• Tentang UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM UGM
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
KANAL PENGETAHUAN PSIKOLOGI
  • Beranda
  • Artikel Psikologi
  • 3 Minute Thesis
  • Podcast
  • Tokoh Psikologi
  • Beranda
  • Artikel Psikologi
  • Tumbuh dari Luka: Harapan dan Pertumbuhan Psikologis pada Dewasa Muda dengan Trauma Kompleks

Tumbuh dari Luka: Harapan dan Pertumbuhan Psikologis pada Dewasa Muda dengan Trauma Kompleks

  • Artikel Psikologi
  • 5 November 2025, 15.54
  • Oleh: kanal.psikologi
  • 0

Dewasa muda, atau dalam istilah psikologi dikenal dengan emerging adulthood merupakan salah satu fase transisi kehidupan antara masa remaja dan dewasa, yaitu rentang usia 18 hingga 29 tahun. Arnett (2024) menjelaskan masa ini ditandai dengan pencarian identitas, ketidakstabilan serta berfokus pada pengembangan diri. Proses berkaitan dengan keputusan besar dalam hidup, seperti menentukan karier, menjalin hubungan jangka panjang, hingga kemandirian ekonomi maupun emosional.

Hanya saja, tidak semua dewasa muda memiliki pijakan yang sama. Bagi individu yang tumbuh dengan pengalaman traumatis yang kompleks sejak kecil, masa transisi ini menjadi fase yang penuh dengan tantangan. Luka masa lalu yang belum sembuh kerap muncul dalam berbagai bentuk, seperti kesulitan dalam memercayai orang lain, perasaan cemas terhadap masa depan ataupun keraguan tentang diri sendiri.

Hal ini memunculkan pertanyaan menarik, yaitu “Apakah seseorang yang terluka sejak kecil masih bisa tumbuh dan menemukan kekuatan baru di masa dewasa muda?. Sebuah penelitian oleh Amalia Rahmandani, M.A. Subandi, dan Muhana Sofiati Utami (2024) mencoba menjawab pertanyaan ini. Melalui kajian sistematis dan meta-analisis berbagai penelitian di dunia tentang bagaimana individu dewasa muda yang mengalami trauma kompleks dapat tetap menunjukkan pertumbuhan psikologis positif—sebuah fenomena yang disebut post-traumatic growth.

Trauma Kompleks: Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Berbeda dari trauma tunggal seperti kecelakaan atau bencana, trauma kompleks bersifat berulang, berlangsung lama, dan sering terjadi di lingkungan dekat, seperti keluarga, sekolah, atau hubungan yang seharusnya aman. Dampaknya tidak hanya pada emosi, tetapi juga cara seseorang membangun identitas, mempercayai orang lain, dan mengatur dirinya sendiri. Adapun beberapa hal yang bisa muncul, yaitu: kesulitan membangun hubungan, cenderung merasa rendah diri ataupun perasaan tidak aman terkait masa depan. Namun, tak semua penyintas terpuruk. Sebagian justru menunjukkan fenomena yang disebut Post-Traumatic Growth (PTG), yaitu kemampuan menemukan makna, kekuatan, dan arah baru setelah mengalami peristiwa traumatik.

Menemukan Pertumbuhan di Tengah Luka

Dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dilakukan Rahmandani dan tim terhadap 18 penelitian internasional dengan lebih dari 5.800 partisipan, ditemukan bahwa pertumbuhan pascatrauma benar-benar mungkin terjadi bahkan pada individu dengan trauma yang berat dan kompleks.

Pertumbuhan ini tidak berarti hilangnya penderitaan, melainkan perubahan cara individu memaknai hidupnya setelah trauma. Beberapa bentuk pertumbuhan yang paling sering muncul antara lain:

  • Kekuatan pribadi, individu merasa lebih tangguh dan mampu bertahan menghadapi kesulitan baru
  • Hubungan yang lebih bermakna, individu lebih empatik dan menghargai kehadiran orang lain
  • Makna hidup dan spiritualitas, trauma mendorong pencarian makna yang lebih dalam tentang eksistensial.
  • Apresiasi terhadap kehidupan, munculnya rasa syukur dan kesadaran akan hal-hal sederhana.

