
Banyak orang percaya bahwa spiritualitas berpengaruh terhadap perkembangan nilai moral pribadi. Asumsi ini juga diperkuat dengan bukti-bukti yang menyatakan bahwa individu dengan landasan spiritual kuat cenderung tidak mudah terlibat dalam hal-hal yang melanggar moral, seperti kecurangan akademis. Sayangnya, kecurangan akademis masih sering terjadi, bahkan di negara-negara dengan tingkat religiusitas yang tinggi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara religiusitas yang menekankan integritas dan kejujuran dengan perilaku siswa dalam lingkungan akademis. Berbagai bentuk kecurangan akademis, seperti plagiat, copy-paste dari internet, menyontek, dan sebagainya sudah menjadi hal yang cukup familiar di masyarakat. Lalu, bagaimana sebenarnya peran spiritualitas dalam lingkup pendidikan?
Artikel ini akan membahas secara ringkas hasil riset yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Psikologi UGM bersama beberapa pusat studi lainnya mengenai hubungan antara tingkat spiritualitas dan persepsi terhadap kecurangan akademik.
Bagaimana fakta kecurangan akademis di negara religius?
Salah satu negara dengan jumlah penganut agama yang tinggi adalah Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia, sekitar 61,3% dari total populasi adalah Muslim, sementara di Indonesia persentasenya bahkan mencapai 87,2%. Dominasi angka tersebut menunjukkan tingkat spiritualitas yang lebih tinggi di kedua negara apabila dibandingkan dengan masyarakat di negara lainnya. Namun, meskipun identik dengan nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas, berbagai tindak kecurangan tentu masih sering terjadi. Di Indonesia, misalnya, praktik kecurangan akademis banyak ditemukan di sekolah, mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat siswa yang terbiasa melakukan tindakan tidak etis berisiko lebih tinggi untuk mengulang perilaku serupa di dunia kerja. Dalam jangka panjang, perilaku tersebut dapat memperbesar peluang munculnya praktik-praktik korupsi di masa mendatang.
Di sisi lain, meskipun Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tetapi keduanya memiliki perbedaan dalam konsep dan pendekatannya. Indonesia menerapkan pendekatan yang lebih beragam karena adanya akulturasi dari berbagai budaya dan kepercayaan pra-Islam, sehingga praktik Islam didorong oleh kekuatan masyarakat sipil dengan konsep bottom up. Sementara itu, perkembangan Islam di Malaysia cenderung konservatif dan homogen dengan peran aktif dari pemerintah yang membuat pendekatan Islam lebih bersifat top-down.
Perbedaan ini berdampak pada penerapan tata kelola Islam dan cara pandang masyarakat terhadap integritas. Di negara seperti Malaysia, di mana sistem pendidikan mengintegrasikan nilai-nilai Islam, terdapat hubungan erat antara norma agama dengan penilaian moral, sehingga integritas sangat dikaitkan dengan ketaatan beragama dan keimanan pribadi. Sebaliknya, di Indonesia yang pendekatan penerapan nilai Islamnya lebih longgar, konsep integritas lebih dipengaruhi oleh gabungan nilai keagamaan, budaya, dan etika universal.
Apa perbedaan antara religiusitas dan spiritualitas?
Sering kali konsep religiusitas dan spiritualitas dianggap sama, padahal keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda. Religiusitas umumnya merujuk pada kegiatan formal, seperti bergabung dalam organisasi keagamaan serta mengikuti ibadah atau perayaan tertentu. Konsep ini juga berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap Tuhan maupun kehidupan setelah kematian. Di sisi lain, spiritualitas lebih berfokus pada pengalaman dan keyakinan yang bersifat individual, seperti pencarian makna hidup, nilai-nilai pribadi, dan koneksi batin seseorang. Meskipun berbeda, keduanya saling terkait dan sering kali tumpang tindih sebab banyak individu yang mendapatkan pengalaman spiritual melalui keyakinan dan agama yang mereka anut.
Bagaimana hubungan antara spiritualitas dan persepsi siswa terkait kecurangan akademis?
Individu dengan tingkat spiritualitas tinggi cenderung lebih peka dalam mengenali perilaku-perilaku kecurangan. Aspek spiritualitas yang paling berpengaruh terhadap persepsi siswa tentang kecurangan adalah pemahaman mereka terhadap tujuan dan makna di balik suatu perilaku. Siswa yang memahami hal ini akan menyadari bahwa setiap tindakan mereka memiliki dampak terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, religiusitas dan spiritualitas berperan penting dalam meningkatkan penalaran moral. Pada akhirnya hal tersebut dapat berkontribusi sebagai kontrol untuk mencegah siswa terlibat dalam kecurangan akademis.
Rekomendasi untuk mencegah kecurangan akademis bagi negara religius
- Mengintegrasikan Prinsip Unifying Interconnectedness
Pendidikan spiritual sebaiknya memasukkan prinsip unifying interconnectedness, yaitu menekankan bahwa setiap tindakan curang tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga berdampak negatif pada seluruh komunitas dan sistem secara menyeluruh. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman mendalam tentang pentingnya integritas secara kolektif. - Memperkuat Perceived Behavioral Control
Menciptakan lingkungan yang mendukung dengan penegakan aturan yang adil serta penyediaan sumber daya yang memadai akan membantu mahasiswa dalam mengontrol perilaku etis mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk lebih mudah menyelaraskan tindakan mereka dengan standar moral dan integritas yang diharapkan. - Menanamkan Sense of Purpose Melalui Kurikulum
Program akademik perlu menggabungkan diskusi tentang moral dan etika ke dalam kurikulum, sehingga individu dapat mengembangkan sense of purpose. Dengan memahami bagaimana kontribusi individu dapat selaras dengan nilai-nilai sosial dan spiritual, diharapkan mereka akan lebih termotivasi untuk menjaga integritas dalam studi dan kehidupan sehari-hari.
Penulis: Anargya Salung Narda Prastya
Sumber:
Jamaluddin, S. F., Lufityanto, G., Purba, F. D., Lesmana, C. B. J., Andrianto, S., Ardi, R., Siswadi, A. G. P., Ridfah, A., Kristanto, A. A., Hutapea, B., Suryani, L. K., Wisayanti, S., Achmad, R. A., Zwagery, R. V., Fernandez, E. F., Ismail, R., Ishak, M. S., Zhi, A. C. H., Hashim, I. H. M., . . . Chobthamkit, P. (2024). Spirituality Beyond Religiosity: Understanding perceptions of academic cheating in Indonesia and Malaysia. Jurnal Psikologi, 51(3), 231. https://doi.org/10.22146/jpsi.99452