Pernikahan adalah mitsaqan ghaliza atau perjanjian kokoh yang disaksikan langsung oleh Allah SWT. Tahukah Anda bahwa angka perceraian di Indonesia terus meningkat? Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan pernikahan. Fenomena ini diperumit oleh fakta bahwa klien Muslim merasa ragu mengakses layanan kesehatan mental formal karena minimnya pendekatan yang selaras dengan keyakinan mereka.
3 Minute Thesis
Bayangkan hidup di dalam kabut antara realitas dan ilusi, itulah gambaran perjuangan penyintas skizofrenia. Gangguan ini, meski tingkat kematiannya rendah, menyebabkan disabilitas berat yang memengaruhi produktivitas, interaksi sosial, dan kualitas hidup. Penanganannya kini bergeser dari sekadar meredakan gejala menjadi pendekatan pemulihan yang holistik dan partisipatif, namun masih sering mengabaikan konteks budaya lokal.
Pada tahun 2022, angka putus kuliah di Indonesia mencapai 4,02% dari total mahasiswa yang terdaftar. Menurut teori Tinto, salah satu penyebab terjadinya putus kuliah adalah kegagalan integrasi akademik dan sosial mahasiswa dengan perguruan tinggi. Namun, teori ini lebih menekankan pada proses integrasi yang dijalani mahasiswa, bukan pada bagaimana mahasiswa mengevaluasi pengalaman integrasi tersebut. Padahal, evaluasi terhadap proses integrasi dari perspektif mahasiswa dapat memunculkan perasaan memiliki atau tidak memiliki terhadap universitas, yang dikenal sebagai university belongingness (UB).
Salah satu faktor penting yang memicu munculnya Nonsuicidal Self-Injury (NSSI) adalah pengalaman masa kecil yang penuh kekerasan, penolakan, maupun pengabaian. Perilaku menyakiti diri tanpa niat bunuh diri ini merupakan fenomena psikologis yang memperlihatkan paradoks dalam diri manusia. Secara naluriah, manusia pada umumnya berupaya menghindari rasa sakit. Namun, sebagian individu, termasuk mahasiswa, justru melakukan tindakan menyakiti diri sebagai cara untuk mengatasi tekanan emosional yang dirasakan tidak tertahankan. NSSI bukan sekadar perilaku ekstrem, melainkan bentuk ekspresi dari penderitaan batin yang mendalam. Berbagai kajian menunjukkan bahwa perilaku ini dapat muncul dari interaksi antara pengalaman hidup, kualitas hubungan sosial, serta kemampuan individu dalam mengelola emosi dan pikiran.
Perubahan dunia kerja pascarevolusi industri telah membawa tantangan besar bagi keluarga. Kini semakin banyak rumah tangga yang memiliki dua pencari nafkah, sementara tuntutan kerja yang fleksibel, digitalisasi, dan ekonomi 24/7 membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Akibatnya, banyak karyawan kesulitan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Untuk menjawab tantangan ini, organisasi mulai menerapkan beberapa kebijakan. Salah satunya adalah kebijakan ramah keluarga atau dikenal juga sebagai family friendly policies.
Perkembangan media sosial telah membawa kemudahan dalam mengakses dan membagikan informasi, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan serius berupa maraknya misinformasi dan hoaks. Informasi yang tidak diverifikasi sering kali tersebar luas hanya melalui satu kali klik tombol repost, sehingga menimbulkan dampak negatif bagi individu maupun masyarakat. Dalam konteks ini, literasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar pengguna media sosial mampu bersikap kritis, reflektif, dan bertanggung jawab terhadap konten yang mereka konsumsi maupun bagikan.
Mengapa orang dengan jabatan tinggi justru bisa menjadi pelaku kejahatan yang merugikan banyak orang? Penelitian ini mengupas tuntas fenomena kejahatan kerah putih, mulai dari faktor organisasi, kelompok, hingga individu yang mendorong intensi pelaku. Dengan pendekatan meta-etnografi dan grounded theory, kajian ini membuka mata kita bahwa kejahatan kerah putih bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan ancaman serius terhadap kepercayaan publik dan stabilitas sosial.