Tahukah kamu bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi dengan jumlah lansia terbanyak di Indonesia? Hingga Desember 2021, tercatat terdapat lebih dari 637 ribu orang lanjut usia di DIY. Jumlah lansia yang besar ini membuka kemungkinan yang lebih besar pula untuk berbagai masalah pada lansia, salah satunya adalah masalah psikologis.
Artikel ini akan mengulas hasil penelitian yang dilakukan oleh Alya Nur Faiza, Nailah ’Ilma Hamuda, Diyan Ulsa, dan Smita Dinakaramani tentang efektivitas reminiscence therapy yang memanfaatkan kearifan lokal dalam mengurangi tingkat depresi pada lansia.
Lansia
Lansia ialah mereka yang berusia 60 tahun ke atas dan telah mengalami berbagai perubahan, baik fisik, mental, maupun sosial. Saat ini, lansia termasuk dalam kelompok rentan yang sering terpinggirkan dari kampanye kesehatan mental. Mereka dianggap sebagai kelompok non-produktif sehingga kondisi psikologis mereka kurang diperhatikan dan diprioritaskan.
Dalam teori Erikson, kelompok lansia sedang memasuki tahap integritas versus keputusasaan. Pada tahap ini, lansia mengalami proses refleksi tentang apa yang telah dilakukan sepanjang hidup mereka. Hasil refleksi yang menemukan kebahagiaan dan pencapaian akan menumbuhkan rasa syukur, sedangkan refleksi yang penuh penyesalan dan kesedihan dapat menimbulkan keputusasaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa lansia membutuhkan dukungan psikologis agar mampu merefleksikan hidup secara positif.
Apa Dukungan Psikologis yang Bisa Diberikan Kepada Lansia?
Salah satu program dukungan psikologis yang banyak digunakan untuk mendukung lansia adalah reminiscence therapy. Terapi ini membantu seseorang untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa menyenangkan dalam hidupnya. Pertama kali diperkenalkan oleh Robert Butler yang percaya bahwa penting untuk mengubah emosi negatif dari masa lalu menjadi positif untuk mencapai integritas diri. Reminiscence therapy kini banyak diterapkan dalam perawatan jangka panjang untuk lansia. Terapi ini kerap digunakan sebagai alat terapeutik untuk mengurangi depresi, menenangkan perilaku, gejala psikologis demensia, atau mempengaruhi suasana hati lansia.
Lalu, apa saja tujuan dari kegiatan reminiscence therapy dalam penelitian ini?
Tujuan kegiatan reminiscence therapy adalah untuk memberdayakan kesehatan mental lansia melalui terapi reminiscence, mencegah, dan mengurangi emosi negatif serta masalah mental pada lansia, meningkatkan kesejahteraan lansia, dan menjadikan reminiscence sebagai rutinitas untuk mempertahankan emosi positif di kalangan lansia.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan 10 partisipan yang berusia lebih dari 60 tahun. Penelitian diawali dengan pemberian pretest menggunakan Geriatric Depression Scale (GDS). Selanjutnya partisipan mengikuti 2 kali sesi reminiscence therapy dalam bentuk kelompok. Terapi yang dilakukan mengadaptasi protokol terapi Stinson’s Protocol for Structured Reminiscence (SPSR). Sesi reminiscence therapy dalam penelitian ini disesuaikan dengan budaya dan latar belakang partisipan, yakni dengan menggunakan seni lokal. Setelah menyelesaikan terapi, partisipan mengisi posttest menggunakan skala yang sama. Dua minggu setelahnya dilakukan follow-up test kepada partisipan. Data penelitian kemudian dianalisis menggunakan Friedman Repeated Measures Test dan dilengkapi dengan hasil observasi pada partisipan.
Apakah Reminiscence Therapy Mampu Mengurangi Depresi pada Lansia?
Penelitian ini menemukan bahwa tingkat depresi para partisipan tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hasil uji menunjukkan bahwa tingkat depresi di antara para partisipan tetap relatif stabil selama tiga periode pengukuran. Hal ini disebabkan karena dalam penelitian ini tidak dilakukan penyaringan terlebih dahulu sehingga partisipan yang ikut serta telah berada dalam kondisi normal sebelum program dimulai.
Dalam aspek kualitatif, hasil observasi dan interaksi mendalam menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan psikologis partisipan, yaitu kenyamanan partisipan saat tinggal di panti jompo dan kondisi psikologis partisipan yang sudah positif sebelum diberikan terapi sehingga jawaban yang diberikan cenderung sama. Meskipun demikian, partisipan mengungkapkan bahwa terapi ini memberikan pengalaman emosional yang bermakna dan kesempatan bagi partisipan untuk berbagi pengalaman mereka.
Apa yang Perlu Menjadi Catatan untuk Penelitian Selanjutnya?
Penelitian di masa depan perlu diawali dengan penilaian awal agar partisipan yang terlibat benar-benar sesuai dengan tujuan terapi. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan faktor budaya dan situasional agar efektivitas program semakin optimal. Pendekatan pada penelitian selanjutnya juga sebaiknya lebih mendalami perasaan dan pengalaman lansia, misalnya melalui wawancara.
Sumber: https://jurnal.ugm.ac.id/jpkm/article/view/99226
Penulis: Osi Livia S
A Photo by Kampus Production at Pexel.com