Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan TVRI Yogyakarta menghadirkan program talk show interaktif mingguan berjudul OPSI: Obrolan Psikologi. Episode perdana yang tayang pada Selasa, 15 April 2025, pukul 15.00-16.00 WIB, mengangkat tema “Menguak Fenomena Brain Rot”.
Akhir-akhir ini di jagat maya, istilah “brain rot” sering muncul sebagai perbincangan di media sosial. Istilah ini muncul pada platform media sosial populer seperti TikTok. Sebenarnya penggunaan istilah mulai dikenalkan oleh komunitas media sosial di kalangan generasi Z dan Alpha. Oxford menobatkan brain rot sebagai “word of the year” pada tahun 2024. Hal tersebut terjadi setelah Oxford menghimpun suara publik selama dua minggu dengan total partisipan sejumlah 37.000 orang. Tim bahasa Oxford menyusun daftar pendek yang berisi enam kata yang mencerminkan suasana dan tren percakapan selama tahun 2024. Kemudian, melakukan pemungutan suara dan penghitungan hingga memutuskan brain rot sebagai word of the year versi Oxford.
Artikel ini akan membahas secara ringkas hasil riset yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Psikologi UGM bersama beberapa pusat studi lainnya mengenai hubungan antara tingkat spiritualitas dan persepsi terhadap kecurangan akademik.
Bagaimana fakta kecurangan akademis di negara religius?
Salah satu negara dengan jumlah penganut agama yang tinggi adalah Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia, sekitar 61,3% dari total populasi adalah Muslim, sementara di Indonesia persentasenya bahkan mencapai 87,2%. Dominasi angka tersebut menunjukkan tingkat spiritualitas yang lebih tinggi di kedua negara apabila dibandingkan dengan masyarakat di negara lainnya. Namun, meskipun identik dengan nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas, berbagai tindak kecurangan tentu masih sering terjadi. Di Indonesia, misalnya, praktik kecurangan akademis banyak ditemukan di sekolah, mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat siswa yang terbiasa melakukan tindakan tidak etis berisiko lebih tinggi untuk mengulang perilaku serupa di dunia kerja. Dalam jangka panjang, perilaku tersebut dapat memperbesar peluang munculnya praktik-praktik korupsi di masa mendatang.
Di sisi lain, meskipun Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tetapi keduanya memiliki perbedaan dalam konsep dan pendekatannya. Indonesia menerapkan pendekatan yang lebih beragam karena adanya akulturasi dari berbagai budaya dan kepercayaan pra-Islam, sehingga praktik Islam didorong oleh kekuatan masyarakat sipil dengan konsep bottom up. Sementara itu, perkembangan Islam di Malaysia cenderung konservatif dan homogen dengan peran aktif dari pemerintah yang membuat pendekatan Islam lebih bersifat top-down.
Perbedaan ini berdampak pada penerapan tata kelola Islam dan cara pandang masyarakat terhadap integritas. Di negara seperti Malaysia, di mana sistem pendidikan mengintegrasikan nilai-nilai Islam, terdapat hubungan erat antara norma agama dengan penilaian moral, sehingga integritas sangat dikaitkan dengan ketaatan beragama dan keimanan pribadi. Sebaliknya, di Indonesia yang pendekatan penerapan nilai Islamnya lebih longgar, konsep integritas lebih dipengaruhi oleh gabungan nilai keagamaan, budaya, dan etika universal.
Apa perbedaan antara religiusitas dan spiritualitas?
Sering kali konsep religiusitas dan spiritualitas dianggap sama, padahal keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda. Religiusitas umumnya merujuk pada kegiatan formal, seperti bergabung dalam organisasi keagamaan serta mengikuti ibadah atau perayaan tertentu. Konsep ini juga berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap Tuhan maupun kehidupan setelah kematian. Di sisi lain, spiritualitas lebih berfokus pada pengalaman dan keyakinan yang bersifat individual, seperti pencarian makna hidup, nilai-nilai pribadi, dan koneksi batin seseorang. Meskipun berbeda, keduanya saling terkait dan sering kali tumpang tindih sebab banyak individu yang mendapatkan pengalaman spiritual melalui keyakinan dan agama yang mereka anut.
Bagaimana hubungan antara spiritualitas dan persepsi siswa terkait kecurangan akademis?
Individu dengan tingkat spiritualitas tinggi cenderung lebih peka dalam mengenali perilaku-perilaku kecurangan. Aspek spiritualitas yang paling berpengaruh terhadap persepsi siswa tentang kecurangan adalah pemahaman mereka terhadap tujuan dan makna di balik suatu perilaku. Siswa yang memahami hal ini akan menyadari bahwa setiap tindakan mereka memiliki dampak terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, religiusitas dan spiritualitas berperan penting dalam meningkatkan penalaran moral. Pada akhirnya hal tersebut dapat berkontribusi sebagai kontrol untuk mencegah siswa terlibat dalam kecurangan akademis.
Rekomendasi untuk mencegah kecurangan akademis bagi negara religius
Pendidikan spiritual sebaiknya memasukkan prinsip unifying interconnectedness, yaitu menekankan bahwa setiap tindakan curang tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga berdampak negatif pada seluruh komunitas dan sistem secara menyeluruh. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman mendalam tentang pentingnya integritas secara kolektif.
Menciptakan lingkungan yang mendukung dengan penegakan aturan yang adil serta penyediaan sumber daya yang memadai akan membantu mahasiswa dalam mengontrol perilaku etis mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk lebih mudah menyelaraskan tindakan mereka dengan standar moral dan integritas yang diharapkan.
Program akademik perlu menggabungkan diskusi tentang moral dan etika ke dalam kurikulum, sehingga individu dapat mengembangkan sense of purpose. Dengan memahami bagaimana kontribusi individu dapat selaras dengan nilai-nilai sosial dan spiritual, diharapkan mereka akan lebih termotivasi untuk menjaga integritas dalam studi dan kehidupan sehari-hari.
Contoh, nih, ada seorang mahasiswa akhir yang awalnya sangat bersemangat mengerjakan tugas akhir thesis namun berubah menjadi kehilangan motivasi, hal itu terjadi karena ia mengalami revisi dari dosen pembimbing dan mendapatkan hambatan dalam pengumpulan data. Seiring berjalannya waktu, ia semakin sulit berkonsentrasi, mengalami masalah tidur dan kelelahan kronis, menghindari pertemuan sosial, dan menjauhi teman dan keluarga. Akibatnya, ia tidak dapat menyelesaikan revisi tesis sesuai jadwal, berisiko melewati batas masa studi.
Kira-kira, bagaimana, ya, ketika orang-orang terdekat atau mungkin diri kita sendiri memiliki kecenderungan mengalami depresi? Nah, sebelum menjawab pertanyaan ini. Yuk, kita telusuri terlebih dahulu bagaimana depresi bisa terjadi.
Pencetus utama atau trigger (pemicu) terjadinya depresi adalah suatu peristiwa, situasi, atau stimulus yang memicu reaksi emosional atau psikologis tertentu, terutama yang berhubungan dengan pengalaman atau ingatan masa lalu yang tidak menyenangkan atau berpotensi menimbulkan trauma. Hadirnya trigger kemudian memengaruhi pikiran, pikiran memengaruhi mood, dan akhirnya mood memengaruhi perilaku.
Kunci yang perlu kita pegang untuk memahami depresi adalah mood dan perilaku. Seseorang dengan gangguan depresi cenderung memiliki suasana hati yang menurun (feeling down). Bagaimana mood bisa turun? Yuk, kita cermati melalui lingkaran depresi berdasarkan contoh berikut ini.
Seseorang sebut saja Andi mendapatkan revisi skripsi dari dosen secara terus menerus (trigger), hal tersebut membuat Andi berpikir bahwa dia tidak mampu bertahan sampai lulus (pikiran), pikiran itu tentu saja membuat Andi merasakan sedih (mood), dan kesedihan yang dirasakan Andi membuat Andi tidak mau lagi menyentuh skripsinya (perilaku).
Spiral depresi tidak berhenti sampai di situ. Perilaku Andi yang tidak mau membahas hal apapun tentang skripsi membuatnya semakin merasa sedih sehingga Andi banyak menghabiskan waktu di kamar. Minimnya interaksi dengan orang lain menambah mood negatif dalam diri Andi, belum lagi ditambah dengan cahaya matahari yang kurang diserap oleh Andi. Andi merasa bahwa dirinya tidak berguna. Akhirnya, Andi mengalami depresi dan memiliki suicidal thought atau pikiran untuk bunuh diri.
Gambar 1.
Segitiga pikiran, perasaan, dan perilaku

Berdasarkan contoh di atas, kita dapat memahami bahwa depresi dapat terjadi ketika seseorang berperilaku sesuai dengan mood yang sedang dirasakan. Hal ini membuat satu catatan penting bahwa psikolog perlu mengajarkan klien dengan kecenderungan depresi bahwa mood mengikuti perilaku. Klien diajarkan cara untuk menguasai berbagai mood negatif yang sedang dirasakan dengan mempraktikkan perilaku positif sehingga mood positif dapat muncul. Sehingga, spiral depresi tadi akan berubah menjadi upward spiral atau spiral ke atas menuju mood yang lebih positif.
Kita kembali memakai contoh Andi untuk menggambarkan bagaimana mood mengikuti perilaku. Saat Andi merasa moodnya turun dan tidak ingin pergi ke kampus,yang perlu dilakukan oleh Andi adalah belajar menguasai mood negatifnya dan memaksakan diri untuk pergi ke kampus. Mood yang semula turun berpotensi untuk naik karena Andi bertemu dengan teman-teman dan tertawa senang. Begitu pula saat Andi tidak ingin bertemu dosen, Andi perlu belajar untuk melawan keinginan menghindari dosen agar mood tidak semakin turun.
Selain upaya untuk mengaktifkan perilaku, terapi klien dengan depresi juga bisa menggunakan cara lain seperti contohnya dengan restructuring cognitive (restrukturisasi kognitif), yakni sebuah teknik dalam psikologi yang digunakan untuk mengubah pola pikir atau cara seseorang memandang situasi, sehingga dapat menghasilkan pemikiran yang lebih positif dan realistis. Teknik ini biasanya digunakan dalam terapi kognitif, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), untuk membantu individu mengidentifikasi, menentang dan mengganti pola pikir negatif atau tidak realistis yang bisa memengaruhi emosi dan perilaku mereka.
Meskipun terdapat alternatif teknik terapi lain, disarankan agar psikolog lebih menekankan pada upaya menjadikan mood klien mengikuti perilaku. Selama ini kita berpikir bahwa kita menangis karena sedih, namun kita tidak pernah berpikir bahwa kita sedih karena menangis. Kita berpikir tersenyum karena bahagia, namun kita tidak pernah berpikir kita bisa bahagia dengan senyuman.
“Kalau kita bisa mengajari pasien menguasai dirinya, maka kemungkinan untuk relapse-nya akan kecil. Jika diserahkan ke mekanisme biologis, maka pasien tidak punya power untuk menguasai dirinya dan akan semakin merasa powerless”.
(Ibu Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog)
—
(Sumber artikel didapatkan dari materi yang disampaikan oleh Ibu Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog dalam acara Pelatihan Psikolog Puskesmas)
Penulis: Relung Fajar Sukmawati
Foto dari Brooke Cagle dari Unsplash