Psikologi menjadi ilmu yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas. Tidak seperti dulu, saat ini kajian tentang psikologi ramai didatangi, baik yang membahas tentang penyembuhan diri, keluarga, pola asuh, pembentukan kebiasaan, pendidikan, bahkan pernikahan. Selain topik tersebut, Psikologi Islam juga semakin banyak diminati dalam beberapa tahun ini. Pertanyaannya, apakah Psikologi Islam memiliki konsep landasan yang sama dengan Psikologi Konvensional?
mentalhealth
Setiap keluarga berawal dari pertemuan dua insan yang memutuskan untuk berjalan bersama dalam satu ikatan suci: pernikahan. Dalam Islam, pernikahan bukan hanya urusan dunia, tapi juga bentuk ibadah kepada Allah SWT dan cara untuk menyempurnakan separuh agama. Tujuan pernikahan pun tidak berhenti pada status “suami-istri” semata. Al-Qur’an, dalam Surat Ar-Rum ayat 21, menjelaskan bahwa pernikahan dihadirkan agar manusia dapat merasakan sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Beberapa tahun terakhir, berita tentang mahasiswa yang mengalami depresi hingga bunuh diri semakin sering terdengar. Tekanan akademik, tuntutan sosial, serta kesepian di perantauan membuat banyak anak muda terjebak dalam perasaan tidak berharga dan kehilangan arah hidup. Survei nasional menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda di Indonesia memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk melakukan perilaku menyakiti diri dibandingkan dengan orang dewasa. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan dan kesehatan mental. Namun, di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, muncul sebuah pendekatan terapi yang menjanjikan, yakni Empathic Love Therapy (ELT), metode psikoterapi yang berfokus pada kasih sayang, penerimaan diri, dan pencarian makna hidup yang baru.
Bunuh diri menjadi salah satu isu penting dalam kesehatan mental dunia. Pada tahun 2023, WHO mencatat terdapat 700.000 orang meninggal tiap tahunnya. Angka prevalensi tersebut juga didukung hasil penelitian yang menunjukkan bahwa di antara enam anggota keluarga dan 135 anggota komunitas memiliki potensi satu anggota yang melakukan bunuh diri. Tingginya angka tersebut tentu menjadi kekhawatiran bagi masyarakat global. Namun dampak dari tindakan bunuh diri tersebut ternyata juga memberikan konsekuensi besar bagi keluarga terdekat dan orang-orang di sekitarnya.
World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Setengah dari insiden bunuh diri dunia terjadi di negara kawasan Asia, namun di kawasan tersebut perilaku terkait bunuh diri masih kurang diteliti. Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa 40% orang dewasa mengalami ide bunuh diri selama pandemi COVID-19, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 18–24 tahun. Ide bunuh diri ini merupakan faktor risiko utama bagi perilaku dan percobaan bunuh diri.
Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa orang Asia cenderung berhati-hati dalam menyampaikan emosi, bahkan lebih memilih diam demi menjaga hubungan tetap harmonis? Jawabannya ada pada budaya, warisan nilai dan norma yang membentuk cara kita berpikir, merasa, hingga berperilaku. Budaya di Asia menekankan empati dan keharmonisan sehingga orang terbiasa lebih peka terhadap perasaan sesama. Kedekatan budaya dengan kehidupan sehari-hari membuat budaya terus-menerus memengaruhi mentalitas, pikiran, emosi, dan tindakan manusia.
Kita sering berbicara tentang oversharing dan hilangnya personal space di media sosial. Namun, apa perbedaan antara sharing dengan oversharing? Penelitian tentang pengungkapan diri (sharing) menunjukkan bahwa kita lebih menyukai satu sama lain ketika kita berbagi, tetapi di sisi lain, pengungkapan diri yang dianggap tidak pantas secara sosial akan mengurangi rasa suka. Namun, bagaimana batasan hal yang kita bagikan di media sosial dapat memengaruhi cara pandang orang lain? Berikut ini merupakan beberapa saran yang didukung oleh penelitian tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kita bagikan di media sosial.
Jika dilihat dengan seksama di lingkungan sekitar kita, batas-batas terlihat sekedar berlaku sebagai pemisah antara dua bidang. Tembok yang memisahkan dua buah bangunan atau batas wilayah yang terpisahkan oleh sungai. Merefleksikan ke dalam diri kita, ternyata membangun batasan juga diperlukan dalam konteks manusia. Pada kehidupan sosial yang kompleks ini, terhubung dan membangun relasi dengan individu lain menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Namun, acapkali kita terjebak dalam lingkaran yang tidak berujung dimana kita terlalu banyak menyerap beban di luar tanggung jawab kita. Melelahkan bukan? Namun, penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dan preferensi yang berbeda sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya.