Tahukah kamu bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi dengan jumlah lansia terbanyak di Indonesia? Hingga Desember 2021, tercatat terdapat lebih dari 637 ribu orang lanjut usia di DIY. Jumlah lansia yang besar ini membuka kemungkinan yang lebih besar pula untuk berbagai masalah pada lansia, salah satunya adalah masalah psikologis.
artikelpsikologi
World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Setengah dari insiden bunuh diri dunia terjadi di negara kawasan Asia, namun di kawasan tersebut perilaku terkait bunuh diri masih kurang diteliti. Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa 40% orang dewasa mengalami ide bunuh diri selama pandemi COVID-19, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 18–24 tahun. Ide bunuh diri ini merupakan faktor risiko utama bagi perilaku dan percobaan bunuh diri.
Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa orang Asia cenderung berhati-hati dalam menyampaikan emosi, bahkan lebih memilih diam demi menjaga hubungan tetap harmonis? Jawabannya ada pada budaya, warisan nilai dan norma yang membentuk cara kita berpikir, merasa, hingga berperilaku. Budaya di Asia menekankan empati dan keharmonisan sehingga orang terbiasa lebih peka terhadap perasaan sesama. Kedekatan budaya dengan kehidupan sehari-hari membuat budaya terus-menerus memengaruhi mentalitas, pikiran, emosi, dan tindakan manusia.
Sejak pandemi COVID-19, istilah Work from Home (WFH) menjadi semakin populer. Berbagai perusahaan terutama di sektor digital seperti startup dengan cepat beradaptasi membentuk tim virtual. Bahkan, pembentukan tim virtual di startup Indonesia mengalami peningkatan sebesar 18% selama masa pandemi. Berbeda dengan tim tradisional yang berada di lokasi yang sama, tim virtual adalah tim kerja yang anggotanya tersebar di berbagai lokasi dan mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi dan berkolaborasi mencapai tujuan. Tren ini bukan hanya sementara. Sebuah survei di tahun 2020 menunjukkan bahwa 70% dari 2.700 pekerja global lebih memilih untuk terus bekerja secara virtual. Lebih lanjut, dari 80% perusahaan global yang menerapkan kebijakan tim virtual selama pandemi, 64% di antaranya kini menjadikan kebijakan tersebut permanen.
Dewasa muda, atau dalam istilah psikologi dikenal dengan emerging adulthood merupakan salah satu fase transisi kehidupan antara masa remaja dan dewasa, yaitu rentang usia 18 hingga 29 tahun. Arnett (2024) menjelaskan masa ini ditandai dengan pencarian identitas, ketidakstabilan serta berfokus pada pengembangan diri. Proses berkaitan dengan keputusan besar dalam hidup, seperti menentukan karier, menjalin hubungan jangka panjang, hingga kemandirian ekonomi maupun emosional.
Tim Hibah Kreativitas Mahasiswa Fakultas Psikologi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus untuk mengupayakan peningkatan kesadaran mengenai sampah serta menambah pengetahuan secara komprehensif dan praktis mengenai sistem pengelolaan sampah yang baik guna mendorong perubahan perilaku dalam memilah dan mengelola sampah secara berkelanjutan. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menumbuhkan perilaku prososial terhadap kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah berbasis komunitas. Untuk mewujudkan hal tersebut, tim berkolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terletak di sasaran lokasi, yaitu Dusun Mejing Wetan, Ambarketawang, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perkembangan sosial dan emosional anak merupakan cerminan dari kematangan sosial dan emosional orang tua. Benarkah demikian? Masa kanak-kanak dipandang sebagai fase krusial dan progresif bagi perkembangan konsep diri, termasuk kemampuan sosio-emosional anak. Orangtua, terutama ibu sebagai figur sosial terdekat bagi anak berperan penting dalam pemberian teladan maupun bimbingan sosial dan emosional yang tepat. Pola pengasuhan yang dilakukan orang tua pada perkembangan ini dapat menjadi sebuah stimulasi atau bahkan penghambat. Data WHO menunjukkan bahwa 20% anak di seluruh dunia mengalami masalah perkembangan sosio-emosional akibat ketidaktepatan pola asuh.
Apakah kalian pernah membaca chat seperti “Baik. Terima kasih pak/bu 🙏”, “menty b banget hari ini.” atau “iyaa siih” ?
Bagi generasi sebelum Gen Z, bahasa atau gaya komunikasi yang digunakan Gen Z itu membingungkan. Lalu, kenapa sih Gen Z punya gaya komunikasi yang berbeda dengan generasi mereka?
Gen Z lebih banyak berkomunikasi lewat sosial media seperti Tik Tok, Instagram, dan X daripada generasi sebelumnya. Bahkan, sosial media seolah-olah menjadi kehidupan kedua bagi mereka karena mereka sangat aktif menggunakan sosial media. Sosial media menjadi salah satu faktor penyebab dari perbedaan gaya komunikasi mereka dengan generasi sebelumnya yang menggunakan struktur kalimat kompleks dan panjang dan cenderung formal.
Akhir-akhir ini, istilah dalam dunia pengasuhan semakin beragam, salah satunya adalah pendekatan gentle parenting. Pendekatan ini semakin populer di kalangan para orang tua setelah banyak tokoh di sosial media yang membuat konten mengenai pendekatan ini. Semakin populernya pendekatan ini menjadi sebuah tanda tanya, apakah pendekatan ini merupakan pendekatan ilmiah, pendekatan yang merujuk pada pendekatan ilmiah tertentu, atau hanya sekedar pendekatan yang populer yang berkembang di masyarakat?
Pernahkah anda merasa kesulitan berhenti scroll social media, meskipun awalnya berniat membuka social media hanya 5-10 menit saja?
Ternyata ini kerap terjadi, terutama ketika aktivitas scrolling ini dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga dalam jumlah pengguna media sosial aktif, dengan total mencapai 143 juta pengguna. Rata-rata, orang Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Angka ini tentu sangat fantastis, bayangkan jika durasi tersebut dialihkan untuk kegiatan yang lebih produktif.