• Tentang UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM UGM
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
KANAL PENGETAHUAN PSIKOLOGI
  • Beranda
  • E-Learning
    • Kuliah Terbuka
    • Kuliah Tamu
    • Artikel Psikologi
    • Podcast
    • Video Pembelajaran
  • Riset & Publikasi
    • Artikel Riset dan Publikasi
    • 3 Minute Thesis
  • Menara Ilmu
    • Kesehatan Mental Masyarakat
    • Psikologi Indigenous & Budaya
    • Proses Mental & Perilaku
    • Rentang Perkembangan Manusia
    • Psikodiagnostika
    • Pengembangan Kualitas Manusia
  • Tokoh Psikologi
  • Beranda
  • Artikel Psikologi
  • Ketika Ilmu Berkembang, Iman Menuntun: Refleksi atas Psikologi Islam dan Konvensional

Ketika Ilmu Berkembang, Iman Menuntun: Refleksi atas Psikologi Islam dan Konvensional

  • Artikel Psikologi
  • 13 November 2025, 15.44
  • Oleh: kanal.psikologi
  • 0

Psikologi menjadi ilmu yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas. Tidak seperti dulu, saat ini kajian tentang psikologi ramai didatangi, baik yang membahas tentang penyembuhan diri, keluarga, pola asuh, pembentukan kebiasaan, pendidikan, bahkan pernikahan. Selain topik tersebut, Psikologi Islam juga semakin banyak diminati dalam beberapa tahun ini. Pertanyaannya, apakah Psikologi Islam memiliki konsep landasan yang sama dengan Psikologi Konvensional?

Pertanyaan di atas terjawab dalam penelitian yang dilakukan oleh Bagus Riyono, berjudul Mengintegrasikan Prinsip-Prinsip Islam dalam Kurikulum Psikologi. Ia memaparkan tiga hal mendasar yang membedakan Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional. Apa saja itu? Baca artikel ini sampai selesai, ya.

Tujuan

Perbedaan utama antara Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional terletak pada tujuan akhirnya. Psikologi Konvensional berfokus pada bagaimana manusia bisa berfungsi dengan baik, bahagia, dan seimbang dalam kehidupan dunia. Setiap aliran memiliki arah yang berbeda, seperti psikoanalisis yang menekankan kepuasan diri, behaviorisme yang menekankan keteraturan perilaku, atau humanistik yang menekankan kebebasan dan aktualisasi diri. Meski tujuan-tujuan ini tampak baik, semuanya berpusat pada manusia dan pengalaman duniawi. Dengan kata lain, Psikologi Konvensional berusaha membuat manusia bahagia di dunia, namun belum tentu memberi arah tentang makna dan kebenaran hidup itu sendiri.

Sebaliknya, Psikologi Islam memandang manusia bukan hanya sebagai makhluk biologis dan psikologis, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki tujuan hidup yang lebih tinggi. Tujuan utama Psikologi Islam bukan sekadar kebahagiaan atau keseimbangan, melainkan menuntun manusia untuk mengenal dirinya dan Tuhannya, agar mampu menjalani hidup sesuai petunjuk Allah. Dengan begitu, kebahagiaan bukan hanya diukur dari rasa nyaman atau pencapaian diri, tetapi dari sejauh mana seseorang hidup dengan benar, berakhlak mulia, dan mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik.

Objek Penelitian 

Perbedaan mendasar antara Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional juga terletak pada objek kajiannya. Psikologi Konvensional terus mengalami pergeseran fokus, dari jiwa bawah sadar (psikoanalisis), perilaku yang tampak (behaviorisme), kebutuhan manusia (humanistik), kecerdasan (kognitif), hingga otak dan sistem saraf (neurosains). Pergeseran ini membuat Psikologi Konvensional kehilangan arah karena objek kajiannya tidak lagi berakar pada tujuan yang jelas tentang makna hidup manusia. 

Sebaliknya, Psikologi Islam sejak awal memiliki objek kajian yang tetap, yaitu nafs, jiwa atau diri manusia sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an. Dalam kerangka ini, manusia dipahami melalui dimensi spiritualnya, dengan hati (qalb) sebagai pusat kesadaran, moralitas, dan kepribadian. Karena itu, studi kepribadian dalam Psikologi Islam tidak berhenti pada perilaku atau sifat lahiriah, tetapi juga menyentuh aspek akhlak, yakni bagaimana seseorang memperbaiki dirinya agar memiliki hati yang bersih dan akhlak yang mulia.

Metode

Perbedaan mendasar metode dalam Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional terletak pada landasan filosofis dan arah penyelidikannya. Psikologi Konvensional berakar pada paradigma positivistik dan fenomenologis yang menekankan pengamatan empiris terhadap perilaku, pikiran, atau aktivitas otak manusia. Pendekatan ini sering kali memisahkan antara aspek lahiriah dan spiritual manusia, karena hanya berfokus pada hal-hal yang dapat diukur dan diamati.

Sebaliknya, psikologi Islam menggunakan metodologi Maqasid, yang berangkat dari kesadaran bahwa ilmu adalah sarana untuk memahami tanda-tanda Allah dalam diri dan alam semesta. Proses penyelidikannya bersifat holistik, menggabungkan data empiris dengan refleksi spiritual melalui Al-Qur’an dan Hadis. Tujuannya bukan hanya menjelaskan perilaku manusia, tetapi juga menuntun manusia memahami makna hidupnya dan mengarahkan ilmunya untuk kemaslahatan serta mendekatkan diri kepada Allah.

Apakah Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional dapat Diintegrasikan?

Temuan-temuan dari Psikologi Konvensional memang dapat diintegrasikan secara selektif untuk memperkaya pengetahuan psikologi dalam paradigma Islam. Begitu pula, teori-teori Psikologi Islam dapat memberikan wawasan mendalam terhadap berbagai isu yang dikaji Psikologi Konvensional. Namun, meskipun ilmu terus berkembang dan selalu terbuka terhadap pembaruan, Psikologi Islam memiliki batas nilai yang tidak berubah karena berakar pada iman dan wahyu. Artinya, pendekatan, metode, dan teori dalam Psikologi Islam dapat berkembang mengikuti zaman, tetapi prinsip dasarnya yakni pandangan tentang hakikat manusia, tujuan hidup, dan arah perkembangan jiwa tetap berpijak pada ajaran Allah. Dengan cara ini, Psikologi Islam tetap ilmiah sekaligus spiritual, berkembang tanpa kehilangan arah, karena pertumbuhannya selalu dijaga oleh cahaya iman.

Sebagai contoh, anak-anak dengan kebutuhan khusus (ABK) membutuhkan pendekatan psikologi dan neurosains untuk memahami dinamika perilaku, potensi, serta cara kerja otaknya, sehingga terapi dapat dilakukan dengan lebih tepat dan efektif. Dalam konteks ini, Psikologi Islam dapat menambahkan dimensi makna dan nilai spiritual, dengan memandang anak bukan sekadar individu yang perlu diperbaiki, tetapi sebagai jiwa yang memiliki fitrah dan tujuan mulia di hadapan Allah. Pendekatan ini membantu orang tua, pendidik, dan terapis untuk tidak hanya fokus pada kemampuan lahiriah anak, tetapi juga membangun penerimaan diri, kasih sayang, serta hubungan spiritual yang memperkuat proses penyembuhan dan pertumbuhan anak secara utuh.

Menurut hemat penulis, menjadi sebuah kesyukuran bahwa kita hidup di masa ketika kekayaan ilmu dapat tumbuh dari dua arah yang saling melengkapi, Psikologi Konvensional dan Psikologi Islam. Keduanya memang tidak dapat disamakan karena berangkat dari dasar dan tujuan yang berbeda, namun justru di situlah letak keindahannya. Psikologi Konvensional memberi kita pemahaman mendalam tentang aspek empiris dan ilmiah manusia, sementara Psikologi Islam menghadirkan panduan nilai dan makna yang menuntun arah kehidupan. Dari pertemuan keduanya, kita belajar bahwa ilmu tidak harus dipertentangkan, tetapi dapat disyukuri dan dimanfaatkan bersama untuk memahami, menyembuhkan, dan menolong manusia agar hidup lebih utuh, baik secara jasmani, akal, maupun jiwa.

 

Penulis : Relung Fajar Sukmawati

A Photo by  Zulfugar Karimov at Pexels.com

Tags: artikelpsikologi kesehatanmental mentalhealth psikologi psikologiugm SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
fpsi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 ext 158
+62 (274) 550435

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY