• Tentang UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM UGM
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
KANAL PENGETAHUAN PSIKOLOGI
  • Beranda
  • E-Learning
    • Kuliah Terbuka
    • Kuliah Tamu
    • Artikel Psikologi
    • Podcast
    • Video Pembelajaran
  • Riset & Publikasi
    • Artikel Riset dan Publikasi
    • 3 Minute Thesis
  • Menara Ilmu
    • Kesehatan Mental Masyarakat
    • Psikologi Indigenous & Budaya
    • Proses Mental & Perilaku
    • Rentang Perkembangan Manusia
    • Psikodiagnostika
    • Pengembangan Kualitas Manusia
  • Tokoh Psikologi
  • Beranda
  • SDG 5: Kesetaraan Gender
  • SDG 5: Kesetaraan Gender
Arsip:

SDG 5: Kesetaraan Gender

Konseling Pernikahan dengan Perspektif Psikologi Islam? – Dr. Radhiya Bustan

3 Minute Thesis Sunday, 24 May 2026

Pernikahan adalah mitsaqan ghaliza atau perjanjian kokoh yang disaksikan langsung oleh Allah SWT. Tahukah Anda bahwa angka perceraian di Indonesia terus meningkat? Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan pernikahan. Fenomena ini diperumit oleh fakta bahwa klien Muslim merasa ragu mengakses layanan kesehatan mental formal karena minimnya pendekatan yang selaras dengan keyakinan mereka.

Pakar Psikologi Perkembangan Tekankan Pentingnya Standar Pengasuhan Anak Usia Dini Pasca Kasus Daycare di Yogyakarta

Artikel Psikologi Wednesday, 13 May 2026

Kasus kekerasan pada anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta, membuka lapisan persoalan yang selama ini kerap tersembunyi dalam sistem pengasuhan anak usia dini. Fenomena ini tidak dapat semata-mata dipahami sebagai persoalan kekerasan individual, tetapi juga berkaitan dengan kualitas layanan pengasuhan, kesiapan pengasuh, hingga sistem pendukung bagi keluarga.

Dampak Kebijakan Ramah Keluarga – Dr. Naomi Vembriati

3 Minute Thesis Tuesday, 5 May 2026

Perubahan dunia kerja pascarevolusi industri telah membawa tantangan besar bagi keluarga. Kini semakin banyak rumah tangga yang memiliki dua pencari nafkah, sementara tuntutan kerja yang fleksibel, digitalisasi, dan ekonomi 24/7 membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Akibatnya, banyak karyawan kesulitan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Untuk menjawab tantangan ini, organisasi mulai menerapkan beberapa kebijakan. Salah satunya adalah kebijakan ramah keluarga atau dikenal juga sebagai family friendly policies.

OPSI UGM Bahas Intimate Partner Violence: Ketika Luka Bertopeng Cinta

Obrolan Psikologi Wednesday, 22 April 2026

Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI) yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan TVRI Yogyakarta (21/4). Dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus psikolog, Maria Gracia Amara Pawitra, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan fenomena kekerasan pasangan atau mantan pasangan, baik dalam relasi pacaran maupun pernikahan. Kekerasan tersebut berdampak pada kerugian fisik, psikologis, hingga seksual bagi korban.

Gentle Parenting: Pendekatan Populer atau Strategi Pengasuhan Berbasis Ilmiah?

Artikel Psikologi Thursday, 26 June 2025

Akhir-akhir ini, istilah dalam dunia pengasuhan semakin beragam, salah satunya adalah pendekatan gentle parenting. Pendekatan ini semakin populer di kalangan para orang tua setelah banyak tokoh di sosial media yang membuat konten mengenai pendekatan ini. Semakin populernya pendekatan ini menjadi sebuah tanda tanya, apakah pendekatan ini merupakan pendekatan ilmiah, pendekatan yang merujuk pada pendekatan ilmiah tertentu, atau hanya sekedar pendekatan yang populer yang berkembang di masyarakat?

Selflessness Vs Self Love

Artikel Psikologi Tuesday, 29 April 2025

Siapa, sih, manusia yang tidak mencintai dirinya sendiri? Manusia selalu memiliki rasa cinta terhadap dirinya. Hanya saja, kadar cinta setiap individu berbeda. Ada yang kadar self love-nya rendah sehingga ia cenderung memandang negatif dirinya, menganggapnya sebagai sosok yang hanya penuh kekurangan tanpa sedikitpun kelebihan. Di lain sisi, ada juga manusia yang rasa cinta terhadap dirinya sangat tinggi. Akibatnya, ia tumbuh menjadi sosok egois yang minim empati terhadap orang lain.

Apa itu self love? Bagaimana agar self love tidak menjadi berlebihan? Bagaimana konsep selfless dan pengaruhnya bagi kehidupan ini? Apakah selfless sama dengan people pleasure? Yuk, baca artikel ini sampai tuntas.

=&0=&=&1=&

Self love hanyalah istilah yang berkembang dalam psikologi modern dan semakin populer di kalangan masyarakat saat ini. Wajar saja jika definisi self love tidak akan pernah dapat kita temui di definisi para tokoh psikologi karena memang tidak ada satupun individu yang dilabeli sebagai penemu konsep ini. Namun, terdapat beberapa tokoh penting dalam psikologi yang mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan self love. Gagasan para tokoh tersebut akan membangun paradigma berpikir kita tentang self love. 

Pertama yakni konsep self acceptance (penerimaan diri) yang digagas oleh Carl Rogers, seorang tokoh utama psikologi humanistik. Rogers menyatakan bahwa untuk mencapai potensi terbaiknya, manusia perlu untuk menerima secara utuh dirinya tanpa syarat apapun. Saat manusia mampu menerima kondisi dirinya, baik kelebihan maupun kekurangannya, maka ia akan merasakan kesejahteraan emosional.

Konsep kedua adalah self esteem (harga diri) yang dicetuskan oleh Nathaniel Branden. Branden mengemukakan bahwa harga diri terdiri dari dua elemen utama, yaitu rasa layak dan rasa kompetensi. Rasa layak berhubungan dengan sejauh mana seorang individu yakin bahwa dirinya layak untuk bahagia, sukses, dan dihormati terlepas dari semua kekurangan dan kesalahan yang pernah dibuatnya. Elemen rasa kompetensi mencakup kepercayaan diri untuk menyelesaikan tugas harian sekaligus tantangan kehidupan.

Selanjutnya terdapat pula konsep self compassion (belas kasih pada diri sendiri) yang dikembangkan oleh Kristin Neff.  Belas kasih pada diri sendiri dibutuhkan terutama saat diri sedang mengalami kegagalan. Alih-alih mengkritik diri dengan sangat keras saat gagal, seseorang yang memiliki belas kasih pada diri sendiri akan lebih memilih untuk berkata, “Kegagalan ini memang menyakitkan, tetapi semua orang pasti mengalami kegagalan. Saya akan belajar dari pengalaman ini dan memberikan diri saya izin untuk memperbaiki kesalahan”.

Ada pula konsep authenticity (keaslian diri) oleh Brene Brown. Nah, keaslian diri ini sangat erat kaitannya dengan menjadi diri sendiri yang asli, jujur, dan tidak terpengaruh oleh ekspektasi atau penilaian orang lain. Agama juga menegaskan pentingnya mengenal diri sendiri yang asli, karena ia dapat menjadi jalan untuk lebih memahami tujuan hidup serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus sesama manusia.

Berdasarkan pemaparan tentang konsep psikologi yang erat kaitannya dengan self love, kita dapat memahami bahwa self love sangat dekat dengan perasaan cukup pada diri sendiri. Ringkasnya, self love muncul saat seseorang mampu mengenal dirinya dengan baik, menerima setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, menghargai diri sendiri, dan memberikan cinta kasih pada diri dengan ikhlas tanpa syarat apapun.

