• Tentang UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM UGM
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
KANAL PENGETAHUAN PSIKOLOGI
  • Beranda
  • E-Learning
    • Kuliah Terbuka
    • Kuliah Tamu
    • Artikel Psikologi
    • Podcast
    • Video Pembelajaran
  • Riset & Publikasi
    • Artikel Riset dan Publikasi
    • 3 Minute Thesis
  • Seni & Budaya
    • Musik
    • Tari
    • Drama
    • Fotografi
    • Puisi
  • Menara Ilmu
    • Kesehatan Mental Masyarakat
    • Psikologi Indigenous & Budaya
    • Proses Mental & Perilaku
    • Rentang Perkembangan Manusia
    • Psikodiagnostika
    • Pengembangan Kualitas Manusia
  • Tokoh Psikologi
  • Berita
    • Alumni
    • Psikologi
    • UGM
  • Home
  • Artikel Psikologi

Brain Rot, Benarkah Otak Mengalami Pembusukan?

  • Artikel Psikologi
  • 13 March 2025, 12.53
  • By : Humas

Akhir-akhir ini di jagat maya, istilah “brain rot” sering muncul sebagai perbincangan di media sosial. Istilah ini muncul pada platform media sosial populer seperti TikTok. Sebenarnya penggunaan istilah mulai dikenalkan oleh komunitas media sosial di kalangan generasi Z dan Alpha. Oxford menobatkan brain rot sebagai “word of the year” pada tahun 2024. Hal tersebut terjadi setelah Oxford menghimpun suara publik selama dua minggu dengan total partisipan sejumlah 37.000 orang. Tim bahasa Oxford menyusun daftar pendek yang berisi enam kata yang mencerminkan suasana dan tren percakapan selama tahun 2024. Kemudian, melakukan pemungutan suara dan penghitungan hingga memutuskan brain rot sebagai word of the year versi Oxford.

Secara historis, istilah brain rot muncul pada buku karangan Henry David Thoreau’s dengan judul “Walden” pada tahun 1845. Buku tersebut bercerita tentang pengalaman penulis dalam menjalani gaya hidup yang sederhana. Di dalam buku tersebut memang menyebutkan istilah “brain rot” dengan kutipan sebagai berikut:

“While England endeavours to cure the potato rot, will not any endeavour to cure the brain-rot – which prevails so much more widely and fatally?”

Kutipan kalimat tersebut adalah kritik dari Thoreau’s kepada masyarakat yang merendahkan gagasan-gagasan yang kompleks demi pemikiran yang sederhana. Hal tersebut dianggap Thoreau sebagai tanda kemunduran dalam upaya masyarakat untuk berpikir secara mendalam dan mengembangkan kapasitas intelektual mereka.

Brain Rot secara harfiah diartikan sebagai pembusukan otak. Namun, istilah sebenarnya tidak mengarah pada pembusukan otak. Dalam konteks era digital saat ini, brain rot adalah istilah online yang menjadi tren di kalangan Gen Z dan Alpha. Brain rot merupakan sebuah ungkapan yang bermakna sangat berbeda dari istilah harfiahnya. Brain rot diartikan sebagai konsumsi seseorang terhadap konten-konten yang berkualitas rendah di internet secara berlebihan. Konsumsi material online yang berlebihan diprediksi memengaruhi kesehatan kognitif dan mental.

Dilansir dari BBC, Casper Grathwohl, Presiden dari Oxford Language, menganggap penobatan brain rot sebagai word of the year merupakan bentuk evolusi bahwa kehidupan virtual telah merasuki tentang apa yang kita bicarakan. Di sisi lain, hal tersebut juga mencerminkan kondisi masyarakat yang sadar bahwa mereka mulai cemas dan tidak puas dengan kondisi di dunia virtual terutama dengan konten-konten yang bermutu rendah di media sosial. Mari kita bahas fenomena Brain Rot dari sudut pandang neuropsikologi!

