Dewasa muda, atau dalam istilah psikologi dikenal dengan emerging adulthood merupakan salah satu fase transisi kehidupan antara masa remaja dan dewasa, yaitu rentang usia 18 hingga 29 tahun. Arnett (2024) menjelaskan masa ini ditandai dengan pencarian identitas, ketidakstabilan serta berfokus pada pengembangan diri. Proses berkaitan dengan keputusan besar dalam hidup, seperti menentukan karier, menjalin hubungan jangka panjang, hingga kemandirian ekonomi maupun emosional.
SDGs
Tim Hibah Kreativitas Mahasiswa Fakultas Psikologi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus untuk mengupayakan peningkatan kesadaran mengenai sampah serta menambah pengetahuan secara komprehensif dan praktis mengenai sistem pengelolaan sampah yang baik guna mendorong perubahan perilaku dalam memilah dan mengelola sampah secara berkelanjutan. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menumbuhkan perilaku prososial terhadap kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah berbasis komunitas. Untuk mewujudkan hal tersebut, tim berkolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terletak di sasaran lokasi, yaitu Dusun Mejing Wetan, Ambarketawang, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perkembangan sosial dan emosional anak merupakan cerminan dari kematangan sosial dan emosional orang tua. Benarkah demikian? Masa kanak-kanak dipandang sebagai fase krusial dan progresif bagi perkembangan konsep diri, termasuk kemampuan sosio-emosional anak. Orangtua, terutama ibu sebagai figur sosial terdekat bagi anak berperan penting dalam pemberian teladan maupun bimbingan sosial dan emosional yang tepat. Pola pengasuhan yang dilakukan orang tua pada perkembangan ini dapat menjadi sebuah stimulasi atau bahkan penghambat. Data WHO menunjukkan bahwa 20% anak di seluruh dunia mengalami masalah perkembangan sosio-emosional akibat ketidaktepatan pola asuh.
Mungkin, kalau berdomisili di Yogyakarta, kamu nggak asing sama Rumah Sakit Jiwa Grhasia atau Rumah Sakit Khusus Puri Nirmala, salah dua tempat rehabilitasi gangguan jiwa. Tapi, pernah enggak kamu mendengar soal Pondok Tetirah Dzikir? Pondok yang berada di Sleman, Yogyakarta ini telah didirikan semenjak tahun 2001. Sebagai tempat rehabilitasi, Pondok Tetirah Dzikir memadukan pendekatan spiritualitas dan konsep komunitas. Pondok ini juga berusaha membantu individu dengan gangguan jiwa dan individu yang terjebak dalam penyalahgunaan zat psikoaktif sebagai upaya mewujudkan tujuan global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs nomor 3.
Pernahkah anda merasa kesulitan berhenti scroll social media, meskipun awalnya berniat membuka social media hanya 5-10 menit saja?
Ternyata ini kerap terjadi, terutama ketika aktivitas scrolling ini dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga dalam jumlah pengguna media sosial aktif, dengan total mencapai 143 juta pengguna. Rata-rata, orang Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Angka ini tentu sangat fantastis, bayangkan jika durasi tersebut dialihkan untuk kegiatan yang lebih produktif.
Pernahkah kamu merasa bahwa media sosial seolah-olah tahu apa yang kamu pikirkan? Setiap kali kamu scrolling laman media sosial, muncul konten dan info-info yang relevan satu sama lain.
Kok bisa sih?
Ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil kerja keras algoritma yang dirancang untuk memahami kebiasaan kita. Sebenarnya, seberapa besar sih pengaruh algoritma ini? Apakah kita selalu punya kendali dalam melihat informasi atau justru algoritma yang diam-diam membentuk perilaku kita? Yuk, kita kupas lebih lanjut bagaimana algoritma bekerja dan dampaknya bagi keseharian kita.
Perkembangan dalam sistem transaksi keuangan saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak menggunakan uang tunai, kini metode pembayaran non-tunai mulai mengambil alih. Seiring pergeseran menuju ekonomi digital, penggunaan uang elektronik dan transaksi berbasis kartu semakin meningkat. Kemajuan teknologi yang cepat dan mudah diakses turut mendorong pertumbuhan e-commerce, yang memanfaatkannya untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Salah satu inovasi terbaru dalam layanan keuangan digital adalah paylater, sebuah metode pembayaran yang mirip dengan kartu kredit namun tidak memerlukan kartu fisik.
Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta kembali dengan episode terbaru OPSI: Obrolan Psikologi. Pada episode 3 yang tayang Selasa, 6 Mei 2025, pukul 15.00 – 16.00 WIB, tema yang diangkat adalah “Sekolah Sejahtera Pondasi Generasi Emas: Pilar Masa Depan Bangsa”.
Episode ini menghadirkan Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog sebagai narasumber. Diana memiliki minat penelitian dalam pengembangan sistem kesehatan mental dengan pendekatan multilevel, dengan keluarga dan sekolah sebagai peran utama. Bidang keahliannya mencakup Psikologi dan Ilmu Kognitif, dengan fokus pada Psikologi Biologis (Neuropsikologi, Psikofarmakologi, Psikologi Fisiologis) serta Psikologi Kesehatan, Klinis, dan Konseling. Beliau juga aktif dalam berbagai asosiasi profesional dan aktif melakukan berbagai penelitian bersama Center for Public Mental Health (CPMH) Psikologi UGM.
Apa itu self love? Bagaimana agar self love tidak menjadi berlebihan? Bagaimana konsep selfless dan pengaruhnya bagi kehidupan ini? Apakah selfless sama dengan people pleasure? Yuk, baca artikel ini sampai tuntas.
=&0=&=&1=&
Self love hanyalah istilah yang berkembang dalam psikologi modern dan semakin populer di kalangan masyarakat saat ini. Wajar saja jika definisi self love tidak akan pernah dapat kita temui di definisi para tokoh psikologi karena memang tidak ada satupun individu yang dilabeli sebagai penemu konsep ini. Namun, terdapat beberapa tokoh penting dalam psikologi yang mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan self love. Gagasan para tokoh tersebut akan membangun paradigma berpikir kita tentang self love.
Pertama yakni konsep self acceptance (penerimaan diri) yang digagas oleh Carl Rogers, seorang tokoh utama psikologi humanistik. Rogers menyatakan bahwa untuk mencapai potensi terbaiknya, manusia perlu untuk menerima secara utuh dirinya tanpa syarat apapun. Saat manusia mampu menerima kondisi dirinya, baik kelebihan maupun kekurangannya, maka ia akan merasakan kesejahteraan emosional.
Konsep kedua adalah self esteem (harga diri) yang dicetuskan oleh Nathaniel Branden. Branden mengemukakan bahwa harga diri terdiri dari dua elemen utama, yaitu rasa layak dan rasa kompetensi. Rasa layak berhubungan dengan sejauh mana seorang individu yakin bahwa dirinya layak untuk bahagia, sukses, dan dihormati terlepas dari semua kekurangan dan kesalahan yang pernah dibuatnya. Elemen rasa kompetensi mencakup kepercayaan diri untuk menyelesaikan tugas harian sekaligus tantangan kehidupan.
Selanjutnya terdapat pula konsep self compassion (belas kasih pada diri sendiri) yang dikembangkan oleh Kristin Neff. Belas kasih pada diri sendiri dibutuhkan terutama saat diri sedang mengalami kegagalan. Alih-alih mengkritik diri dengan sangat keras saat gagal, seseorang yang memiliki belas kasih pada diri sendiri akan lebih memilih untuk berkata, “Kegagalan ini memang menyakitkan, tetapi semua orang pasti mengalami kegagalan. Saya akan belajar dari pengalaman ini dan memberikan diri saya izin untuk memperbaiki kesalahan”.
Ada pula konsep authenticity (keaslian diri) oleh Brene Brown. Nah, keaslian diri ini sangat erat kaitannya dengan menjadi diri sendiri yang asli, jujur, dan tidak terpengaruh oleh ekspektasi atau penilaian orang lain. Agama juga menegaskan pentingnya mengenal diri sendiri yang asli, karena ia dapat menjadi jalan untuk lebih memahami tujuan hidup serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus sesama manusia.
Berdasarkan pemaparan tentang konsep psikologi yang erat kaitannya dengan self love, kita dapat memahami bahwa self love sangat dekat dengan perasaan cukup pada diri sendiri. Ringkasnya, self love muncul saat seseorang mampu mengenal dirinya dengan baik, menerima setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, menghargai diri sendiri, dan memberikan cinta kasih pada diri dengan ikhlas tanpa syarat apapun.
=&2=&=&3=&=&4=&
Self love memang baik karena ia mencakup cinta dan perhatian terhadap diri sendiri, namun bisa jadi berbahaya ketika ia dimaknai dan dipersepsikan sebagai pride of self (kekaguman yang besar pada diri sendiri). Ketika hal ini terjadi, maka akibatnya akan terjadi self centered yang mana di dalamnya terdapat egoisme, obsesi diri, sangat fokus terhadap diri sendiri, dan mementingkan diri sendiri. Orang yang memiliki self love ekstrem cenderung memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk mencapai ambisi yang diinginkan.
Self love ekstrem perlu diwaspadai karena dapat memicu timbulnya permasalahan psikis yang lebih parah, seperti contohnya Narcissistic Personality Disorder (NPD). NPD ditandai dengan adanya pikiran dan perilaku sombong, manipulatif, tidak memiliki empati, merasa ada kebutuhan untuk dikagumi, merasa dirinya harus menjadi pusat, dan menyeru orang lain untuk mendengarkan dirinya. Selain NPD, gangguan kepribadian yang erat kaitannya dengan self centered adalah psikopat, sosiopat, bipolar, dsb.
“Wah, berarti semisal ada orang yang egois banget, maka dapat diartikan dia memiliki indikasi gangguan kepribadian, dong? Contohnya, orang yang lebih mementingkan me time dengan dalih self love padahal sebenarnya dia harus menghadiri rapat atau kepentingan umum lainnya”.
Eits, tidak segampang itu, ya. Gangguan kepribadian dapat ditegakkan hanya oleh tenaga profesional, yaitu psikolog klinis atau psikiater. Jadi, jangan asal menuduh orang-orang sekitar yang menurut pandangan kita egois sebagai pengidap gangguan kepribadian tertentu, ya.
Nah, di pembahasan berikutnya mari membahas tentang konsep selfless. Hm, kok kontradiksi ya dengan self love? Memang secara sekilas terdengar kontradiksi, namun sebenarnya selfless merupakan sebuah topik yang berkembang di literatur psikologi yang menekankan tentang perilaku tanpa pamrih. Selfless bisa menjadi opsi untuk meruntuhkan benteng keegoisan pada diri manusia. Menariknya, selfless juga dibahas pada literatur keagamaan. Penasaran, kan? Yuk, simak bareng-bareng paparan berikut.
=&5=&=&6=&
Teman-teman pasti percaya bahwa cara pandang manusia turut dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Kemudian, cara seseorang berpikir dan memandang sesuatu juga memengaruhinya dalam bersikap. Contoh, kehidupan pasca kematian. Bagi manusia yang tidak percaya maka ia akan menjadikan kehidupan sebagai ajang untuk menjadi yang tercantik, terkaya, tersukses, terbesar, dan ter- lainnya sampai menghalalkan segala macam cara hanya demi memuaskan ambisi hidupnya. Lain halnya dengan orang yang percaya bahwa terdapat kehidupan setelah kematian, ia akan mencoba menjalani hidup dengan bijak, hati-hati, tidak terlalu mengambisikan dunia, dan meyakini bahwa tidak ada manusia besar selain Tuhan yang Maha Besar.
Psikologi mengkaji sebuah topik yang masih belum dipahami oleh banyak orang, yakni
selflessness. Selflessness
Pernahkah di antara kita ada yang terkadang merasa lebih mudah lelah tak cuma secara fisik tapi juga mental? Nah, ini sebenarnya ada kaitannya dengan bagaimana kita mengefisienkan energi/ cognitive resources yang kita punya dalam menjalankan peran kita dalam kehidupan sehari-hari. Efisiensi cognitive resource mengacu pada cara kita mengelola dan mengoptimalkan resource kita untuk mencapai tujuan hidup dengan lebih efektif.