=&2=&=&3=&=&4=&

Self love memang baik karena ia mencakup cinta dan perhatian terhadap diri sendiri, namun bisa jadi berbahaya ketika ia dimaknai dan dipersepsikan sebagai pride of self (kekaguman yang besar pada diri sendiri). Ketika hal ini terjadi, maka akibatnya akan terjadi self centered yang mana di dalamnya terdapat egoisme, obsesi diri, sangat fokus terhadap diri sendiri, dan mementingkan diri sendiri. Orang yang memiliki self love ekstrem cenderung memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk mencapai ambisi yang diinginkan.

Self love ekstrem perlu diwaspadai karena dapat memicu timbulnya permasalahan psikis yang lebih parah, seperti contohnya Narcissistic Personality Disorder (NPD). NPD ditandai dengan adanya pikiran dan perilaku sombong, manipulatif, tidak memiliki empati, merasa ada kebutuhan untuk dikagumi, merasa dirinya harus menjadi pusat, dan menyeru orang lain untuk mendengarkan dirinya. Selain NPD, gangguan kepribadian yang erat kaitannya dengan self centered adalah psikopat, sosiopat, bipolar, dsb.

“Wah, berarti semisal ada orang yang egois banget, maka dapat diartikan dia memiliki indikasi gangguan kepribadian, dong? Contohnya, orang yang lebih mementingkan me time dengan dalih self love padahal sebenarnya dia harus menghadiri rapat atau kepentingan umum lainnya”.

Eits, tidak segampang itu, ya. Gangguan kepribadian dapat ditegakkan hanya oleh tenaga profesional, yaitu psikolog klinis atau psikiater. Jadi, jangan asal menuduh orang-orang sekitar yang menurut pandangan kita egois sebagai pengidap gangguan kepribadian tertentu, ya.

Nah, di pembahasan berikutnya mari membahas tentang konsep selfless. Hm, kok kontradiksi ya dengan self love? Memang secara sekilas terdengar kontradiksi, namun sebenarnya selfless merupakan sebuah topik yang berkembang di literatur psikologi yang menekankan tentang perilaku tanpa pamrih. Selfless bisa menjadi opsi untuk meruntuhkan benteng keegoisan pada diri manusia. Menariknya, selfless juga dibahas pada literatur keagamaan. Penasaran, kan? Yuk, simak bareng-bareng paparan berikut.

=&5=&=&6=&

Teman-teman pasti percaya bahwa cara pandang manusia turut dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Kemudian, cara seseorang berpikir dan memandang sesuatu juga memengaruhinya dalam bersikap. Contoh, kehidupan pasca kematian. Bagi manusia yang tidak percaya maka ia akan menjadikan kehidupan sebagai ajang untuk menjadi yang tercantik, terkaya, tersukses, terbesar, dan ter- lainnya sampai menghalalkan segala macam cara hanya demi memuaskan ambisi hidupnya. Lain halnya dengan orang yang percaya bahwa terdapat kehidupan setelah kematian, ia akan mencoba menjalani hidup dengan bijak, hati-hati, tidak terlalu mengambisikan dunia, dan meyakini bahwa tidak ada manusia besar selain Tuhan yang Maha Besar.

Psikologi mengkaji sebuah topik yang masih belum dipahami oleh banyak orang, yakni

selflessness. Selflessness read more

Bagaimana Peran Keberfungsian Keluarga Mempercepat Pemulihan Pascatrauma Para Penyintas Bencana?

Artikel Psikologi Thursday, 24 April 2025

Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan terjadi bencana. Letak geografis Indonesia yang berada di jalur ring of fire atau zona pertemuan lempeng tektonik paling aktif membuat bencana gunung meletus sering terjadi di negara tercinta ini. Salah satu bencana letusan gunung berapi adalah awan panas Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang pada tanggal 21 Desember 2021. Kerusakan alam yang diakibatkan oleh bencana ini membuat lebih dari 1900 keluarga harus berpindah ke rumah tinggal tetap sehingga menyebabkan para penyintas harus beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk mencari sumber pendapatan alternatif untuk menopang penghidupan mereka. 

Artikel ini akan mengulas secara singkat hasil penelitian yang dilakukan oleh Intan Masruroh Setiawan dan Ibu Diana Setiyawati tentang bagaimana peran keberfungsian keluarga dalam upaya menumbuhkan harapan para penyintas bencana sehingga dapat mencapai post-traumatic growth (pertumbuhan pascatrauma).

=&0=&

Peristiwa traumatik adalah kejadian atau pengalaman yang sangat mengguncang, menyakitkan, atau mengancam keselamatan fisik dan emosional seseorang. Erupsi gunung merapi merupakan salah satu contoh peristiwa traumatik karena kejadian buruk bencana berada di luar kemampuan individu dan masyarakat, hal ini karena para penyintas mengalami kerugian fisik, psikis, dan material. Belum lagi potensi stres tambahan yang timbul karena penyintas harus berpindah ke tempat baru yang pasti membutuhkan proses adaptasi. 

Stres atau dampak psikologis mendalam dapat memicu timbulnya kecemasan dan depresi, bahkan dalam beberapa kasus para penyintas juga kerap mengalami gejala-gejala gangguan stres pascatrauma. Gejala ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti mengalami kilas balik atau mimpi buruk tentang kejadian traumatis, menghindari segala sesuatu yang mengingatkan pada bencana, terdapat perubahan mood dan pikiran yang lebih negatif, peningkatan kewaspadaan yang berlebihan, dan memiliki masalah kesehatan fisik. 

Namun dalam beberapa kasus, ada juga penyintas yang justru mengalami pertumbuhan pasca trauma. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Yuk simak uraian berikut ini. 

=&1=&

Pertumbuhan pascatrauma adalah perubahan positif yang dialami individu setelah mengalami pengalaman traumatis, seperti bencana alam. Perubahan tersebut dapat berupa pengembangan konsep diri yang lebih positif, mendefinisikan ulang tujuan, memiliki hubungan interpersonal yang lebih dalam, menumbuhkan apresiasi yang lebih besar terhadap kehidupan, dan memiliki kehidupan spiritual yang lebih kuat. Individu yang mengalami pertumbuhan pascatraumatis mayoritas menunjukkan keberfungsian yang lebih tinggi daripada sebelum terjadinya peristiwa trauma.

Pertumbuhan pascatrauma memiliki manfaat yang besar bagi penyintas bencana alam, seperti menurunkan peluang terjadinya depresi dan meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Ketika individu berhasil mengembangkan makna dan mengambil hikmah dari peristiwa yang dialami, maka kesejahteraan psikologis juga akan terbentuk dengan baik. Bahkan, pertumbuhan pascatrauma membentuk kesiapan individu dalam mengatasi permasalahan lain yang akan datang di masa mendatang. 

=&2=&

Harapan didefinisikan sebagai suatu keyakinan yang ada dalam diri seorang individu untuk menentukan tujuan dan merencanakan serta mempertahankan strategi tersebut untuk mencapai tujuan. Harapan menjadi pendorong individu untuk segera bangkit membangun ulang fondasi kehidupan yang awalnya runtuh. Individu dengan tingkat harapan yang tinggi cenderung bersikap optimis, memiliki self talk positif, gigih dalam mengatasi ujian, dan memandang kegagalan atau kemalangan sebagai peluang untuk tumbuh. Sebaliknya, individu dengan harapan rendah akan mudah merasa putus asa dengan tantangan yang sedang dihadapi.

Berdasarkan paparan dalam jurnal ini dinyatakan bahwa harapan diperkirakan dapat memicu pertumbuhan pascatrauma. Dalam konteks peristiwa bencana, harapan mampu mengalihkan individu dari peristiwa negatif sehingga proses adaptasi pascabencana berjalan lebih baik. Tinggi atau rendahnya harapan pada diri individu turut dipengaruhi oleh hubungan individu itu sendiri dengan orang-orang terdekat, salah satunya adalah keluarga. 

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Jangan berhenti sampai sini ya bacanya. Yuk, kita lanjut ke poin berikutnya.

=&3=&

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jumlah partisipan sebanyak 180 orang penyintas erupsi Gunung Semeru 2021 yang tinggal di shelter relokasi permanen. Partisipan dipilih berdasarkan kriteria tertentu yaitu penyintas erupsi Gunung Semeru 2021, berusia 18 sampai dengan 60 tahun, dan mengalami secara langsung kejadian erupsi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah skala pertumbuhan pascatrauma, skala fungsi keluarga, dan skala harapan. Data penelitian dianalisis menggunakan mediasi sederhana. 

=&4=&

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa harapan memengaruhi pertumbuhan pascatrauma, sementara harapan sangat dipengaruhi oleh keluarga yang berfungsi secara optimal. Keberfungsian keluarga merupakan kemampuan keluarga untuk menjalankan fungsi dasarnya secara efektif, yaitu menyediakan lingkungan bagi seluruh anggota keluarga untuk berkembang secara optimal, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Keberfungsian keluarga juga mencakup bagaimana keluarga saling berinteraksi, bereaksi, dan memperlakukan satu sama lain. 

Dalam situasi bencana, keluarga yang berfungsi dengan baik akan berusaha keras memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama dalam hal afektif (kasih sayang). Seperti contohnya saling menguatkan,  membantu, dan mendukung anggota keluarga yang lain untuk beradaptasi dengan kesulitan yang timbul. Keluarga yang berfungsi baik juga dapat ditunjukkan oleh ada atau tidaknya komunikasi yang efektif antar anggota keluarga.

Keberfungsian keluarga dapat menjadi salah satu faktor pendorong individu untuk mengalami pertumbuhan pascatrauma. Hal tersebut karena keberfungsian keluarga dapat meredakan stres dan depresi para penyintas bencana alam lalu mendorong mereka untuk lebih aktif dalam  mengatur emosi negatif menjadi emosi positif. 

Harapan yang menjadi mediator antara keberfungsian keluarga dan pertumbuhan pascatrauma merupakan pelindung kesehatan mental yang sangat penting dalam upaya transisi ke kondisi yang lebih baik. Individu dengan harapan yang tinggi akan berusaha mencari jalan utama atau alternatif guna menuju target tujuan. Dalam konteks penyintas erupsi Gunung Merapi, korban dengan tingkat harapan tinggi akan berusaha mencari pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya meskipun halangannya pekerjaan harus mempelajari skill baru. 

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa upaya pemulihan korban bencana alam tidak cukup jika hanya berfokus pada intervensi individu, namun juga perlu menyentuh orang-orang sekitar karena pertumbuhan pascatrauma bersifat relasional dan tergantung bagaimana kualitas hubungan dengan orang-orang sekitar seperti keluarga, persahabatan, ketersediaan kesempatan kerja, dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Nah,  keberfungsian keluarga ternyata dapat membantu ketercapaian pertumbuhan pacatrauma melalui kohesi (hubungan erat), fleksibilitas, dan komunikasi yang baik. 

=&5=&

Meskipun penelitian ini memberikan perspektif baru dalam upaya pemulihan korban bencana alam, namun juga memiliki beberapa kelemahan. Di antaranya adalah:

  • Penelitian ini hanya mengacu pada persepsi partisipan sebagai individu dalam keluarga, tanpa mempertimbangkan keberfungsian keluarga berdasarkan persepsi anggota keluarga lainnya. 
  • Penelitian ini khusus dilakukan pada korban erupsi Gunung Merapi Semeru, sehingga perlu berhati-hati saat ingin mengaplikasikan pada kejadian traumatis lainnya. 
  • Penelitian ini belum mempertimbangkan tingkatan peristiwa traumatis, sehingga memengaruhi dinamika pertumbuhan pada masing-masih korban.
  • read more

    Universitas Gadjah Mada

    Fakultas Psikologi
    Universitas Gadjah Mada
    Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
    Yogyakarta 55281 Indonesia
    fpsi[at]ugm.ac.id
    +62 (274) 550435 ext 158
    +62 (274) 550435

    © Universitas Gadjah Mada

    KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY