menjadi pertimbangan utama yang dapat memengaruhi opini dan keputusan masyarakat dalam merespon kampanye politik para calon legislatif.
Masyarakat yang memproses informasi melalui jalur peripheral cenderung tidak melakukan analisis kritis terhadap kampanye yang dilakukan oleh calon legislatif. Sebaliknya, masyarakat akan dengan mudah mengarahkan opininya dan memberikan respon positif pada calon legislatif yang menunjukkan kharisma kepemimpinan pada saat kampanye politik berlangsung. Dalam hal ini, media memiliki peran untuk dapat membuat citra positif untuk para calon legislatif. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menyusun konten visual dengan estetika yang menarik guna mendukung kampanye politik yang dilakukan oleh calon legislatif. Selain itu, kekuatan media untuk dapat membuat framing terhadap kelompok lawan juga memiliki peran yang besar untuk mengarahkan opini masyarakat.
=&2=&
Pemrosesan informasi pada masyarakat melalui jalur sentral dan peripheral dipengaruhi oleh motivasi yang terdapat dalam diri mereka. Pada masyarakat dengan motivasi yang kuat, pemrosesan informasi dilakukan melalui jalur sentral. Oleh sebab itu, masyarakat bersedia untuk meluangkan energi dan waktu untuk memahami dan menganalisis kampanye politik yang disampaikan oleh calon legislatif secara kritis. Sebaliknya, masyarakat yang melakukan pemrosesan informasi melalui jalur peripheral cenderung memiliki motivasi yang lemah sehingga penilaian pada kampanye politik dari calon legislatif hanya dilakukan secara eksternal saja.
Seluruh pemrosesan informasi yang dilakukan oleh masyarakat tidak terlepas dari adanya pengaruh media. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa pola penyampaian informasi yang dilakukan di media menjadi salah satu jembatan yang dapat digunakan oleh para calon legislatif untuk mengarahkan opini masyarakat. Namun demikian, sebagai seorang individu, tiap anggota masyarakat tidak terlepas dari adanya bias konfirmasi saat akan mengonsumsi kampanye politik yang tersedia dalam media. Dalam beberapa studi yang telah dilakukan, diketahui bahwa dalam mengonsumsi media, masyarakat cenderung selektif dan hanya akan melihat informasi yang dirasa sesuai atau mendukung kepercayaan, keyakinan, dan nilai yang mereka miliki. Dengan kata lain, meskipun media telah menyajikan segudang informasi mengenai kampanye politik yang dihadirkan oleh calon legislatif, informasi-informasi yang relevan dengan kondisi masyarakatlah yang akan lebih banyak dikonsumsi dan berpotensi untuk mengarahkan opini masyarakat.
Media memiliki pengaruh besar terhadap opini masyarakat dalam masa kampanye politik. Melalui pemrosesan informasi di jalur sentral dan peripheral, media berposisi sebagai perantara informasi dan persuasi antara calon legislatif dengan masyarakat. Dalam hal ini, ELM memberikan wawasan mengenai proses kognitif dan mental yang terjadi pada masyarakat ketika dihadapkan dengan jutaan informasi kampanye yang dapat mempengaruhi dinamika pengambilan keputusan mereka.
Mengonsumsi media secara bijaksana menjadi salah satu sikap yang harus dimiliki masyarakat saat ini. Dengan mengetahui kerangka kerja ELM, masyarakat diharapkan mampu untuk dapat mengevaluasi informasi secara kritis, mengajukan pertanyaan tentang bias pribadi yang dimiliki, dan pada akhirnya membuat keputusan politik yang kuat berdasarkan pertimbangan yang matang.
Nah, apa sih online disinhibition effect itu?
Istilah online disinhibition effect pertama kali diperkenalkan oleh John Suler pada 2004. Ia mengungkapkan bahwa online disinhibition effect merupakan suatu kondisi akibat berkurangnya kekangan saat seseorang berada di media sosial. Orang-orang menjadi lebih terbuka, nyaman, dan bebas dalam mengekspresikan diri mereka. Oleh karena itu, saat bermedia sosial, orang dapat mengungkapkan dan melakukan hal-hal yang tidak dilakukan di dunia nyata.
Keterbukaan ini memiliki dua bentuk berbeda, lho. Terkadang, kita lebih percaya diri untuk mengungkapkan hal-hal yang positif di media sosial. Selain itu, kita juga cenderung memilih mengekspresikan emosi yang terpendam melalui media sosial alih-alih mengutarakannya secara langsung. Nah, keterbukaan ini disebut sebagai benign disinhibition. Suler mengungkapkan bahwa benign disinhibition dapat dianggap sebagai self disclosure, upaya pengembangan diri individu, penyelesaian masalah interpersonal dan intrapsikis, hingga eksplorasi identitas seseorang.
Sebaliknya, banyak orang yang menjadi lebih sering berkata kasar di media sosial. Tidak tanggung-tanggung, banyak juga yang menebar ujaran kebencian serta ancaman meskipun mereka bisa jadi tidak melakukannya di dunia nyata. Bentuk inilah yang disebut sebagai toxic disinhibition. Lebih lanjut, toxic disinhibition merupakan bagian dari online flaming dan ekspresi emosi yang menyakiti orang lain serta merusak citra diri tanpa adanya perkembangan pribadi yang menguntungkan. Cyberbullying yang marak terjadi juga merupakan salah satu contoh dari toxic disinhibition.
Namun, perbedaan antara benign dan toxic disinhibition terkadang ambigu. Ada kalanya, mengeluarkan kata-kata kasar di media sosial memberikan rasa terapeutik bagi sebagian orang. Di sisi lain, orang bisa jadi merasa malu dan menyesal sebab terlalu membuka sisi personalnya di media sosial. Tidak hanya itu, faktor budaya juga berperan. Perilaku yang mungkin dianggap sebagai toxic disinhibition pada suatu tempat bisa jadi berbeda pada tempat lain.
Lantas. sebetulnya apa sih yang menyebabkan online disinhibition effect ini?
Suller mengemukakan bahwa ada enam faktor penyebab online disinhibition effect, yaitu:
Dissociative anonymity. Anonimitas merupakan faktor utama penyebab online disinhibition effect. Di media sosial saat ini, semua orang dapat menyembunyikan hingga memalsukan identitas mereka. Jika orang-orang memiliki kesempatan untuk memisahkan identitas di media sosial dan dunia nyata, mereka merasa lebih bebas mengungkapkan diri di media sosial sebab yang diungkapkan tidak mencerminkan diri mereka yang sebenarnya di dunia nyata.
Invisibility. Di media sosial, kita tidak bisa melihat satu sama lain secara langsung. Adanya invisibilitas ini memperkuat efek dari anonimitas. Sebab, sekalipun identitas asli seseorang diketahui, ketidaktampakan secara fisik membuat orang lebih berani mengungkapkan dan melakukan hal yang tidak berani dilakukan di dunia nyata.
Asynchronicity. Komunikasi di dunia maya terjadi secara asinkron. Sebuah pesan terkadang baru terbalas hingga berjam-jam kemudian. Adanya jeda waktu ini dapat mengubah cara berpikir seseorang ke arah benign atau toxic disinhibition.
Solipsistic introjection. Tidak bertatap muka secara langsung membuat orang-orang mengimajinasikan lawan bicara. Saat membaca pesan dari lawan bicara di media sosial, kita kerap membayangkan suara orang tersebut hingga wujud visualnya dalam imajinasi kita. Dalam imajinasi ini, orang-orang menjadi bebas untuk mengatakan dan melakukan banyak hal.
Dissociative imagination.
Tidak perlu menceritakan kegiatan sehari-hari kepada orang yang sering berinteraksi dengan kita. Bagi orang yang sering berinteraksi dengan teman, semakin banyak pengungkapan diri yang dilakukan teman mereka, kepuasan mereka terhadap hubungan tersebut akan semakin rendah. Namun, bagi teman yang kurang sering berhubungan dengan mereka, pengungkapan diri tidak mempengaruhi kepuasan dalam pertemanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar alasan mengapa pengungkapan diri tersebut mengurangi kepuasan pertemanan adalah karena pengungkapan tersebut menimbulkan risiko personal. Jadi, ketika berbicara tentang orang yang paling sering berkomunikasi dengan kita, kita tidak perlu memberitahu mereka apa yang kita makan untuk sarapan, apa perabotan rumah tangga yang kita beli, atau bagaimana penataan perabotan rumah tangga yang baik. Hal ini dapat membuat persahabatan kita terasa seperti beban dan pada akhirnya merusak hubungan.
Mengurangi sambat atau mengeluh kepada orang lain. Penelitian menemukan bahwa sebagian besar orang tidak menyukai emosi negatif yang terus menerus di media sosial. Selain itu, apabila semakin banyak emosi negatif dan semakin sedikit emosi positif yang diekspresikan, semakin sedikit pula pengguna media sosial tersebut disukai oleh para observer. Faktanya, emosi negatif di media sosial dapat menular.
Menunjukkan hubungan romantis seperlunya. Sebuah penelitian menemukan bahwa ketika orang yang berpasangan memilih foto sendiri sebagai foto profil utama media sosial mereka,
mereka memperoleh respons positif yang lebih sedikit daripada mereka yang menggunakan foto bersama pasangan