• Tentang UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM UGM
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
KANAL PENGETAHUAN PSIKOLOGI
  • Beranda
  • E-Learning
    • Kuliah Terbuka
    • Kuliah Tamu
    • Artikel Psikologi
    • Podcast
    • Video Pembelajaran
  • Riset & Publikasi
    • Artikel Riset dan Publikasi
    • 3 Minute Thesis
  • Menara Ilmu
    • Kesehatan Mental Masyarakat
    • Psikologi Indigenous & Budaya
    • Proses Mental & Perilaku
    • Rentang Perkembangan Manusia
    • Psikodiagnostika
    • Pengembangan Kualitas Manusia
  • Tokoh Psikologi
  • Beranda
  • Artikel Psikologi
  • page. 5
Arsip:

Artikel Psikologi

How to Deal with Insecurities?

Artikel Psikologi Tuesday, 17 October 2023

“Kayaknya aku gak layak deh!”

“Kok aku gak kayak yang lain ya?”

Hayo! Siapa yang sering kayak gitu? Nah, perilaku tersebut sering kita jumpai di berbagai kalangan seperti remaja sampai dewasa. Wajar jika kita mengalami kesulitan dan tidak melakukan apapun secara sempurna dalam kehidupan sehari-hari sehingga menimbulkan perilaku membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Hal ini disebut dengan insecure. Perasaan insecure adalah sebuah perasaan ragu, tidak percaya diri, dan cemas yang dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan. Bagaimana tidak? Orang yang insecure akan membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain sehingga menganggap bahwa dirinya tidak layak dan tidak mampu. read more

Berhenti Menjadi People Pleaser: Kiat Untuk Memperkuat Diri

Artikel Psikologi Sunday, 15 October 2023

Apakah kamu sering merasa perlu memuaskan dan memenuhi keinginan orang lain? Apakah kamu tak jarang mengorbankan keinginan pribadi demi mendapatkan persetujuan orang lain? Jika iya, kamu mungkin adalah seorang people pleaser. People pleaser merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada orang yang selalu berusaha melakukan segala yang diperlukan untuk membuat orang lain bahagia.

Tipe orang ini sangat peka terhadap perasaan orang lain dan sering dianggap sebagai individu yang mudah didekati, senang membantu, dan baik hati. Namun, people pleaser juga sering kesulitan untuk membela diri sendiri, yang dapat mengarah pada pola yang merugikan, seperti pengorbanan diri atau self-neglect. Jadi, pada people pleaser, meskipun niat membantu orang lain ini baik, sayangnya perilaku tersebut bisa berdampak negatif pada kesejahteraan diri sendiri. read more

Sering Dianggap Self Love Padahal Bukan, Apa Saja? Pahami Agar Tidak Terkecoh!

Artikel Psikologi Wednesday, 20 September 2023

Kita seringkali mencari cinta dari orang lain sebelum mencarinya dalam diri sendiri. Namun, banyak yang mulai mengalihkan fokus tersebut ke dalam diri sendiri saat merenungkan makna dan tujuan self-love. Meskipun bukan istilah baru, konsep self-love semakin popular dalam beberapa tahun terakhir. Banyak yang mulai menyadari hubungan antara self-love dan kesehatan mental. Lebih jauh lagi, banyak orang merasakan keadaan di mana mereka membutuhkan cinta dari diri sendiri sebesar cinta yang dibutuhkan dari orang lain. Seringkali, kritik terhadap konsep self-love muncul. Namun, kritik ini didasarkan pada kesalahpahaman. Untuk membantu memperjelas, mari kita perjelas apa yang bukan termasuk self-love namun sering disalahpahami sebagai self-love. read more

Online Disinhibition Effect: Ketika Sisi Maya Lebih Terbuka

Artikel Psikologi Monday, 18 September 2023

Pernahkah kalian merasa bahwa saat menggunakan media sosial, kalian menjadi sosok yang lain? Apakah kalian menjadi lebih bebas dalam mengutarakan sesuatu di media sosial dibanding di dunia nyata? Jika iya, kalian sedang merasakan online disinhibition effect.