Fakta menarik dari meta-analisis ini menunjukkan bahwa trauma kompleks berkorelasi positif (r = 0,14) dengan pertumbuhan pascatrauma. Artinya, semakin tinggi tingkat trauma yang dialami, peluang untuk mengalami pertumbuhan juga meningkat, meskipun hubungan ini tidak selalu kuat. Pertumbuhan dan rasa sakit sering kali berjalan berdampingan.

Faktor-Faktor yang Mendorong Pertumbuhan

Penelitian ini menemukan bahwa faktor intrapersonal memegang peran penting dalam pertumbuhan setelah trauma. Beberapa di antaranya adalah:

  • Optimisme dan Penerimaan Diri, Individu yang mampu menerima pengalaman buruk sebagai bagian dari perjalanan hidup, lebih mudah menata makna baru.
  • Religiusitas, Keyakinan spiritual membantu banyak individu dalam memahami trauma sebagai bagian dari rencana yang lebih besar
  • Makna Hidup dan Refleksi Diri, Proses refleks, yaitu berpikir ulang tentang diri kita dan tujuan hidup kita, supaya bisa lebih memaknai kehidupan lebih baik.

Selain faktor pribadi, dukungan sosial juga berperan besar. Hubungan yang aman, penuh empati, dan tidak menghakimi dapat membantu penyintas merasa diterima. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa tidak semua dukungan sosial bersifat positif—bila hubungan sosial justru menimbulkan rasa tidak aman, proses pertumbuhan bisa terhambat.

Luka dan Pertumbuhan Bisa Hidup Bersama

Salah satu temuan paling menarik adalah bahwa pertumbuhan dan penderitaan dapat hidup berdampingan. Banyak penyintas yang melaporkan perasaan depresi atau kecemasan, namun pada saat yang sama juga mengalami peningkatan makna hidup dan kekuatan pribadi. Fenomena ini disebut coexistence of growth and pain. Artinya, seseorang tidak perlu “sembuh total” dari trauma untuk mulai tumbuh. Pertumbuhan justru muncul ketika individu belajar hidup berdampingan dengan lukanya, mengubah rasa sakit menjadi sumber kebijaksanaan dan empati.

Implikasi untuk Pemulihan dan Kesehatan Mental

Hasil penelitian ini memiliki pesan penting, terutama dalam konteks pemulihan trauma:

  1. Pemulihan tidak hanya soal menghapus gejala. Terapi sebaiknya membantu individu menemukan makna, nilai, dan harapan baru, bukan sekadar mengurangi rasa sakit.
  2. Harapan adalah inti dari penyembuhan. Individu dengan harapan tinggi lebih mampu melihat masa depan yang bisa diperbaiki dan menemukan jalan baru meski situasi sulit.
  3. Dukungan sosial dan lingkungan aman sangat penting. Hubungan yang penuh kasih dan komunitas yang suportif menjadi fondasi bagi munculnya pertumbuhan psikologis.
  4. Pendekatan berbasis budaya perlu dikembangkan. Karena sebagian besar penelitian masih berasal dari negara Barat, studi tentang PTG di Indonesia sangat dibutuhkan untuk memahami bagaimana nilai-nilai lokal, seperti gotong royong, spiritualitas, dan kebersamaan dalam membantu proses pertumbuhan setelah trauma.

Dengan demikian, penelitian tersebut mengingatkan kita bahwa trauma tidak selalu menjadi akhir dari cerita hidup seseorang. Bagi sebagian orang, luka masa lalu justru menjadi pintu menuju kekuatan baru. Pertumbuhan pascatrauma bukanlah tentang melupakan, melainkan tentang mengubah penderitaan menjadi kebijaksanaan dan makna. Seperti benih yang tumbuh di tanah yang retak, manusia pun dapat tumbuh dari luka asal diberi waktu, ruang aman, dan harapan untuk kembali menata hidup.

 

Penulis: Aura Nabila

Picture By ShotPot at Pexel.com

Tags: artikelpsikologi SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDGs
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
fpsi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 ext 158
+62 (274) 550435

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY