World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Setengah dari insiden bunuh diri dunia terjadi di negara kawasan Asia, namun di kawasan tersebut perilaku terkait bunuh diri masih kurang diteliti. Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa 40% orang dewasa mengalami ide bunuh diri selama pandemi COVID-19, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 18–24 tahun. Ide bunuh diri ini merupakan faktor risiko utama bagi perilaku dan percobaan bunuh diri.
Artikel ini akan mengulas hasil penelitian yang dilakukan oleh Ferdi W. Djajadisastra, Jennifer S. Ma, Sugiarti Musabiq, dan Lavenda Geshica tentang seberapa kuat sikap welas asih diri mempengaruhi hubungan antara kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi dengan ide bunuh diri pada dewasa muda.
Interpersonal-Psychological Theory of Suicidal Behavior (IPTS)
Menurut teori psikologi interpersonal tentang bunuh diri, terdapat dua proses kognitif utama yang muncul ketika individu mengalami gangguan dalam hubungan interpersonalnya, yang kemudian memunculkan pikiran bunuh diri pasif. Pertama adalah thwarted belongingness, yakni perasaan kesepian, merasa sendiri, atau merasa tidak memiliki hubungan yang penuh kepedulian. Kedua adalah perceived burdensomeness, yakni merasa jadi beban bagi orang lain dan muncul rasa benci pada diri sendiri.
Jika seseorang mengalami salah satunya saja sudah cukup untuk memunculkan keinginan bunuh diri pasif. Risiko akan semakin besar dan menjadi keinginan bunuh diri aktif apabila kedua perasaan itu hadir bersamaan dan dianggap tidak bisa diubah. Sejauh ini, penelitian mendukung bahwa gabungan kedua faktor tersebut memang meningkatkan tingkat keparahan ide bunuh diri, meski pengaruhnya tidak terlalu besar.
Lalu, bagaimana fenomena bunuh diri di Indonesia?
Fenomena Bunuh Diri di Indonesia
Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa percobaan bunuh diri dipengaruhi oleh penderitaan yang muncul akibat stresor psikososial, hilangnya harapan, keterasingan, kesepian, kerapuhan mental dalam menghadapi krisis, serta rendahnya religiusitas. Para pemangku kepentingan di Indonesia menyebutkan terdapat keyakinan bahwa menjadi beban bagi orang lain lebih memalukan daripada mengakhiri hidup sendiri. Ada pula keyakinan budaya bahwa bunuh diri dipengaruhi roh kuno, bisa menular, dan sudah ditakdirkan oleh Tuhan (pulung gantung) sehingga tidak dapat dicegah.
Temuan di atas menunjukkan bahwa budaya memiliki peran besar dalam membentuk stresor, makna, dan cara orang mengekspresikan pikiran bunuh diri. Dalam konteks seperti ini, meningkatkan kemampuan untuk berwelas asih pada diri sendiri bisa membantu seseorang terlindungi dari kognisi diri negatif terkait kesepian dan menjadi beban bagi orang lain.
Apa itu welas asih diri?
Welas Asih Diri
Welas asih diri didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghadapi penderitaan dengan hangat, penuh kesadaran, dan tanpa menghakimi, sambil menyadari bahwa penderitaan adalah bagian dari pengalaman manusia yang universal. Konsep ini mencakup tiga aspek, yakni kebaikan pada diri vs menghakimi diri, rasa kemanusiaan vs isolasi, dan mindfulness vs over-identification. Self-compassion diukur menggunakan Self-Compassion Scale (SCS) yang terdiri atas dua sub dimensi yang berbeda. Subdimensi tersebut ialah compassionate self-responding (CS), yakni gabungan dari subskala positif SCS dan uncompassionate self-responding (UCS), yakni gabungan dari subskala negatif SCS.
Bagaimana Kaitan dari Ketiga Variabel?
Penelitian menunjukkan bahwa tingkat welas asih diti yang tinggi berhubungan dengan lebih rendahnya pikiran maupun perilaku bunuh diri. Rendahnya welas asih diri memperkuat pengaruh perasaan kesepian dan menjadi beban orang lain terhadap ide bunuh diri. Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa CS hanya punya efek perlindungan kecil terhadap risiko bunuh diri, tetapi UCS menunjukkan hubungan positif yang lebih kuat. Studi di Asia menyebutkan bahwa UCS berpengaruh dalam meningkatkan risiko bunuh diri apabila diteliti pada satu waktu tertentu saja. Sementara CS membantu mencegah ide bunuh diri berkembang menjadi percobaan nyata apabila diteliti berulang kali dalam jangka waktu tertentu.
Apa Tujuan Penelitian Ini?
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peran protektif dari welas asih diri beserta sub komponennya dalam hubungan antara faktor risiko interpersonal IPTS (thwarted interpersonal needs) dan ide bunuh diri pada mahasiswa Indonesia.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan 510 partisipan. Partisipan merupakan mahasiswa Indonesia berusia 18-25 tahun yang berdomisili di Pulau Jawa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah Interpersonal Needs Questionnaire, Patient Health Questionnaire, Depressive Symptom Inventory-Suicidality Subscale, dan Self-Compassion Scale Short Form. Data penelitian kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan Uji Regresi.
Apakah Benar Welas Asih Diri Dapat Mencegah Ideasi Bunuh Diri?
Hasil pada penelitian menunjukkan bahwa ide bunuh diri cenderung meningkat pada individu yang sering bersikap keras terhadap diri sendiri (uncompassionate self-responding), merasa kesepian, serta merasa menjadi beban bagi orang lain. Sebaliknya, ide bunuh diri cenderung menurun pada individu yang memiliki tingkat welas asih diri tinggi, khususnya dalam bentuk compassionate self-responding. Setelah mengontrol gejala depresi partisipan, ditemukan bahwa welas asih diri, compassionate self-responding, dan uncompassionate self-responding masing-masing mempengaruhi hubungan antara perasaan menjadi beban bagi orang lain dengan ide bunuh diri, tetapi tidak antara perasaan kesepian dengan bunuh diri.
Hasil analisis memperlihatkan bahwa risiko ide bunuh diri paling tinggi muncul ketika seseorang memiliki tingkat compassionate self-responding yang rendah, sementara perasaan kesepian dan menjadi beban berada pada level tinggi. Menariknya, rendahnya perasaan menjadi beban secara konsisten menurunkan risiko ide bunuh diri, tetapi rendahnya perasaan kesepian tidak selalu melindungi jika perasaan menjadi beban tetap tinggi bahkan pada individu dengan compassionate self-responding yang tinggi.
Kekuatan Utama Penelitian
- Studi pertama di Indonesia yang menyelidiki kemungkinan peran moderator dari risiko bunuh diri interpersonal terhadap ide bunuh diri.
- Memperluas penerapan teori IPTS (Interpersonal-Psychological Theory of Suicide) ke dalam konteks budaya yang lebih beragam sehingga mengurangi ketergantungan berlebih pada sampel dari negara Barat
- Menelaah perbedaan peran self-compassion, CS, dan UCS terhadap risiko ide bunuh diri pada dewasa muda
- Menekankan kontribusi khas compassionate self-responding (CS) dalam meredam dampak negatif perasaan menjadi beban (perceived burdensomeness) terhadap ide bunuh diri.
- Memberikan rekomendasi praktis melalui penerapan teknik welas asih diri dalam upaya pencegahan bunuh diri.
Keterbatasan dan Arah Penelitian Selanjutnya
- Desain penelitian cross-sectional sehingga tidak memungkinkan peneliti menarik kesimpulan kausal mengenai arah hubungan antar variabel.
- Partisipan terbatas pada mahasiswa Indonesia dengan akses internet sehingga tidak sepenuhnya mewakili populasi dewasa muda Indonesia secara umum.
- Beberapa alat ukur dalam penelitian ini tidak tersedia dalam bahasa Indonesia sehingga ke depan perlu mengevaluasi validitas konstruk alat ukur yang diadaptasi atau diterjemahkan dari konteks Barat.
Sumber: https://link.springer.com/article/10.1007/s12671-025-02540-9
Penulis: Osi Livia S
A Photo by Osi Thirdman at Pexel.com