Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling bermakna adalah keluarga…
Potongan lirik lagu syahdu yang berjudul Keluarga Cemara ini menyampaikan makna bahwa keluarga yang hangat, rukun, dan saling mendukung adalah kekayaan terbesar yang tidak dapat ditukar dengan materi apa pun. Itulah mengapa banyak penelitian psikologi yang menegaskan bahwa keluarga adalah fondasi pertama dan utama dalam membentuk dan menjaga kesejahteraan psikologis seseorang. Seseorang dengan kesejahteraan psikologis yang baik cenderung memiliki resiliensi diri, tidak pantang menyerah, dan jauh dari kemungkinan mengalami depresi.
Namun realitanya, tidak semua remaja tumbuh di keluarga yang bahagia. Ada beberapa remaja yang menelan kenyataan pahit bahwa keluarganya tidak utuh, entah karena perceraian atau kematian. Di sisi lain, ada pula remaja yang secara struktural keluarganya masih utuh, tetapi tidak berfungsi dengan optimal. Tentu saja, kondisi ini membuat remaja mengalami penurunan kesejahteraan psikologis. Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa remaja yang tumbuh dari keluarga tidak utuh identik dengan kesejahteraan psikologis yang rendah. Bukan hanya itu saja, tetapi kemampuan mencapai prestasi akademik pun juga mengalami penurunan.
Kesejahteraan psikologis pada remaja tidak bisa dipandang sebelah mata karena berkaitan dengan kapasitas individu untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Lantas, apakah remaja dengan latar belakang keluarga tidak utuh akan selalu memiliki nasib tidak dapat berprestasi dan tidak sejahtera secara psikologis? Atau sebenarnya, ada kondisi khusus yang mampu mengeluarkan mereka dari jerat kemalangan itu?
Keluarga Tidak Utuh, Apakah Selalu Berdampak Buruk?
Selama ini, keluarga yang tidak utuh sering dianggap dapat membuat anak atau remaja lebih rentan mengalami masalah psikologis dan kesulitan dalam belajar. Namun, penelitian dengan jumlah partisipan 201 ini menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar. Dalam masyarakat dengan sistem kekerabatan matrilineal, kondisi keluarga, baik utuh maupun tidak utuh, tidak secara otomatis menentukan kesejahteraan psikologis maupun prestasi akademik seseorang.
Salah satu hal yang menarik adalah peran lingkungan tempat tinggal. Tinggal bersama keluarga inti atau keluarga besar ternyata tidak membuat perbedaan yang berarti terhadap kesejahteraan psikologis dan prestasi akademik peserta penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan bersama keluarga besar dapat menjadi bagian dari lingkungan sosial yang mendukung. Kehadiran nenek, kakek, paman, bibi, atau anggota keluarga lainnya bisa memberikan tempat untuk berbagi cerita, mendapatkan bantuan, dan merasa memiliki orang-orang yang dapat diandalkan.
Dengan kata lain, yang paling penting bukan hanya keluarganya seperti apa, tetapi juga hubungan yang terjadi di dalam keluarga seperti apa. Anak yang berasal dari keluarga tidak utuh tetap dapat tumbuh dengan baik ketika ia mendapatkan kasih sayang, dukungan, rasa aman, dan hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, keluarga yang terlihat utuh pun belum tentu menjadi lingkungan yang mendukung apabila di dalamnya terdapat konflik, kurangnya komunikasi, atau minimnya dukungan emosional.
Temuan ini mengajak kita untuk melihat keluarga dengan cara yang lebih luas. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa keluarga tidak utuh berarti anak akan mengalami masalah atau memiliki prestasi yang lebih rendah. Setiap individu tumbuh dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda. Dalam masyarakat matrilineal, keberadaan keluarga besar dan jaringan sosial di sekitarnya dapat menjadi sumber kekuatan yang membantu individu tetap merasa didukung. Jadi, daripada hanya melihat apakah sebuah keluarga “utuh” atau “tidak utuh”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa saja yang hadir, bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain, dan seberapa besar dukungan yang diterima individu di dalamnya.
Sumber:
Hartati, N., Adiyanti, M., Mirza, W., & Yuniarti, K. (2021). Psychological well-being and academic achievement of Minang students viewed from family structure and living arrangements. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 6(1), 55-66. https://doi.org/10.23917/indigenous.v6i1.11156
Penulis: Relung Fajar Sukmawati
Editor: Osi Livia S
Foto: Nathan Dumlao Unsplash