• Tentang UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM UGM
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
KANAL PENGETAHUAN PSIKOLOGI
  • Beranda
  • E-Learning
    • Kuliah Terbuka
    • Kuliah Tamu
    • Artikel Psikologi
    • Podcast
    • Video Pembelajaran
  • Riset & Publikasi
    • Artikel Riset dan Publikasi
    • 3 Minute Thesis
  • Menara Ilmu
    • Kesehatan Mental Masyarakat
    • Psikologi Indigenous & Budaya
    • Proses Mental & Perilaku
    • Rentang Perkembangan Manusia
    • Psikodiagnostika
    • Pengembangan Kualitas Manusia
  • Tokoh Psikologi
  • Beranda
  • anak
  • anak
Arsip:

anak

Perlukah Anak Prasekolah Sekolah Daring? Pelajaran Penting dari Pandemi COVID-19

Artikel Psikologi Wednesday, 7 October 2026

Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Tidak hanya menjadi krisis kesehatan, pandemi juga mengubah cara orang bekerja, belajar, dan berinteraksi. Ketika sekolah ditutup demi mencegah penyebaran virus, jutaan anak prasekolah di Indonesia ikut belajar dari rumah. Padahal, pada usia ini anak sedang berada pada masa emas perkembangan (golden age), yaitu periode ketika kemampuan berpikir, berbahasa, bergerak, bersosialisasi, dan mengelola emosi berkembang sangat pesat. Karena itu, pembelajaran tatap muka sebenarnya menjadi pilihan yang paling ideal agar anak memperoleh stimulasi yang optimal.

No Screen Time Before Two: Aturan Screen Time pada Anak Usia Dini

Artikel Psikologi Thursday, 15 August 2024

Berbicara perkara screen time erat kaitannya dengan penggunaan gadget. Siapa sih yang bisa seharian tidak menggunakannya? Saat ini yang menjadi persoalan adalah gadget banyak digunakan bukan hanya oleh mereka yang sudah memahami konteks penggunaan, tetapi juga digunakan oleh mereka yang masih dalam kategori anak usia dini, yang lebih miris lagi bayi yang sudah bisa merespons gambar atau percakapan orang lain mulai diberikan gadget oleh orang tuanya dengan dalih untuk mengeksplorasi pengetahuan seperti mengajarkannya bernyanyi, menirukan suara hewan, dan lain sebagainya yang kesannya positif. Bahkan ada orang tua yang beralasan, “Biar anteng kalau ditinggal melakukan pekerjaan rumah”. Hal itu tentu membuat fungsi gadget dalam hal ini smartphone menjadi hero untuk orang tua agar anak tetap tenang dan orang tua bisa nyaman dalam mengerjakan pekerjaan lain.

Nah, selanjutnya akan dibahas nih konsekuensi screen time, tips bagaimana memberlakukan screen time pada anak, dan rekomendasi usia yang sebaiknya boleh memulai screen time.

=&0=&

Screen time adalah jumlah waktu yang dihabiskan dalam penggunaan perangkat elektronik berupa layar seperti gadget. Gadget merupakan istilah yang mengarah pada perangkat elektronik, memiliki berbagai fungsi yang digunakan untuk memudahkan pekerjaan. Gadget menjadi salah satu lifestyle yang hampir semua orang menggunakannya. Keberadaan gadget bagi orang tua menjadi 2 mata pisau, di satu sisi dapat memberikan edukasi dan juga hiburan untuk anak namun di sisi lain gadget justru memberikan pengaruh negatif untuk anak bahkan berujung pada kecanduan jika digunakan dalam porsi durasi waktu yang berlebihan. 

=&1=&

Pemberian screen time dengan menggunakan gadget kepada anak-anak di bawah usia dua tahun telah menjadi topik yang kontroversial dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun teknologi dapat memberikan akses ke berbagai informasi dan hiburan, penggunaannya yang berlebihan pada usia dini dapat memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap perkembangan anak. Salah satu alasan utama mengapa anak-anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak diperkenalkan dengan gadget adalah dampaknya terhadap perkembangan kognitif dan sosial. Pada usia dini, anak-anak sedang dalam tahap kritis pengembangan kemampuan bahasa, motorik, dan interaksi sosial. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengganggu proses ini karena mengurangi waktu yang dihabiskan untuk bermain fisik, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan berkomunikasi dengan orang tua, teman sebaya di lingkungan ataupun pengasuh. 

