• Tentang UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM UGM
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
KANAL PENGETAHUAN PSIKOLOGI
  • Beranda
  • E-Learning
    • Kuliah Terbuka
    • Kuliah Tamu
    • Artikel Psikologi
    • Podcast
    • Video Pembelajaran
  • Riset & Publikasi
    • Artikel Riset dan Publikasi
    • 3 Minute Thesis
  • Menara Ilmu
    • Kesehatan Mental Masyarakat
    • Psikologi Indigenous & Budaya
    • Proses Mental & Perilaku
    • Rentang Perkembangan Manusia
    • Psikodiagnostika
    • Pengembangan Kualitas Manusia
  • Tokoh Psikologi
  • Beranda
  • SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan
  • SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan
Arsip:

SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan

OPSI UGM Kupas Kompleksitas Moralitas Manusia di Era Media Sosial

Obrolan Psikologi Tuesday, 4 August 2026

Manusia tidak lahir sebagai “kertas kosong”. Sejak awal kehidupan, manusia telah memiliki semacam sketsa moral yang kemudian berkembang melalui pengaruh lingkungan, budaya, pengalaman, dan proses belajar.

Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (21/7). Dipandu oleh Sekarayu Puspita, episode kesepuluh ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Samudera Fadlilla Jamaluddin, S.Psi., M.Sc., yang membahas proses psikologis di balik moralitas manusia.

Pemulihan Skizofrenia: Peran Perawatan dalam Budaya Jawa – Dr. Yohanes K. Herdiyanto

3 Minute Thesis Saturday, 23 May 2026

Bayangkan hidup di dalam kabut antara realitas dan ilusi, itulah gambaran perjuangan penyintas skizofrenia. Gangguan ini, meski tingkat kematiannya rendah, menyebabkan disabilitas berat yang memengaruhi produktivitas, interaksi sosial, dan kualitas hidup. Penanganannya kini bergeser dari sekadar meredakan gejala menjadi pendekatan pemulihan yang holistik dan partisipatif, namun masih sering mengabaikan konteks budaya lokal.

Pakar Psikologi Perkembangan Tekankan Pentingnya Standar Pengasuhan Anak Usia Dini Pasca Kasus Daycare di Yogyakarta

Artikel Psikologi Wednesday, 13 May 2026

Kasus kekerasan pada anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta, membuka lapisan persoalan yang selama ini kerap tersembunyi dalam sistem pengasuhan anak usia dini. Fenomena ini tidak dapat semata-mata dipahami sebagai persoalan kekerasan individual, tetapi juga berkaitan dengan kualitas layanan pengasuhan, kesiapan pengasuh, hingga sistem pendukung bagi keluarga.

Apa yang Membuat Mahasiswa Merasa “Punya Tempat” di Kampus? – Dr. Rachmawati

3 Minute Thesis Tuesday, 12 May 2026

Pada tahun 2022, angka putus kuliah di Indonesia mencapai 4,02% dari total mahasiswa yang terdaftar. Menurut teori Tinto, salah satu penyebab terjadinya putus kuliah adalah kegagalan integrasi akademik dan sosial mahasiswa dengan perguruan tinggi. Namun, teori ini lebih menekankan pada proses integrasi yang dijalani mahasiswa, bukan pada bagaimana mahasiswa mengevaluasi pengalaman integrasi tersebut. Padahal, evaluasi terhadap proses integrasi dari perspektif mahasiswa dapat memunculkan perasaan memiliki atau tidak memiliki terhadap universitas, yang dikenal sebagai university belongingness (UB).

Parenting Bukan Hanya Insting: Jurnal Reflektif Dalam Mewujudkan Pola Asuh Strategis

Artikel Psikologi Monday, 27 October 2025

Perkembangan sosial dan emosional anak merupakan cerminan dari kematangan sosial dan emosional orang tua. Benarkah demikian? Masa kanak-kanak dipandang sebagai fase krusial dan progresif bagi perkembangan konsep diri, termasuk kemampuan sosio-emosional anak. Orangtua, terutama ibu sebagai figur sosial terdekat bagi anak berperan penting dalam pemberian teladan maupun bimbingan sosial dan emosional yang tepat. Pola pengasuhan yang dilakukan orang tua pada perkembangan ini dapat menjadi sebuah stimulasi atau bahkan penghambat. Data WHO menunjukkan bahwa 20% anak di seluruh dunia mengalami masalah perkembangan sosio-emosional akibat ketidaktepatan pola asuh. 

Gaya Bahasa Gen Z : Gaya Komunikasi Nyeleneh yang Sarat Makna

Artikel Psikologi Thursday, 26 June 2025

Apakah kalian pernah membaca chat seperti “Baik. Terima kasih pak/bu 🙏”, “menty b banget hari ini.” atau “iyaa siih” ? 

Bagi generasi sebelum Gen Z, bahasa atau gaya komunikasi yang digunakan Gen Z itu membingungkan. Lalu, kenapa sih Gen Z punya gaya komunikasi yang berbeda dengan generasi mereka?

Gen Z lebih banyak berkomunikasi lewat sosial media seperti Tik Tok, Instagram, dan X daripada generasi sebelumnya. Bahkan, sosial media seolah-olah menjadi kehidupan kedua bagi mereka karena mereka sangat aktif menggunakan sosial media. Sosial media menjadi salah satu faktor penyebab dari perbedaan gaya komunikasi mereka dengan generasi sebelumnya yang menggunakan struktur kalimat kompleks dan panjang dan cenderung formal. 

Gentle Parenting: Pendekatan Populer atau Strategi Pengasuhan Berbasis Ilmiah?

Artikel Psikologi Thursday, 26 June 2025

Akhir-akhir ini, istilah dalam dunia pengasuhan semakin beragam, salah satunya adalah pendekatan gentle parenting. Pendekatan ini semakin populer di kalangan para orang tua setelah banyak tokoh di sosial media yang membuat konten mengenai pendekatan ini. Semakin populernya pendekatan ini menjadi sebuah tanda tanya, apakah pendekatan ini merupakan pendekatan ilmiah, pendekatan yang merujuk pada pendekatan ilmiah tertentu, atau hanya sekedar pendekatan yang populer yang berkembang di masyarakat?

Menilik Bagaimana Algoritma Media Sosial Bekerja: Bagaimana Pengaruhnya bagi Perilaku Kita?

Artikel Psikologi Tuesday, 24 June 2025

Pernahkah kamu merasa bahwa media sosial seolah-olah tahu apa yang kamu pikirkan? Setiap kali kamu scrolling laman media sosial, muncul konten dan info-info yang relevan satu sama lain.

Kok bisa sih?

Ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil kerja keras algoritma yang dirancang untuk memahami kebiasaan kita. Sebenarnya, seberapa besar sih pengaruh algoritma ini? Apakah kita selalu punya kendali dalam melihat informasi atau justru algoritma yang diam-diam membentuk perilaku kita? Yuk, kita kupas lebih lanjut bagaimana algoritma bekerja dan dampaknya bagi keseharian kita.

Sekolah Sejahtera Pondasi Generasi Emas

Obrolan Psikologi Wednesday, 7 May 2025

Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta kembali dengan episode terbaru OPSI: Obrolan Psikologi. Pada episode 3 yang tayang Selasa, 6 Mei 2025, pukul 15.00 – 16.00 WIB, tema yang diangkat adalah “Sekolah Sejahtera Pondasi Generasi Emas: Pilar Masa Depan Bangsa”.

Episode ini menghadirkan Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog sebagai narasumber.  Diana memiliki minat penelitian dalam pengembangan sistem kesehatan mental dengan pendekatan multilevel, dengan keluarga dan sekolah sebagai peran utama. Bidang keahliannya mencakup Psikologi dan Ilmu Kognitif, dengan fokus pada Psikologi Biologis (Neuropsikologi, Psikofarmakologi, Psikologi Fisiologis) serta Psikologi Kesehatan, Klinis, dan Konseling. Beliau juga aktif dalam berbagai asosiasi profesional dan aktif melakukan berbagai penelitian bersama Center for Public Mental Health (CPMH) Psikologi UGM.

Jebakan Circle Depresi: Kenali, Pahami, dan Atasi dengan Langkah Tepat

Artikel Psikologi Wednesday, 5 March 2025

Siapa, sih, yang tidak mengenal istilah depresi? Sebuah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan sedih, putus asa, dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya menyenangkan. Perasaan ini bisa berlangsung lama, memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Depresi bukan sekedar “merasa sedih” atau “bad mood”, melainkan suatu kondisi yang bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan, hubungan sosial, dan kesehatan fisik.

Contoh, nih, ada seorang mahasiswa akhir yang awalnya sangat bersemangat mengerjakan tugas akhir thesis namun berubah menjadi kehilangan motivasi, hal itu terjadi karena ia mengalami revisi dari dosen pembimbing dan mendapatkan hambatan dalam pengumpulan data. Seiring berjalannya waktu, ia semakin sulit berkonsentrasi, mengalami masalah tidur dan kelelahan kronis, menghindari pertemuan sosial, dan menjauhi teman dan keluarga. Akibatnya, ia tidak dapat menyelesaikan revisi tesis sesuai jadwal, berisiko melewati batas masa studi.
Kira-kira, bagaimana, ya, ketika orang-orang terdekat atau mungkin diri kita sendiri memiliki kecenderungan mengalami depresi? Nah, sebelum menjawab pertanyaan ini. Yuk, kita telusuri terlebih dahulu bagaimana depresi bisa terjadi.

Pencetus utama atau trigger (pemicu) terjadinya depresi adalah suatu peristiwa, situasi, atau stimulus yang memicu reaksi emosional atau psikologis tertentu, terutama yang berhubungan dengan pengalaman atau ingatan masa lalu yang tidak menyenangkan atau berpotensi menimbulkan trauma. Hadirnya trigger kemudian memengaruhi pikiran, pikiran memengaruhi mood, dan akhirnya mood memengaruhi perilaku.
Kunci yang perlu kita pegang untuk memahami depresi adalah mood dan perilaku. Seseorang dengan gangguan depresi cenderung memiliki suasana hati yang menurun (feeling down). Bagaimana mood bisa turun? Yuk, kita cermati melalui lingkaran depresi berdasarkan contoh berikut ini.

Seseorang sebut saja Andi mendapatkan revisi skripsi dari dosen secara terus menerus (trigger), hal tersebut membuat Andi berpikir bahwa dia tidak mampu bertahan sampai lulus (pikiran), pikiran itu tentu saja membuat Andi merasakan sedih (mood), dan kesedihan yang dirasakan Andi membuat Andi tidak mau lagi menyentuh skripsinya (perilaku).
Spiral depresi tidak berhenti sampai di situ. Perilaku Andi yang tidak mau membahas hal apapun tentang skripsi membuatnya semakin merasa sedih sehingga Andi banyak menghabiskan waktu di kamar. Minimnya interaksi dengan orang lain menambah mood negatif dalam diri Andi, belum lagi ditambah dengan cahaya matahari yang kurang diserap oleh Andi. Andi merasa bahwa dirinya tidak berguna. Akhirnya, Andi mengalami depresi dan memiliki suicidal thought atau pikiran untuk bunuh diri.

Gambar 1.
Segitiga pikiran, perasaan, dan perilaku

Berdasarkan contoh di atas, kita dapat memahami bahwa depresi dapat terjadi ketika seseorang berperilaku sesuai dengan mood yang sedang dirasakan. Hal ini membuat satu catatan penting bahwa psikolog perlu mengajarkan klien dengan kecenderungan depresi bahwa mood mengikuti perilaku. Klien diajarkan cara untuk menguasai berbagai mood negatif yang sedang dirasakan dengan mempraktikkan perilaku positif sehingga mood positif dapat muncul. Sehingga, spiral depresi tadi akan berubah menjadi upward spiral atau spiral ke atas menuju mood yang lebih positif.

Kita kembali memakai contoh Andi untuk menggambarkan bagaimana mood mengikuti perilaku. Saat Andi merasa moodnya turun dan tidak ingin pergi ke kampus,yang perlu dilakukan oleh Andi adalah belajar menguasai mood negatifnya dan memaksakan diri untuk pergi ke kampus. Mood yang semula turun berpotensi untuk naik karena Andi bertemu dengan teman-teman dan tertawa senang. Begitu pula saat Andi tidak ingin bertemu dosen, Andi perlu belajar untuk melawan keinginan menghindari dosen agar mood tidak semakin turun.

Selain upaya untuk mengaktifkan perilaku, terapi klien dengan depresi juga bisa menggunakan cara lain seperti contohnya dengan restructuring cognitive (restrukturisasi kognitif), yakni sebuah teknik dalam psikologi yang digunakan untuk mengubah pola pikir atau cara seseorang memandang situasi, sehingga dapat menghasilkan pemikiran yang lebih positif dan realistis. Teknik ini biasanya digunakan dalam terapi kognitif, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), untuk membantu individu mengidentifikasi, menentang dan mengganti pola pikir negatif atau tidak realistis yang bisa memengaruhi emosi dan perilaku mereka.

Meskipun terdapat alternatif teknik terapi lain, disarankan agar psikolog lebih menekankan pada upaya menjadikan mood klien mengikuti perilaku. Selama ini kita berpikir bahwa kita menangis karena sedih, namun kita tidak pernah berpikir bahwa kita sedih karena menangis. Kita berpikir tersenyum karena bahagia, namun kita tidak pernah berpikir kita bisa bahagia dengan senyuman.
“Kalau kita bisa mengajari pasien menguasai dirinya, maka kemungkinan untuk relapse-nya akan kecil. Jika diserahkan ke mekanisme biologis, maka pasien tidak punya power untuk menguasai dirinya dan akan semakin merasa powerless”.
(Ibu Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog)

 

—
(Sumber artikel didapatkan dari materi yang disampaikan oleh Ibu Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog dalam acara Pelatihan Psikolog Puskesmas)

Penulis: Relung Fajar Sukmawati

Foto dari Brooke Cagle dari Unsplash

 

12
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
fpsi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 ext 158
+62 (274) 550435

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY