Bayangkan hidup di dalam kabut antara realitas dan ilusi, itulah gambaran perjuangan penyintas skizofrenia. Gangguan ini, meski tingkat kematiannya rendah, menyebabkan disabilitas berat yang memengaruhi produktivitas, interaksi sosial, dan kualitas hidup. Penanganannya kini bergeser dari sekadar meredakan gejala menjadi pendekatan pemulihan yang holistik dan partisipatif, namun masih sering mengabaikan konteks budaya lokal.
SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Di era digital, mengenali diri sendiri terasa semakin mudah, cukup melalui tes kepribadian online. Banyak orang merasa sudah memahami minat, bakat, hingga arah masa depannya. Salah satu yang populer adalah MBTI, yang kerap digunakan sebagai cara cepat untuk membaca kecenderungan kepribadian.
Kasus kekerasan pada anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta, membuka lapisan persoalan yang selama ini kerap tersembunyi dalam sistem pengasuhan anak usia dini. Fenomena ini tidak dapat semata-mata dipahami sebagai persoalan kekerasan individual, tetapi juga berkaitan dengan kualitas layanan pengasuhan, kesiapan pengasuh, hingga sistem pendukung bagi keluarga.
Pada tahun 2022, angka putus kuliah di Indonesia mencapai 4,02% dari total mahasiswa yang terdaftar. Menurut teori Tinto, salah satu penyebab terjadinya putus kuliah adalah kegagalan integrasi akademik dan sosial mahasiswa dengan perguruan tinggi. Namun, teori ini lebih menekankan pada proses integrasi yang dijalani mahasiswa, bukan pada bagaimana mahasiswa mengevaluasi pengalaman integrasi tersebut. Padahal, evaluasi terhadap proses integrasi dari perspektif mahasiswa dapat memunculkan perasaan memiliki atau tidak memiliki terhadap universitas, yang dikenal sebagai university belongingness (UB).
Salah satu faktor penting yang memicu munculnya Nonsuicidal Self-Injury (NSSI) adalah pengalaman masa kecil yang penuh kekerasan, penolakan, maupun pengabaian. Perilaku menyakiti diri tanpa niat bunuh diri ini merupakan fenomena psikologis yang memperlihatkan paradoks dalam diri manusia. Secara naluriah, manusia pada umumnya berupaya menghindari rasa sakit. Namun, sebagian individu, termasuk mahasiswa, justru melakukan tindakan menyakiti diri sebagai cara untuk mengatasi tekanan emosional yang dirasakan tidak tertahankan. NSSI bukan sekadar perilaku ekstrem, melainkan bentuk ekspresi dari penderitaan batin yang mendalam. Berbagai kajian menunjukkan bahwa perilaku ini dapat muncul dari interaksi antara pengalaman hidup, kualitas hubungan sosial, serta kemampuan individu dalam mengelola emosi dan pikiran.
Pernahkah kita bertanya kepada remaja, “Bagaimana harimu?” lalu hanya mendapat jawaban singkat? Atau mencoba berbicara dari hati ke hati, tetapi perhatian mereka justru tertuju pada layar? Fenomena ini kerap menimbulkan pertanyaan, apakah ada yang perlu kita pahami kembali tentang cara berkomunikasi dengan remaja saat ini?
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI) yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan TVRI Yogyakarta. Pada episode ketiga OPSI di tahun ini, Istiana Tajuddin, S.Psi., M.Psi., mahasiswa program studi Doktor Ilmu Psikologi UGM, menjelaskan fenomena ketika rumah tidak lagi menjadi tempat pulang.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru OPSI: Obrolan Psikologi, yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan TVRI Yogyakarta. Pada episode pertama OPSI di tahun ini, Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc., dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), membahas fenomena yang cukup umum terjadi di kalangan masyarakat Indonesia (3/3/2026).
Psikologi menjadi ilmu yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas. Tidak seperti dulu, saat ini kajian tentang psikologi ramai didatangi, baik yang membahas tentang penyembuhan diri, keluarga, pola asuh, pembentukan kebiasaan, pendidikan, bahkan pernikahan. Selain topik tersebut, Psikologi Islam juga semakin banyak diminati dalam beberapa tahun ini. Pertanyaannya, apakah Psikologi Islam memiliki konsep landasan yang sama dengan Psikologi Konvensional?
Anak dengan disabilitas intelektual adalah suatu kondisi perkembangan psikis yang terhenti atau tidak lengkap, utamanya ditandai dengan terjadinya ketidaknormalan perkembangan pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, seperti kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Disabilitas intelektual disebabkan oleh faktor primer dan sekunder. Pada faktor primer yakni adanya keturunan/genetik, sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh faktor luar yang memengaruhi otak, seperti kondisi-kondisi yang terjadi ketika masa prenatal ataupun postnatal serta faktor lainnya.