Saat ini, pemerintah sedang memerangi isu mendasar pada tumbuh kembang anak, yaitu permasalahan stunting. Stunting adalah kondisi tubuh anak yang lebih pendek dari standar untuk usianya akibat kekurangan gizi kronis. Permasalahan stunting ini menjadi perhatian pemerintah karena dampaknya sangat besar terhadap tumbuh kembang anak, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Anak dengan kebutuhan nutrisi yang tidak terpenuhi pada fase 0-2 tahun berpotensi mengalami pertumbuhan fisik yang terhambat, tumbuh kembang kognitif yang buruk, dan pada masa dewasa memiliki risiko penyakit kronis.
Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita jawab pertanyaan ini terlebih dahulu. Apa yang pertama kali terlintas dalam benak kamu ketika mendengar istilah pendidikan inklusif? Kesetaraan? Integrasi? Atau kesamaan kesempatan? Kemungkinan besar, itulah jawaban-jawaban yang akan muncul. Konsep-konsep tersebut sering kita gunakan untuk mendefinisikan pendidikan inklusif. Tidak keliru memang. Namun, persoalannya apakah semua itu sudah cukup?
Bayangkan sosok teman yang paling dekat denganmu saat ini. Mungkin sosok teman yang hampir selalu menemanimu menghabiskan waktu, menjadi partner curhat, atau bahkan di tahap mengetahui banyak hal tentang satu sama lain. Dari semua kedekatan itu, coba renungkan sejenak, apakah kamu benar-benar menaruh kepercayaan kepadanya?
Penelitian terhadap perempuan Jawa yang bekerja sekaligus merawat orang tua mengungkap makna bakti, dukungan sosial, dan tantangan dalam menjaga kesejahteraan keluarga.
Seringkali kita mendengar bahwa persahabatan diibaratkan sebagai kepompong yang mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Artinya, banyak orang menganggap bahwa memiliki teman akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak heran jika kita terus berusaha menjalin hubungan dekat dengan orang lain sekaligus mengembangkan kemampuan sosial supaya dapat diterima dalam lingkungan pertemanan tersebut. Namun, benarkah persahabatan selalu membawa kita pada kehidupan yang lebih baik? Apa jadinya jika kita menjalin pertemanan dengan seorang perundung? Mungkinkah kedekatan tersebut membuat kita turut melakukan perundungan?
Selama ini, publikasi sains dikuasai oleh hasil-hasil riset yang bersumber dari negara-negara Barat, termasuk dalam bidang psikologi. Kita cenderung lebih mengenal tokoh-tokoh ilmuwan psikologi dan terminologi psikologis dari Barat, mulai dari Sigmund Freud (Austria), Wilhelm Wundt (Jerman), hingga tokoh psikologi modern seperti Daniel Kahneman (Amerika) dan banyak tokoh lainnya. Hal tersebut menjadi lumrah karena tradisi ilmiah lebih dahulu berkembang di sana. Walaupun demikian, konsep-konsep psikologis yang dihasilkan dari hal tersebut terkadang tidak mampu menjelaskan fenomena dalam konteks budaya lain. Kita perlu menilai secara kritis apakah setiap konsep tersebut dapat menjelaskan fenomena psikologis dalam budaya lain, terutama di Indonesia.
” tersebut berasal dari daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Tidak hanya
Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Tidak hanya menjadi krisis kesehatan, pandemi juga mengubah cara orang bekerja, belajar, dan berinteraksi. Ketika sekolah ditutup demi mencegah penyebaran virus, jutaan anak prasekolah di Indonesia ikut belajar dari rumah. Padahal, pada usia ini anak sedang berada pada masa emas perkembangan (golden age), yaitu periode ketika kemampuan berpikir, berbahasa, bergerak, bersosialisasi, dan mengelola emosi berkembang sangat pesat. Karena itu, pembelajaran tatap muka sebenarnya menjadi pilihan yang paling ideal agar anak memperoleh stimulasi yang optimal.
Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling bermakna adalah keluarga…
Potongan lirik lagu syahdu yang berjudul Keluarga Cemara ini menyampaikan makna bahwa keluarga yang hangat, rukun, dan saling mendukung adalah kekayaan terbesar yang tidak dapat ditukar dengan materi apa pun. Itulah mengapa banyak penelitian psikologi yang menegaskan bahwa keluarga adalah fondasi pertama dan utama dalam membentuk dan menjaga kesejahteraan psikologis seseorang. Seseorang dengan kesejahteraan psikologis yang baik cenderung memiliki resiliensi diri, tidak pantang menyerah, dan jauh dari kemungkinan mengalami depresi.
Mendampingi anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan perjalanan yang membutuhkan kesiapan, kesabaran, dan dukungan yang memadai dari orang tua. Anak dengan GSA memiliki karakteristik yang beragam, sehingga kebutuhan setiap anak tidak selalu sama. Orang tua perlu memahami cara berkomunikasi, mengelola perilaku, serta memberikan stimulasi yang sesuai dengan kondisi anak. Namun, bagi banyak keluarga di negara berpendapatan rendah dan menengah, mendapatkan dukungan profesional bukanlah hal yang mudah. Keterbatasan tenaga ahli, fasilitas layanan yang belum merata, serta jarak yang jauh menuju pusat layanan kesehatan sering menjadi hambatan bagi orang tua untuk memperoleh pendampingan yang dibutuhkan.