Nah, apa sih online disinhibition effect itu?

Istilah online disinhibition effect pertama kali diperkenalkan oleh John Suler pada 2004. Ia mengungkapkan bahwa online disinhibition effect merupakan suatu kondisi akibat berkurangnya kekangan saat seseorang berada di media sosial. Orang-orang menjadi lebih terbuka, nyaman, dan bebas dalam mengekspresikan diri mereka. Oleh karena itu, saat bermedia sosial, orang dapat mengungkapkan dan melakukan hal-hal yang tidak dilakukan di dunia nyata. read more

Oversharing di Media Sosial : Batasan dan Tips Mengatasinya

Artikel Psikologi Sunday, 27 August 2023

Kita sering berbicara tentang oversharing dan hilangnya personal space di media sosial. Namun, apa perbedaan antara sharing dengan oversharing? Penelitian tentang pengungkapan diri (sharing) menunjukkan bahwa kita lebih menyukai satu sama lain ketika kita berbagi, tetapi di sisi lain, pengungkapan diri yang dianggap tidak pantas secara sosial akan mengurangi rasa suka. Namun, bagaimana batasan hal yang kita bagikan di media sosial dapat memengaruhi cara pandang orang lain? Berikut ini merupakan beberapa saran yang didukung oleh penelitian tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kita bagikan di media sosial. read more

Mengenal Personal Boundaries Demi Hidup yang Lebih Nyaman

Artikel Psikologi Saturday, 26 August 2023

Jika dilihat dengan seksama di lingkungan sekitar kita, batas-batas terlihat sekedar berlaku sebagai pemisah antara dua bidang. Tembok yang memisahkan dua buah bangunan atau batas wilayah yang terpisahkan oleh sungai. Merefleksikan ke dalam diri kita, ternyata membangun batasan juga diperlukan dalam konteks manusia. Pada kehidupan sosial yang kompleks ini, terhubung dan membangun relasi dengan individu lain menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Namun, acapkali kita terjebak dalam lingkaran yang tidak berujung dimana kita terlalu banyak menyerap beban di luar tanggung jawab kita. Melelahkan bukan? Namun, penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dan preferensi yang berbeda sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. read more

Romantisasi Mental Illness di Sosial Media, Bagaimana Dampaknya?

Artikel Psikologi Friday, 25 August 2023

Isu kesehatan mental menjadi hal yang semakin banyak dibahas dan diperhatikan akhir-akhir ini. Masyarakat tampaknya mulai menyadari pentingnya kesehatan mental dalam lingkup kehidupan. Hal tersebut diiringi dengan penggunaan media sosial yang semakin meningkat, yang mana pada masa sekarang ini, penyebaran informasi menjadi lebih cepat melalui sosial media. Informasi apapun dari sumber manapun dapat diakses oleh semua orang. Tidak jarang, hal tersebut berujung pada maraknya fenomena self-diagnose sebagai salah satu akibat dari romantisasi gangguan mental.  read more

Fatherlessness: Menilik Pentingnya Peran Ayah Terhadap Perkembangan Anak

Artikel Psikologi Friday, 25 August 2023

Pada Mei 2023, media sosial diramaikan dengan pemberitaan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia sebagai fatherless country. Meskipun setelah ditilik lebih lanjut tidak ada publikasi ilmiah yang jelas terkait peringkat itu, tapi fenomena ini tetap perlu mendapat sorotan karena faktanya masih banyak anak di Indonesia yang tumbuh dan berkembang tanpa figur ayah. Hal ini terbukti dari surveiyang dirilis KPAI pada 2015 yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak masih tergolong kurang. Kurang dari 40% ayah yang mencari informasi terkait praktik pengasuhan anak yang baik. Praktik pengasuhan anak oleh ayah pada fase awal kehidupan anak hanya 69,9%, lebih rendah dari ibu yang sebesar 89,9%. Selain itu, banyak ayah yang ditemui kurang aktif dan inisiatif dalam berdiskusi dengan anak. 

Kekuatan Growth Mindset: Ada Kesuksesan Setelah Kegagalan

Artikel Psikologi Monday, 14 August 2023

Dinda adalah seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang memiliki kesulitan dalam memahami pelajaran Bahasa. Suatu hari, guru Dinda membagikan hasil ulangan pelajaran Bahasa di kelas. Ternyata Dinda gagal dalam ujian tersebut karena nilainya sangat rendah. Dinda ingin lulus pada mata pelajaran Bahasa. Dinda memiliki keyakinan bahwa dirinya dapat menguasai pelajaran Bahasa dengan cara lebih gigih belajar. Dinda mulai mengubah cara belajarnya agar semakin efektif dengan cara meminta kepada temannya untuk belajar bersama, meluangkan waktu dua jam sehari untuk belajar Bahasa di rumah, memanfaatkan internet untuk mencari berbagai sumber yang menyediakan soal-soal latihan, dan bertanya kepada guru di sekolah terkait materi yang tidak dipahaminya. Dinda berhasil mendapatkan nilai 100 pada ujian akhir semester. read more

Ketika Cinta Berbicara: 5 Love Language Gary Chapman

Artikel Psikologi Friday, 11 August 2023

Anda disini pasti sudah sering mendengar istilah love language atau bahasa cinta bukan? Bahkan mungkin Anda sudah pernah mencoba tes online untuk mengetahui bahasa cinta diri Anda sendiri. Akan tetapi, sebenarnya, apa sih bahasa cinta itu? Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai konsep dari bahasa cinta yang dicetuskan oleh Gary Chapman, Yuk kita simak bersama!

Sebelum membahas tentang konsep dari 5 bahasa cinta, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan pencetusnya, yaitu Gary Chapman. Gary Chapman dikenal karena mengembangkan konsep “Lima Bahasa Cinta” atau secara umum dikenal dengan istilah 5 love languages. Konsep ini membantu individu dalam mengungkapkan dan menerima ekspresi cinta melalui lima bentuk komunikasi yang berbeda. Menurut pandangan Chapman, meskipun semua orang cenderung menikmati kelima bahasa cinta dalam tingkat yang bervariasi, biasanya seseorang memiliki satu bahasa cinta utama yang lebih dominan atau menjadi preferensi dalam komunikasi cinta mereka. 

Buku The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate adalah buku pertama yang mempromosikan konsep lima bahasa cinta. Chapman juga menulis buku konsep lima bahasa cinta untuk orang tua, anak-anak serta remaja, dewasa lajang, dan versi khusus untuk pria. Selanjutnya, ia menulis buku lima bahasa permintaan maaf bersama Dr. Jennifer Thomas dan ikut menulis buku The 5 Languages of Appreciation in the Workplace bersama Dr. Paul White.

Demikian untuk perkenalannya, sekarang, yuk kita telisik lebih lanjut mengenai konsep love language!

Bahasa cinta atau love language merupakan sebuah konsep cara pandang terhadap kebutuhan yang dirasakan oleh pasangan dalam menjalin sebuah hubungan. Chapman percaya bahwa individu memiliki beberapa tipe kebutuhan tertentu yang membuat ia merasa dicintai sehingga kualitas hubungan menjadi dapat meningkat. Bahasa cinta dapat digunakan seseorang untuk mengekspresikan rasa cintanya pada individu lain, tidak terbatas hanya untuk pasangan romantisnya saja.

Macam-Macam Love Language

Setiap individu memiliki kecenderungan untuk merasakan kasih sayang dalam semua lima bahasa cinta ini. Akan tetapi, setiap individu memiliki kecenderungan untuk memiliki bahasa cinta yang lebih dominan daripada yang lainnya atau bahasa cinta utama mereka. Chapman mengategorikan bahasa cinta menjadi 5 aspek, yakni words of affirmation, quality time, acts of service, receiving gifts, dan physical touch.