Selain itu, paparan terhadap layar gadget dalam jumlah yang berlebihan juga telah dikaitkan dengan masalah kesehatan, seperti gangguan tidur dan gangguan perhatian pada anak-anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan blue light dari layar gadget dapat mengganggu ritme tidur anak dan memengaruhi kualitas tidur mereka secara keseluruhan. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika waktu anak banyak dialokasikan untuk berinteraksi langsung, membaca buku, bermain fisik, dan kegiatan kreatif lainnya yang mendukung perkembangan anak secara utuh. 

=&2=&

=&3=&Melalui konten yang mereka lihat di layar, anak-anak dapat terpapar hal negatif seperti:

  • Konten atau iklan yang mengandung pornografi dan violence
  • Iklan yang ditunjukkan kepada anak-anak, seperti iklan makanan ringan tinggi gula, garam, dan lemak.
  • Stereotip negatif
  • Perilaku berisiko seperti aksi berbahaya atau tantangan
  • Perundungan atau predator siber
  • read more

    Anak Kecanduan Gadget, Mengapa dan Bagaimana Mengatasinya?

    Artikel Psikologi Sunday, 9 June 2024

    Berdasarkan data BPS, jumlah pengguna gadget untuk anak usia dini di Indonesia sebanyak 33,44%, dengan rincian 25,5% pengguna anak berusia 0-4 tahun dan 52,76% anak berusia 5-6 tahun. Hal ini tidak menutup kemungkinan dapat memicu kecanduan gadget pada anak. Kecanduan gadget pada anak menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan di era digital ini. Menurut survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia, lebih dari 71,3% anak usia sekolah memiliki gadget dan memainkannya dalam porsi yang cukup lama dalam sehari serta sebanyak 79% responden anak boleh memainkan gadget selain untuk belajar. Anak-anak yang menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar sering kali mengalami berbagai masalah, mulai dari gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, hingga masalah sosial dan emosional.

    Penggunaan gadget pada anak menjadi perhatian karena dapat memicu kecanduan dan berdampak negatif pada perkembangan fisik, mental, dan sosial mereka. Anak-anak yang kecanduan gadget cenderung mengalami masalah dalam konsentrasi, perkembangan bahasa, dan keterampilan motorik.  Frekuensi penggunaan gadget yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan kecerdasan verbal dan peningkatan volume otak yang lebih kecil setelah beberapa tahun yang berpengaruh pada pemrosesan bahasa, perhatian, memori, fungsi eksekutif, fungsi emosional dan penghargaan.

    Lantas mengapa anak bisa kecanduan gadget? Anak bisa kecanduan gadget karena faktor internal maupun eksternal. Faktor internalnya berasal dari perspektif fisiologis yakni penggunaan gadget yang dapat merangsang pelepasan dopamin di otak, yang dikenal sebagai “hormon kebahagiaan” karena perangkat ini menawarkan hiburan yang instan dan menarik. Game, media sosial, dan video online menyediakan stimulasi visual dan interaksi yang terus menerus, membuat anak merasa terhibur dan terikat. Selain itu, gadget dapat membuat anak merasa lebih terhubung secara sosial, meskipun sebenarnya interaksi yang mereka alami mungkin kurang mendalam dibandingkan dengan interaksi tatap muka. Gadget menyediakan cara yang mudah untuk mengakses hiburan dan interaksi sosial. Banyak anak menggunakan gadget untuk berkomunikasi dengan teman-teman mereka melalui media sosial atau aplikasi pesan instan lainnya.

    Untuk faktor eksternal berasal dari kurangnya pengawasan dan batasan dari orang tua maupun caregiver anak. Banyak orang tua yang memberikan gadget kepada anak sebagai cara mudah untuk mengalihkan perhatian mereka atau sebagai hadiah. Padahal, tanpa pengaturan waktu yang jelas, anak bisa dengan mudah terjebak dalam penggunaan yang berlebihan. Tidak adanya alternatif kegiatan yang menarik di luar penggunaan gadget juga memperburuk situasi, membuat anak cenderung lebih memilih bermain dengan gadget daripada melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.

    Untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak, perlu adanya upaya terpadu dari orang tua dan lingkungan sekitar. Orang tua merupakan orang terdekat anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak di rumah memiliki tugas untuk mengontrol dan mengawasi penggunaan gadget, seperti menetapkan aturan yang jelas mengenai waktu penggunaan gadget, termasuk durasi harian dan waktu tertentu di mana gadget tidak boleh digunakan, seperti saat makan dan sebelum tidur.

    Menurut survey KPAI, masih ada sebanyak 79% orang tua yang tidak menerapkan peraturan penggunaan gadget kepada anak. Padahal, orang tua perlu konsisten dalam menerapkan batasan waktu dan memberikan contoh dengan mengurangi penggunaan gadget di hadapan anak. Hal ini penting untuk dilakukan agar ada aturan jelas yang membantu mencegah terjadinya konflik di dalam keluarga. Ketika semua anggota keluarga memahami dan setuju dengan aturan yang diterapkan, anak-anak lebih mudah menerima batasan yang diberikan. Konsistensi dalam penerapan aturan ini memberikan panduan yang stabil dan mengurangi kebingungan atau frustrasi anak-anak tentang kapan mereka boleh menggunakan gadget.

    Orang tua atau caregiver anak harus bisa menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan fisik dan sosial seperti bermain di luar, mengikuti klub hobi, atau berinteraksi dengan teman sebaya. Kegiatan seperti ini tidak hanya membantu anak mengalihkan perhatian dari gadget tetapi juga berkontribusi pada perkembangan fisik dan emosional mereka. Selain itu, menyediakan alat-alat permainan yang kreatif, seperti bola, sepeda, atau bahan seni dan kerajinan dapat mendorong anak-anak untuk lebih aktif dan terlibat dalam aktivitas non-digital. Dengan terlibat dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat, anak-anak akan belajar menikmati dunia di luar layar dan mengembangkan keterampilan serta minat baru yang dapat memperkaya pengalaman hidup mereka.

    Selanjutnya, penting bagi orang tua untuk berkomunikasi secara terbuka dengan anak mengenai dampak negatif dari penggunaan gadget yang berlebihan. Hasil penelitian menegaskan bahwa cara orangtua dalam menanggulangi anak dari kecanduan gadget diantaranya adalah dengan cara pendampingan, pengawasan dan komunikasi terbuka. Edukasi tentang kesehatan digital, termasuk risiko kesehatan mata, gangguan tidur, dan dampak sosial dapat membantu anak memahami pentingnya membatasi waktu layar.

    Terakhir, orang tua juga dapat menggunakan pendekatan positif dengan memberikan penghargaan atau insentif bagi anak yang berhasil mengurangi penggunaan gadget dan melakukan kegiatan alternatif yang lebih sehat. Penghargaan ini bisa berupa pujian, hadiah kecil, atau aktivitas spesial bersama keluarga. Selain itu, orang tua harus menjadi teladan dengan mengatur penggunaan gadget mereka sendiri secara bijak, menunjukkan bahwa waktu bersama keluarga dan aktivitas non-digital sangat bernilai. Dengan pendekatan yang konsisten dan positif, anak-anak akan lebih termotivasi untuk mengadopsi kebiasaan digital yang sehat dan seimbang, membuat rutinitas harian yang menyenangkan dan bebas gadget, seperti membaca buku bersama sebelum tidur atau berjalan-jalan di sore hari juga dapat memperkuat kebiasaan baik ini.

    Dengan pendekatan yang tepat, kecanduan gadget pada anak dapat diatasi secara efektif. Konsistensi dalam menetapkan aturan, memberikan contoh yang baik, serta menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas non-digital adalah kunci untuk membantu anak mengembangkan kebiasaan yang lebih sehat dan seimbang. Mengatasi kecanduan gadget memang bukan hal yang mudah, namun dengan kesabaran, komitmen, dan kerjasama antara orang tua dan lingkungan sekitar, anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang lebih seimbang dan produktif di era digital ini. Dengan demikian, mereka akan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan tetap menikmati dunia nyata yang penuh dengan pengalaman berharga dan interaksi sosial yang bermakna.

     

    Penulis : Regizki Maulia

    Photo by  Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare on Pexels

    Universitas Gadjah Mada

    Fakultas Psikologi
    Universitas Gadjah Mada
    Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
    Yogyakarta 55281 Indonesia
    fpsi[at]ugm.ac.id
    +62 (274) 550435 ext 158
    +62 (274) 550435

    © Universitas Gadjah Mada

    KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY