Mungkin, kalau berdomisili di Yogyakarta, kamu nggak asing sama Rumah Sakit Jiwa Grhasia atau Rumah Sakit Khusus Puri Nirmala, salah dua tempat rehabilitasi gangguan jiwa. Tapi, pernah enggak kamu mendengar soal Pondok Tetirah Dzikir? Pondok yang berada di Sleman, Yogyakarta ini telah didirikan semenjak tahun 2001. Sebagai tempat rehabilitasi, Pondok Tetirah Dzikir memadukan pendekatan spiritualitas dan konsep komunitas. Pondok ini juga berusaha membantu individu dengan gangguan jiwa dan individu yang terjebak dalam penyalahgunaan zat psikoaktif sebagai upaya mewujudkan tujuan global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs nomor 3.
Kenapa ini penting? Berdasarkan data statistik yang ada menegaskan bahwa isu kesehatan mental dan penyalahgunaan zat bukanlah hal yang dapat dianggap sepele. Data dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menyebutkan bahwa terdapat sekitar 970 juta orang di dunia yang mengalami gangguan mental pada tahun 2019. Di Indonesia sendiri, sekitar 9,8% penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental, sementara itu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi provinsi dengan tingkat gangguan mental berat tertinggi secara nasional (SKI, 2023). Salah satu gangguan yang terus meningkat adalah penyalahgunaan zat psikoaktif.
SDGs Nomor 3 “Good Health and Well-Being”
Sejak 2015, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencanangkan program pembangunan global bernama SDGs. Salah satu dari 17 tujuan yang dibuat adalah tujuan SDGs nomor 3, yakni menjamin kehidupan sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua orang. Poin SDGs ini juga menyasar kasus pencegahan dan pengobatan terhadap individu dengan penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini mencakup pengendalian konsumsi tembakau, alkohol, dan obat-obatan terlarang yang terbukti merusak kesehatan global.
Di sisi lain, SDGs juga membawa semangat “No One Left Behind” yang memuat nilai universal, inklusif, dan integratif. Hal ini berarti tak ada seorang pun yang dibiarkan tertinggal dalam upaya pembangunan. Semua individu harus punya kesempatan untuk sembuh dan berkembang. Dengan kerangka SDGs nomor 3 ini, isu kesehatan mental dan penyalahgunaan zat psikoaktif menjadi agenda pembangunan global yang komprehensif. Negara-negara yang ada, termasuk Indonesia, diharapkan dapat untuk menciptakan strategi komprehensif yang tidak hanya berbasis medis, tetapi juga sosial, budaya, dan spiritual. Oleh karena itu, di sinilah, peran Pondok Tetirah Dzikir (PTD) jadi sangat relevan.
Pemulihan di Pondok Tetirah Dzikir
Pondok yang berdiri sejak 2001 ini awalnya merupakan sebuah pesantren. Tapi, di tangan pendirinya, H. Muhammad Trihardono, S.S., pondok ini berkembang menjadi pusat rehabilitasi berbasis spiritual Islam. Santri yang ada di Pondok Tetirah Dzikir adalah santri yang mengalami gangguan jiwa dan zat psikoaktif. Di sini, mereka menjalani aktivitas spiritual seperti dzikir,
shalat, mandi taubat, hingga pengajian yang dikombinasikan dengan kegiatan fisik seperti berkebun, beternak, dan senam pagi.
Satu hal yang menarik, Pondok Tetirah Dzikir tidak berjalan sendiri. Mereka bekerja sama dengan Rumah Sakit (RS) Hardjolukito, terutama saat santri membutuhkan penanganan medis atau mengalami relapse. Bahkan, pondok ini siap mengantar langsung santri yang membutuhkan bantuan lanjutan. Kombinasi spiritual dan medis ini menjadikan Pondok Tetirah Dzikir sebagai lembaga yang menyelaraskan pendekatan psikologis, sosial, medis, dan religius dalam satu tempat.
Hasil penelitian menemukan bahwa masa awal partisipan saat tinggal di pondok didominasi oleh emosi negatif dan ketidaknyamanan terhadap kebiasaan baru. Meskipun begitu, seiring berjalannya waktu, partisipan mampu menyesuaikan diri dengan mengikuti dan menjadikan aktivitas spiritual di pondok sebagai sebuah mekanisme koping. Kemudian, ditemukan juga bahwa terdapat beberapa perubahan yang dirasakan oleh partisipan selama di pondok, seperti merasa lebih tenang, bersyukur, dan niat untuk bertaubat. Mereka juga mengaku merasa lebih dekat dengan Tuhan dan merasa dihargai sebagai manusia. Aktivitas rutin seperti dzikir dan shalat membuat mereka merasa kembali punya arah hidup. Mereka mengaku bahwa Pondok Tetirah Dzikir membantu mereka membangun identitas baru yang lebih bermakna.
Rehabilitasi Berbasis Komunitas dan Spiritual
Kisah sukses PTD ini sejalan dengan semangat SDGs yang mendorong inovasi lokal untuk solusi global. Dengan integratif, Pondok Tetirah Dzikir tidak hanya memberi pengobatan, tetapi juga pemberdayaan. Santri diajak untuk aktif dengan kegiatan spiritual, produktif dengan kegiatan vokasional, dan tetap berelasi dengan sesama sebagai makhluk sosial. Kita sering berpikir bahwa rehabilitasi harus selalu berbasis medis, seperti menggunakan obat-obatan. Tapi nyatanya, Pondok Tetirah Dzikir menunjukkan bahwa terdapat pendekatan lain yang menyentuh sisi spiritual sehingga pada akhirnya proses pemulihan bisa berjalan lebih dalam dan menyeluruh.
Pondok Tetirah Dzikir adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai SDGs bisa dihidupkan dari skala lokal. Pemaknaan nyata partisipan mengenai pengalaman rehabilitasi mereka di Pondok Tetirah Dzikir menunjukkan bahwa pemberdayaan dan partisipasi komunitas lokal ketika berpadu dengan pendekatan spiritual menjadi salah satu cara unik dalam menghadapi tantangan kesehatan mental di Indonesia. Lewat pendekatan ini, kita belajar bahwa membangun masa depan yang sejahtera dan adil untuk semua bisa dimulai dari langkah kecil, seperti menyembuhkan satu orang, di satu pondok, di satu desa di Sleman.
Penulis: Leoni Nevia Yesha Ischuo Simarmata
Editor: Relung Fajar Sukmawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Foto: https://www.youtube.com/@pondoktetirahdzikir3946/videos