Bayangkan sosok teman yang paling dekat denganmu saat ini. Mungkin sosok teman yang hampir selalu menemanimu menghabiskan waktu, menjadi partner curhat, atau bahkan di tahap mengetahui banyak hal tentang satu sama lain. Dari semua kedekatan itu, coba renungkan sejenak, apakah kamu benar-benar menaruh kepercayaan kepadanya?
Sebagian besar dari kita, mungkin akan menjawab iya. Selama ini, kedekatan seolah dianggap berjalan beriringan dengan kepercayaan. Sekilas anggapan ini terdengar masuk akal, karena semakin dekat hubungan, waktu yang dihabiskan semakin banyak dan semakin jauh pula hubungan yang dibangun dengan mengenal satu sama lain hingga akhirnya rasa percaya itu bisa tumbuh. Namun, benarkah demikian? Bagaimana jika anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar?
Kita mungkin pernah mendengar atau mengalami situasi ketika orang tidak dapat benar-benar percaya dengan teman dekatnya. Dan sebaliknya, ada juga orang yang dapat memberikan kepercayaan sekalipun hubungan yang dijalin belum betul-betul dekat. Jadi, apakah selama ini kita telah salah mengasumsikan dua hal yang sebenarnya tidak beriringan? Dengan demikian, apakah ada faktor lain yang sebetulnya menjembatani seseorang untuk memberikan kepercayaan?
Kepercayaan Bukan Pelengkap, tapi Fondasi
Sekarang bayangkan bagaimana jadinya menjalani sebuah pertemanan tanpa adanya kepercayaan. Apakah kamu akan benar-benar merasa aman dalam pertemanan tersebut? Pertemanan tanpa kepercayaan hanya akan menjadi sebuah hubungan yang rapuh. Individu membutuhkan rasa percaya agar lebih berani membuka diri dalam pertemanan. Ketika seseorang sudah memiliki kepercayaan, ia akan cenderung berani menunjukkan sisi dirinya yang paling rentan, meminta bantuan ketika sedang terpuruk, hingga yakin bahwa cerita dan rahasianya tidak akan disebarkan. Tanpa kepercayaan, pertemanan hanya akan dilandasi kebersamaan secara fisik, bukan rasa aman secara emosional.
Selain itu, kepercayaan memungkinkan sebuah hubungan dapat berkembang, bertahan, bahkan sampai melindungi individu ketika dihadapkan pada konflik, kekecewaan, dan risiko pengkhianatan. Oleh karenanya, kepercayaan tidak dapat dipandang sebagai pelengkap semata. Lebih dari itu, kepercayaan adalah fondasi untuk sebuah hubungan pertemanan dapat tumbuh.
Dukungan dan Resiprositas sebagai Kunci
Nyatanya, sebuah kepercayaan tanpa dibarengi aksi hanya akan menjadi gema yang cepat menghilang. Pada akhirnya, bukan suara paling keras yang bertahan, melainkan langkah nyata yang maju paling depan. Kepercayaan membutuhkan bukti bahwa seseorang benar-benar eksis dalam hubungan pertemanan.
Lantas, bagaimana dengan kedekatan? Sebelumnya, kita telah mempertanyakan kaitan kedekatan dengan kepercayaan. Pada realitanya, jika kita tilik lebih jauh, seseorang dapat hampir selalu menghabiskan setiap hari bersama temannya, tetapi tetap merasa enggan meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, ada teman yang mungkin tidak selalu hadir dalam setiap momen, tetapi selalu menjadi orang pertama yang dapat diandalkan ketika keadaan memburuk. Kepercayaan tidak lahir karena dua orang sering bertemu atau telah berteman selama bertahun-tahun. Kepercayaan muncul ketika seseorang memilih untuk hadir saat dibutuhkan dan memberikan dukungan tanpa syarat. Setiap aksi menjadi bukti bahwa hubungan tersebut pantas untuk dipertahankan dan orang yang terlibat di dalamnya dapat betul-betul diandalkan.
Dalam prosesnya, kepercayaan juga tidak dapat bertahan jika hanya berjalan satu arah. Oleh karena itu, timbal balik menjadi esensial dalam membangun hubungan pertemanan, yakni dengan saling memberi, menerima, dan membalas dukungan yang telah diberikan. Resiprositas menjadi wujud investasi dari orang-orang yang ada dalam hubungan pertemanan sekaligus menjadi simbol bahwa hubungan berjalan secara seimbang. Dari situlah, kepercayaan perlahan dapat terbentuk dalam hubungan pertemanan.
Riset kuantitatif melibatkan 220 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Psikologi dan Fakultas Teknik turut mengonfirmasi tesis ini. Temuan mengemukakan bahwa dukungan dan resiprositas berpengaruh secara signifikan dalam membangun kepercayaan di hubungan pertemanan. Sementara, kedekatan ditemukan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepercayaan.
Kedekatan Bukan Penentu Kepercayaan
Barangkali yang perlu dipertanyakan adalah bukan seberapa dekat kita dengan seseorang. Kedekatan selamanya akan bermakna nihil dalam hubungan pertemanan jika tidak disertai dengan kualitas relasi yang dibangun di dalamnya. Pada akhirnya, lamanya hubungan atau intensnya pertemuan tidak menjadi penting, karena kepercayaan hanya mengingat siapa yang benar-benar hadir.
Sumber:
Firmansyah, M. R., Faturochman, F., & Minza, W. M. (2021). Do closeness, support, and reciprocity influence trust in friendship?. Jurnal Psikologi Sosial, 19(1), 59-68. https://doi.org/10.7454/JPS.2021.07
Penulis : Lusiana Dewi
Editor : Osi Livia S
Foto: canva.com