=&1=&

Kata-kata memegang peran yang signifikan dalam mengekspresikan rasa kasih sayang sehingga individu yang memiliki kecenderungan untuk mengutamakan bahasa cinta ini akan merasa dihormati serta dicintai ketika menerima pujian dan ucapan positif lainnya.

=&2=&

Mendapatkan perhatian penuh tanpa gangguan adalah hal yang sangat berharga bagi individu yang memiliki preferensi pada bahasa cinta ini. Individu yang memandang quality time sebagai bahasa cinta utama mereka akan merasa dihargai dan dicintai saat dapat menghabiskan waktu bersama orang yang mereka kasihi dan menerima perhatian sepenuhnya.

=&3=&

“Actions speak louder”. Individu yang memiliki preferensi pada bahasa cinta ini akan merasa dicintai ketika menerima bantuan atau tindakan yang melayani dari orang yang ia kasihi. Misalnya, sesederhana membukakan pintu mobil, bantuan membawa barang, dan tindakan-tindakan lain yang bertujuan untuk membantu atau melayani individu tersebut.

=&4=&

Hadiah atau pemberian dari orang yang dicintai akan membuat individu yang memiliki kecenderungan dominan pada bahasa cinta ini akan merasa senang dan dicintai. Individu tersebut tidak memandang nilai materi dari hadiah tersebut karena pertimbangan utamanya adalah kasih sayang dan perhatian yang diterima bersamaan melalui hadiah tersebut.

=&5=&

Physical touch tidak terbatas hanya pada pelukan dan belaian, melainkan semua bentuk sentuhan fisik, seperti berpegangan tangan, tepukan di kepala atau dikenal dengan istilah populer baru-baru ini, yaitu pat pat, dan sentuhan-sentuhan lain yang menyiratkan kasih sayang di baliknya. Individu dengan preferensi bahasa cinta ini akan merasa dicintai ketika mendapatkan sentuhan-sentuhan tersebut.

Implikasi Love Language pada Kehidupan Sehari-hari

Seorang terapis pernikahan dan keluarga di Los Angeles menyatakan bahwa beberapa orang sering melaporkan bahwa dirinya tidak merasa dicintai, meskipun pasangan mereka berusaha untuk menyatakan rasa cintanya tersebut. Pasangan seringkali salah paham terkait kebutuhan satu sama lain yang memiliki konsekuensi bahwa ia tidak begitu merasa dicintai. Hal ini bukan karena mereka tidak berusaha untuk saling terhubung, melainkan karena mereka memiliki cara yang berbeda dalam merasakan dan menerima cinta. 

Mengajarkan pasangan untuk menyatakan cinta mereka dengan cara yang sesuai untuk masing-masing individu akan mengarah pada hubungan yang lebih harmonis. Dalam prakteknya, mempelajari bahasa cinta satu sama lain antar-pasangan dapat meningkatkan koneksi dan perasaan kedekatan di antara pasangan.

Konsep bahasa cinta ini mendorong kita untuk memperlakukan orang yang kita kasihi sebagaimana mereka ingin diperlakukan daripada memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Apabila tujuan kita adalah untuk menunjukkan kepedulian atau rasa cinta kepada pasangan kita, melakukannya dengan cara yang disenangi dan/atau bermakna bagi pasangan Anda dapat memungkinkan pasangan Anda akan menerima pesan cinta tersebut. Menerapkan konsep bahasa cinta terhadap orang yang Anda kasihi dan sebaliknya dapat membantu Anda menjadi lebih dekat dengan orang terkasih. Hal ini karena saat Anda mengetahui bagaimana Anda merasakan cinta dan juga memahami cara pasangan Anda merasakan cinta, hal tersebut dapat membantu Anda menciptakan hubungan yang bermakna dan sehat.

Sebagai tambahan, konsep bahasa cinta ini tidak hanya dapat diimplementasikan kepada pasangan saja lho! Konsep love language telah diadaptasi untuk diterapkan juga pada tempat kerja. Gary Chapman dan Paul White menerbitkan buku berjudul

The 5 Languages of Appreciation in the Workplace read more

1…34567
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
fpsi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 ext 158
+62 (274) 550435

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY