Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa orang Asia cenderung berhati-hati dalam menyampaikan emosi, bahkan lebih memilih diam demi menjaga hubungan tetap harmonis? Jawabannya ada pada budaya, warisan nilai dan norma yang membentuk cara kita berpikir, merasa, hingga berperilaku. Budaya di Asia menekankan empati dan keharmonisan sehingga orang terbiasa lebih peka terhadap perasaan sesama. Kedekatan budaya dengan kehidupan sehari-hari membuat budaya terus-menerus memengaruhi mentalitas, pikiran, emosi, dan tindakan manusia.
Lalu, Bagaimana dengan Budaya di Indonesia?
Artikel ini akan mengulas hasil penelitian yang dilakukan oleh Sheilla V. Peristianto, M. A. Subandi, dan Muhana S. Utami tentang rasa rumangsa yang merupakan bentuk empati dan kesadaran diri dalam konteks budaya Jawa.
Indonesia kaya akan ragam budaya, dan salah satu yang terbesar adalah budaya Jawa. Budaya ini kerap dianggap mewakili Indonesia karena orang Jawa berbaur dengan masyarakat secara luas. Dalam masyarakat Jawa, cara berpikir tidak sekadar membentuk perilaku, tetapi juga melahirkan falsafah hidup yang menjadi pandangan dasar dalam menjalani kehidupan. Falsafah ini selaras dengan keyakinan dan pandangan yang dipegang sebagai nilai dan menjadi sumber motivasi bagi orang Jawa.
Masyarakat Jawa dikenal dengan nilai dan norma sosial yang mengutamakan kolektivitas. Pola pikir kolektivis ini membuat individu lebih peka terhadap norma yang berlaku dan cenderung memprioritaskan kepentingan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa nilai kolektivisme di Jawa berpengaruh pada rendahnya perilaku asertif karena adanya dorongan kuat untuk menjaga keharmonisan di lingkungan.
Sebagai budaya mayoritas di Indonesia, nilai-nilai Jawa seperti guyub rukun (kebersamaan demi kedamaian), gotong royong (saling membantu), dan tepa selira (toleransi) telah menjadi prinsip hidup yang dijunjung tinggi. Hidup rukun dan menjaga hubungan baik mendorong orang Jawa untuk menghindari ekspresi emosi yang tidak terkendali serta lebih berhati-hati dalam bersikap. Penghormatan terhadap orang lain, sikap sopan, dan ramah supaya tidak menyinggung perasaan orang lain berakar pada ciri khas orang Jawa, yakni kehati-hatian.
Apakah ada contoh lain dari perilaku kehati-hatian orang Jawa?
Rasa Rumangsa
Dalam budaya Jawa, salah satu bentuk perilaku hati-hati yang khas adalah rasa rumangsa, yaitu perilaku yang bertujuan untuk menghindari menyinggung orang lain. Nilai ini telah diinternalisasi dan menjadi esensial bagi masyarakat Jawa karena mencakup emosi serta perilaku positif yang membantu individu untuk merasakan, menyadari, dan bertindak untuk menjaga solidaritas sosial. Sebagai bagian dari kearifan lokal, rasa rumangsa dianggap sebagai karakter fundamental sekaligus inti dari pengetahuan dalam psikologi Jawa. Dengan menerapkannya, individu tidak hanya mampu menilai dirinya sendiri, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, pengingat diri, serta empati. Secara psikologis, rasa rumangsa erat kaitannya dengan dua konsep penting, yakni empati dan kesadaran diri.
Apa itu Kesadaran Diri?
Kesadaran diri merupakan kapasitas individu untuk memusatkan perhatian pada dirinya sendiri guna melakukan evaluasi, memahami kekuatan dan kelemahannya, serta menyadari dampaknya terhadap orang lain. Dengan kesadaran diri, seseorang mampu menghubungkan pikiran, perasaan, dan tindakan sehingga lebih mengenali dirinya sendiri sekaligus membangun hubungan sosial yang lebih sehat. Selain itu, kesadaran diri memungkinkan individu mengatur emosi dan mengendalikan diri sesuai tujuan hidupnya. Dalam konteks budaya Jawa, konsep rasa rumangsa sangat relevan karena mengandung elemen pengingat diri, yakni kemampuan untuk menyadari dan mengendalikan diri.
Apa itu Empati?
Empati mencakup dua aspek utama, yaitu kemampuan kognitif untuk memahami dan kemampuan emosional untuk merasakan. Nilai rasa rumangsa relevan dengan konsep empati karena mencakup elemen kognitif berupa kesadaran dan elemen emosional berupa perasaan. Rasa rumangsa juga mengandung sikap yang lebih mendalam, yaitu unsur perilaku untuk selalu berhati-hati terhadap orang lain.
Apa Tujuan Penelitian Ini?
Penelitian ini bertujuan mengembangkan pemahaman tentang rasa rumangsa yang relevan dengan konsep empati dan kesadaran diri.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui kajian literatur, wawancara semi-terstruktur, FGD, dan penyebaran kuesioner. Partisipan adalah ahli budaya Jawa, akademisi psikologi Jawa, anggota komunitas Pelajar Kawruh Jiwa (PKJ), serta masyarakat umum. Berdasarkan kriteria yang ditentukan, terpilih 153 partisipan dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan MAXQDA Analytic Pro 2020 untuk membangun konsep rasa rumangsa.
Apa itu Rasa Rumangsa?
Rasa rumangsa adalah proses memahami diri sendiri, dimulai dari pengakuan diri secara indrawi hingga pemahaman yang lebih dalam yang membantu individu berperilaku sesuai situasi dan menjaga kesejahteraan sosial serta hubungan harmonis dengan orang lain. Proses konstruksi ngerumangsani berlangsung panjang dalam perkembangan individu, dimulai dari: (1) pengalaman sebelumnya, (2) pola asuh atau gaya komunikasi orang tua, (3) olah rasa (analisis diri) yang meliputi nanding sariro (membandingkan), ngukur sariro (mengukur), tepa sariro (toleransi), dan mawas diri (kesadaran diri), (4) pengulangan terus-menerus, dan (5) menjadi kebiasaan ngerumangsani. Dalam praktiknya, rasa rumangsa termanifestasi dalam dua bentuk perilaku, yakni bisa rumangsa dan rumangsa bisa. Bisa rumangsa menggambarkan perilaku altruistik, sedangkan rumangsa bisa lebih condong pada perilaku egosentris.
Rasa rumangsa memiliki dua dimensi, yakni empati dan kesadaran diri. Rasa rumangsa memiliki tiga aspek, yakni kognitif, afektif, dan perilaku. Aspek kognitif dari bisa rumangsa merupakan proses internal untuk melihat diri. Aspek afektif dari bisa rumangsa adalah kemampuan individu untuk merasakan perasaan orang lain. Sedangkan, aspek perilaku dari bisa rumangsa terdiri dari perilaku abstrak dan eksplisit.
Tujuan dari bisa rumangsa mencakup dua aspek, yakni tujuan internal dan eksternal. Tujuan internal untuk mengenali dan memahami diri demi menghindari sikap sombong dan mencapai ketenangan batin, sedangkan tujuan eksternal untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. Faktor-faktor yang memengaruhi rasa rumangsa meliputi intelektualitas, motivasi, dan optimisme. Individu yang mampu mempraktikkan rasa rumangsa atau bisa rumangsa biasanya menunjukkan karakter altruistik, seperti rendah hati, tulus, tidak iri, sederhana, sabar, peduli, santun, menghormati orang lain, mendahulukan kepentingan bersama, gotong royong, bijaksana, taat, dan tatag. Sebaliknya, jika gagal mempraktikkan nilai ini, seseorang dapat terjebak dalam rumangsa bisa, yaitu merasa paling benar dan arogan.
Dampak positif dari penguasaan bisa rumangsa adalah terciptanya kehidupan yang rukun, harmonis, dan penuh rasa syukur. Sedangkan, perilaku rumangsa bisa membawa dampak negatif, seperti suka mencampuri urusan orang lain, membenarkan diri sendiri, atau terlalu percaya diri. Itulah mengapa pepatah Jawa berbunyi, “iso rumangsa, aja rumangsa bisa”, yang mengingatkan agar lebih peka tanpa merasa paling mampu.
Sumber: https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/1354067X251315737
Penulis : Osi Livia S
A Photo by Tara Winstead at Pexel.com