 

Fenomena Brain Rot dalam sudut pandang Neuropsikologi

Dari sudut pandang neuropsikologis, fenomena brain rot dapat dijelaskan melalui penelitian-penelitian terkini. Penelitian terkini memang tidak secara langsung menggunakan istilah brain rot dalam pembahasannya. Namun penelitian cenderung melakukan pemeriksaan terhadap efek paparan konten video pendek yang berlebihan secara psikologis dan neurologis. Penelitian mengidentifikasi bahwa adiksi terhadap video pendek memiliki hubungan positif dengan prokrastinasi akademik. Hal ini dapat dijelaskan bahwa video memberikan akses untuk mendapatkan hiburan secara cepat dengan durasi singkat. Walaupun terkesan singkat, kondisi menonton video pendek biasanya menjebak pengguna ke dalam siklus konsumsi yang terus menerus sehingga waktu pengerjaan tugas akademik terabaikan. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa video pendek punya potensi untuk melemahkan kemampuan seseorang untuk fokus dalam jangka panjang.

Terkait dengan fokus atau atensi, penelitian lain menjelaskan bahwa konsumsi video pendek yang berlebihan juga berhubungan secara negatif pada konsentrasi atau atensi seseorang. Indikasi dari hal tersebut muncul saat individu yang memiliki kebiasaan berlebih dalam menonton video pendek (lebih dari empat jam sehari) memiliki perbedaan gelombang otak P300 yang signifikan dibandingkan individu dengan kebiasaan menonton video reguler (kurang dari tiga jam sehari). Gelombang otak P300 adalah gelombang otak yang mewakili proses kognitif yang berhubungan dengan atensi. Kelompok individu dengan kebiasaan menonton video pendek berlebih menunjukkan gelombang otak P300 lebih kecil dibanding dengan kelompok individu dengan kebiasaan menonton video pendek reguler. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kelompok dengan frekuensi menonton video pendek berlebih memiliki kemampuan atensi yang lebih rendah dibanding kelompok frekuensi menonton video reguler.

Penelitian serupa dari Universitas Zhejiang di China, melakukan pemeriksaan gelombang otak manusia terhadap kecenderungan seseorang menonton video pendek terhadap fungsi eksekutif menggunakan EEG (Electroencephalogram) atau alat perekam aktivitas elektrik otak. Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas otak di bagian prefrontal cortex pada orang dengan intensitas menonton video pendek cenderung memiliki penurunan aktivitas pada rentang frekuensi gelombang theta dalam mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan fungsi eksekutif. Dalam penelitian tersebut, aktivitas gelombang theta diyakini merupakan kondisi otak dalam memproses informasi yang kompleks terutama dalam memberikan perhatian dan mendeteksi kesalahan dalam suatu tugas.

Penelitian-penelitian tersebut dapat memberikan petunjuk bahwa menonton video pendek berlebihan di media sosial memiliki potensi untuk menurunkan fungsi eksekutif seperti penurunan atensi dan kontrol diri seseorang. Terdapat juga penelitian yang menjelaskan potensi menonton video pendek yang berlebihan di media sosial dapat mengurangi kemampuan analisis seseorang. Seseorang akan terbiasa mengolah informasi secara cepat dan otomatis sehingga individu memiliki potensi untuk menerima informasi secara mentah-mentah. Dampaknya, individu berpotensi untuk menerima informasi palsu hingga berita bohong tanpa melakukan analisis yang mendalam.

Untungnya, hal-hal negatif yang berkaitan dengan intensitas tinggi menonton video pendek di media sosial dapat diantisipasi dengan beberapa usaha. Berikut hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi intensitas menonton video pendek yang berlebihan:

  1. Mulai meningkatkan kesadaran akan dampak negatif dari video pendek
    Hasil-hasil penelitian tentang dampak-dampak buruk kebiasaan menonton video pendek semakin menguatkan bahwa kebiasaan tersebut perlu dikurangi. Hal tersebut akan meningkatkan kesadaran akan pentingnya usaha untuk melakukan kontrol diri dan mengurangi konsumsi video pendek.
  1. Mengganti kegiatan menonton video pendek
    Ganti kegiatan menonton video pendek dengan kegiatan positif seperti membaca buku, berolahraga, atau mempelajari keterampilan baru. Selain mengurangi waktu menonton video pendek, hal tersebut dapat membangun kebiasaan-kebiasaan positif lainnya dibandingkan dengan menonton video pendek.
  1. Batasi Waktu Penggunaan Media Sosial
    Pembatasan waktu penggunaan media sosial yang menyediakan konten-konten video pendek dapat membantu mengurangi efek dari menonton video pendek secara berlebihan. Hal tersebut dapat dibantu menggunakan aplikasi yang dapat membatasi akses terhadap aplikasi media sosial. Selain akan mengurangi screen time dari aktivitas menonton video pendek, hal tersebut juga akan bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Penulis: Antonius Nandiwardana

Tags: brain rot fakultas psikologi ugm SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDGs

Related Posts

Pakar Psikologi Perkembangan Tekankan Pentingnya Standar Pengasuhan Anak Usia Dini Pasca Kasus Daycare di Yogyakarta

Artikel Psikologi Wednesday, 13 May 2026

Kasus kekerasan pada anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta, membuka lapisan persoalan yang selama ini kerap tersembunyi dalam sistem pengasuhan anak usia dini. Fenomena ini tidak dapat semata-mata dipahami sebagai persoalan kekerasan individual, tetapi juga berkaitan dengan kualitas layanan pengasuhan, kesiapan pengasuh, hingga sistem pendukung bagi keluarga.

Dalam sebuah ruang bincang, pakar psikologi perkembangan dan alumnus Psikologi Universitas Gadjah Mada, Dr. Okina Fitriani. S.Psi. MA. Psikolog menjelaskan bahwa kasus tersebut dapat dipandang dari empat akar persoalan, yaitu dari sisi pelaku, sistem pengawasan, korban anak, serta orang tua itu sendiri.

“Dari sisi pelaku, ini jelas sebuah kejahatan yang bukan kejahatan spontan, tetapi kejahatan yang terorganisir karena tersistematis; ada perintah; kemudian, para pengasuh juga seharusnya tahu bahwa perilaku ini kok sepertinya tidak wajar,” jelasnya.

Dari perspektif sistem pengawasan dan pembuat kebijakan, Okina menekankan bahwa pengasuhan anak usia dini harus memiliki standar yang jelas. Menurutnya, standar tersebut penting karena pengasuh memiliki tanggung jawab untuk mengenali batas-batas pengasuhan yang aman bagi anak. Meskipun ada tekanan atau instruksi dari pihak lain, pengasuh tetap perlu memahami bahwa tindakan tertentu tidak dapat dibenarkan dalam konteks pengasuhan anak usia ini. Pemerintah juga perlu melakukan pengawasan berkala terhadap daycare yang sudah ada.

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika melihat kondisi layanan daycare di Indonesia. KemenPPPA mencatat hanya 30,7% daycare di Indonesia yang mempunyai izin operasional, dan di Kota Yogyakarta ditemukan 37 daycare berizin serta 33 daycare yang belum berizin.

“Sebenarnya ini tidak hanya soal kekerasan, tapi juga soal kelemahan sistem,” tuturnya.

Di tengah meningkatnya jumlah orang tua yang bekerja yang bergantung pada layanan daycare, kualitas sistem pengasuhan menjadi sangat menentukan. Daycare adalah bagian dari ekosistem perkembangan anak. Namun, ketika aspek seperti lisensi, kurikulum, pelatihan pengasuh, dan pengawasan belum terpenuhi, maka sistem layanan pengasuhan anak tersebut belum diperlakukan sebagai infrastruktur perkembangan. Ia pun menambahkan bahwa pemerintah perlu mempunyai sistem di mana orang tua dapat dengan mudah mengakses informasi terkait izin layanan daycare.

Dalam perspektif anak sebagai korban, perkembangan usia dini sangat penting untuk membangun kemampuan kognitif, pembentukan kepribadian, dan kualitas diri di masa depan. Namun, ketika terjadi kekerasan, risiko jangka panjangnya tinggi. “Ketika terjadi kekerasan pada anak usia 0-3 tahun, efeknya implisit, di usia ini, intervensinya lebih challenging,” ujarnya.

Dampak dari kasus seperti ini menjadikan proses deteksi dan intervensi lebih menantang karena tanda-tanda yang muncul sering kali bersifat tidak langsung. Hal tersebut sejalan dengan temuan dalam jurnal yang menjelaskan bahwa anak usia dini sering kali belum mampu mengungkapkan pengalaman negatif mereka secara verbal atau bahkan belum memahami bahwa pengalaman tersebut termasuk bentuk kekerasan.

“Orang tua di kasus ini juga korban, tepatnya korban penipuan sebuah lembaga. Dari kasus ini, orang tua perlu lebih aware terhadap tanda-tanda. Selama ini orang tua mengira jika nggak ada lebam, nggak ada luka karena dalam kasus ini anak diikat dengan kain halus, artinya tidak apa-apa. Meskipun tidak ada tanda-tanda fisik, jika anak menyampaikan hal-hal yang menimbulkan pertanyaan, kita perlu cepat-cepat untuk mencari tahu,” ungkapnya.

Dalam kondisi ini, peran orang tua menjadi krusial, terutama dalam membangun kepekaan terhadap tanda-tanda tersebut dan dalam mempersiapkan daycare yang tepat. Reaksi seperti meningkatnya kecemasan, penolakan terhadap situasi tertentu, atau perubahan pola makan dan emosi dapat menjadi indikasi ketidaknyamanan yang perlu diperhatikan lebih lanjut.

Ketika orang tua mengetahui adanya pengalaman yang tidak sesuai yang dialami anak, proses tersebut tidak hanya menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi anak, tetapi juga dapat memunculkan tekanan emosional pada orang tua. Perasaan bersalah, penyesalan, hingga kebingungan dalam merespons situasi sering kali muncul setelah kejadian terungkap. Sehingga kesehatan mental orang tua perlu diperhatikan seiring berjalannya proses hukum.

“Kesehatan mental orang tua dan pengawalan hukum harus berjalan beriringan. Ini termasuk traumatic event: bagaimana mengurangi rasa bersalah dan bagaimana kembali fokus,” jelasnya.

Okina menutup dengan menekankan bahwa apabila aspek pelaku, sistem, anak, dan orang tua dapat diperkuat secara bersama, kasus serupa diharapkan tidak akan kembali terjadi.

Dalam merespons situasi ini, Fakultas Psikologi UGM membuka layanan hotline Crisis Center (+62 821-3768-0588) yang dapat diakses tanpa biaya sebagai bentuk dukungan psikologis bagi orang tua dan keluarga yang terdampak oleh kasus kekerasan di daycare.

Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Osi Livia S

Ketika Ilmu Berkembang, Iman Menuntun: Refleksi atas Psikologi Islam dan Konvensional

Artikel Psikologi Thursday, 13 November 2025

Psikologi menjadi ilmu yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas. Tidak seperti dulu, saat ini kajian tentang psikologi ramai didatangi, baik yang membahas tentang penyembuhan diri, keluarga, pola asuh, pembentukan kebiasaan, pendidikan, bahkan pernikahan. Selain topik tersebut, Psikologi Islam juga semakin banyak diminati dalam beberapa tahun ini. Pertanyaannya, apakah Psikologi Islam memiliki konsep landasan yang sama dengan Psikologi Konvensional?

Pertanyaan di atas terjawab dalam penelitian yang dilakukan oleh Bagus Riyono, berjudul Mengintegrasikan Prinsip-Prinsip Islam dalam Kurikulum Psikologi. Ia memaparkan tiga hal mendasar yang membedakan Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional. Apa saja itu? Baca artikel ini sampai selesai, ya.

Tujuan

Perbedaan utama antara Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional terletak pada tujuan akhirnya. Psikologi Konvensional berfokus pada bagaimana manusia bisa berfungsi dengan baik, bahagia, dan seimbang dalam kehidupan dunia. Setiap aliran memiliki arah yang berbeda, seperti psikoanalisis yang menekankan kepuasan diri, behaviorisme yang menekankan keteraturan perilaku, atau humanistik yang menekankan kebebasan dan aktualisasi diri. Meski tujuan-tujuan ini tampak baik, semuanya berpusat pada manusia dan pengalaman duniawi. Dengan kata lain, Psikologi Konvensional berusaha membuat manusia bahagia di dunia, namun belum tentu memberi arah tentang makna dan kebenaran hidup itu sendiri.

Sebaliknya, Psikologi Islam memandang manusia bukan hanya sebagai makhluk biologis dan psikologis, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki tujuan hidup yang lebih tinggi. Tujuan utama Psikologi Islam bukan sekadar kebahagiaan atau keseimbangan, melainkan menuntun manusia untuk mengenal dirinya dan Tuhannya, agar mampu menjalani hidup sesuai petunjuk Allah. Dengan begitu, kebahagiaan bukan hanya diukur dari rasa nyaman atau pencapaian diri, tetapi dari sejauh mana seseorang hidup dengan benar, berakhlak mulia, dan mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik.

Objek Penelitian 

Perbedaan mendasar antara Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional juga terletak pada objek kajiannya. Psikologi Konvensional terus mengalami pergeseran fokus, dari jiwa bawah sadar (psikoanalisis), perilaku yang tampak (behaviorisme), kebutuhan manusia (humanistik), kecerdasan (kognitif), hingga otak dan sistem saraf (neurosains). Pergeseran ini membuat Psikologi Konvensional kehilangan arah karena objek kajiannya tidak lagi berakar pada tujuan yang jelas tentang makna hidup manusia. 

Sebaliknya, Psikologi Islam sejak awal memiliki objek kajian yang tetap, yaitu nafs, jiwa atau diri manusia sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an. Dalam kerangka ini, manusia dipahami melalui dimensi spiritualnya, dengan hati (qalb) sebagai pusat kesadaran, moralitas, dan kepribadian. Karena itu, studi kepribadian dalam Psikologi Islam tidak berhenti pada perilaku atau sifat lahiriah, tetapi juga menyentuh aspek akhlak, yakni bagaimana seseorang memperbaiki dirinya agar memiliki hati yang bersih dan akhlak yang mulia.

Metode

Perbedaan mendasar metode dalam Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional terletak pada landasan filosofis dan arah penyelidikannya. Psikologi Konvensional berakar pada paradigma positivistik dan fenomenologis yang menekankan pengamatan empiris terhadap perilaku, pikiran, atau aktivitas otak manusia. Pendekatan ini sering kali memisahkan antara aspek lahiriah dan spiritual manusia, karena hanya berfokus pada hal-hal yang dapat diukur dan diamati.

Sebaliknya, psikologi Islam menggunakan metodologi Maqasid, yang berangkat dari kesadaran bahwa ilmu adalah sarana untuk memahami tanda-tanda Allah dalam diri dan alam semesta. Proses penyelidikannya bersifat holistik, menggabungkan data empiris dengan refleksi spiritual melalui Al-Qur’an dan Hadis. Tujuannya bukan hanya menjelaskan perilaku manusia, tetapi juga menuntun manusia memahami makna hidupnya dan mengarahkan ilmunya untuk kemaslahatan serta mendekatkan diri kepada Allah.

Apakah Psikologi Islam dan Psikologi Konvensional dapat Diintegrasikan?

Temuan-temuan dari Psikologi Konvensional memang dapat diintegrasikan secara selektif untuk memperkaya pengetahuan psikologi dalam paradigma Islam. Begitu pula, teori-teori Psikologi Islam dapat memberikan wawasan mendalam terhadap berbagai isu yang dikaji Psikologi Konvensional. Namun, meskipun ilmu terus berkembang dan selalu terbuka terhadap pembaruan, Psikologi Islam memiliki batas nilai yang tidak berubah karena berakar pada iman dan wahyu. Artinya, pendekatan, metode, dan teori dalam Psikologi Islam dapat berkembang mengikuti zaman, tetapi prinsip dasarnya yakni pandangan tentang hakikat manusia, tujuan hidup, dan arah perkembangan jiwa tetap berpijak pada ajaran Allah. Dengan cara ini, Psikologi Islam tetap ilmiah sekaligus spiritual, berkembang tanpa kehilangan arah, karena pertumbuhannya selalu dijaga oleh cahaya iman.

Sebagai contoh, anak-anak dengan kebutuhan khusus (ABK) membutuhkan pendekatan psikologi dan neurosains untuk memahami dinamika perilaku, potensi, serta cara kerja otaknya, sehingga terapi dapat dilakukan dengan lebih tepat dan efektif. Dalam konteks ini, Psikologi Islam dapat menambahkan dimensi makna dan nilai spiritual, dengan memandang anak bukan sekadar individu yang perlu diperbaiki, tetapi sebagai jiwa yang memiliki fitrah dan tujuan mulia di hadapan Allah. Pendekatan ini membantu orang tua, pendidik, dan terapis untuk tidak hanya fokus pada kemampuan lahiriah anak, tetapi juga membangun penerimaan diri, kasih sayang, serta hubungan spiritual yang memperkuat proses penyembuhan dan pertumbuhan anak secara utuh.

Menurut hemat penulis, menjadi sebuah kesyukuran bahwa kita hidup di masa ketika kekayaan ilmu dapat tumbuh dari dua arah yang saling melengkapi, Psikologi Konvensional dan Psikologi Islam. Keduanya memang tidak dapat disamakan karena berangkat dari dasar dan tujuan yang berbeda, namun justru di situlah letak keindahannya. Psikologi Konvensional memberi kita pemahaman mendalam tentang aspek empiris dan ilmiah manusia, sementara Psikologi Islam menghadirkan panduan nilai dan makna yang menuntun arah kehidupan. Dari pertemuan keduanya, kita belajar bahwa ilmu tidak harus dipertentangkan, tetapi dapat disyukuri dan dimanfaatkan bersama untuk memahami, menyembuhkan, dan menolong manusia agar hidup lebih utuh, baik secara jasmani, akal, maupun jiwa.

 

Penulis : Relung Fajar Sukmawati

A Photo by  Zulfugar Karimov at Pexels.com

Bagaimana Empathic Love Therapy Membantu Mahasiswa Keluar dari Jerat Depresi dan Kecemasan?

Artikel Psikologi Tuesday, 11 November 2025

Krisis Psikologis di Masa Dewasa Awal

Beberapa tahun terakhir, berita tentang mahasiswa yang mengalami depresi hingga bunuh diri semakin sering terdengar. Tekanan akademik, tuntutan sosial, serta kesepian di perantauan membuat banyak anak muda terjebak dalam perasaan tidak berharga dan kehilangan arah hidup. Survei nasional menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda di Indonesia memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk melakukan perilaku menyakiti diri dibandingkan dengan orang dewasa. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan dan kesehatan mental. Namun, di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, muncul sebuah pendekatan terapi yang menjanjikan, yakni Empathic Love Therapy (ELT), metode psikoterapi yang berfokus pada kasih sayang, penerimaan diri, dan pencarian makna hidup yang baru.

Apa Itu Empathic Love Therapy?

Empathic Love Therapy merupakan bagian dari pendekatan psikosintesis yang dikembangkan oleh psikolog Italia, Roberto Assagioli. Tujuan utamanya adalah membantu individu mengenali dan menyatukan berbagai aspek dirinya, termasuk luka batin, peran sosial, dan potensi spiritual, agar tumbuh menjadi pribadi yang utuh.

Berbeda dengan terapi kognitif atau perilaku yang berfokus pada pengubahan pikiran negatif, ELT menekankan pentingnya kasih sayang terhadap diri sendiri. Melalui latihan visualisasi, relaksasi, dan refleksi, individu diajak untuk menerima sisi dirinya yang terluka serta membangun kekuatan batin dari dalam.

Penelitian yang dilakukan oleh Leonardus Edwin Gandawijaya dan Kwartarini Wahyu Yuniarti dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan efektivitas pendekatan ini. Hasil studi mereka membuktikan bahwa ELT secara signifikan mampu menurunkan gejala depresi dan kecemasan pada mahasiswa yang memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Penelitian ini melibatkan tujuh mahasiswa berusia 17–30 tahun di Yogyakarta. Mereka menjalani delapan sesi terapi kelompok selama lima hari berturut-turut di Puskesmas Gondokusuman 1. Sebelum dan sesudah terapi, tingkat depresi dan kecemasan diukur menggunakan kuesioner untuk mengukur gejala kecemasan dan depresi yakni Patient Health Questionnaire Anxiety and Depression Scale (PHQ-ADS). Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan skor yang signifikan setelah terapi. Rata-rata skor sebelum terapi sebesar 34,1 yang termasuk dalam kategori sedang–berat, menurun menjadi 20,6 setelah terapi yang berada pada kategori ringan. Uji statistik menunjukkan hasil t(6) = 4,73 dengan nilai p < 0,01, yang berarti penurunan tersebut signifikan secara statistik.

Selain pengukuran angka, peneliti juga mengumpulkan pengalaman emosional peserta selama terapi melalui diskusi kelompok. Hasilnya mengungkap banyak hal menarik tentang dinamika psikologis mahasiswa masa kini, yang akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian berikutnya.

Apa yang Dirasakan Para Peserta?

Dari hasil wawancara, muncul empat tema besar tentang tantangan emosional yang dialami para peserta:

  1. Kesepian dan pikiran negatif saat sendiri. Banyak peserta tinggal jauh dari keluarga, merasa tidak punya tempat berbagi, hingga muncul pikiran menyakiti diri.
  2. Sulit melepaskan kesedihan. Mereka sadar perlu berubah, tetapi sulit memaafkan diri sendiri dan berhenti merasa gagal.
  3. Produktivitas terganggu. Tugas kuliah terbengkalai, organisasi terbengkalai, motivasi belajar menurun.
  4. Kehilangan arah hidup. Beberapa hanya menjalani kehidupan sesuai harapan orang tua tanpa tahu apa yang benar-benar mereka inginkan.

Selama mengikuti ELT, para peserta dilatih untuk mengenali bagian diri yang terluka, berbicara dengan “sub personalitas” di dalam diri (seperti sisi yang takut, marah, atau kecewa), dan belajar mencintai diri tanpa syarat. Di akhir sesi, sebagian besar peserta mengaku lebih tenang, lebih bisa memaafkan diri, dan mulai berani menulis kembali rencana hidup mereka. Salah satu peserta bahkan berkata:

“Ternyata memaafkan diri sendiri juga bentuk cinta. Dan dari situ, saya mulai bisa bernapas lagi.”

Mengapa ELT Efektif?

Ada tiga alasan utama mengapa Empathic Love Therapy bekerja dengan baik pada mahasiswa dan dewasa muda:

  1. Disidentifikasi. Peserta belajar memisahkan diri dari pikiran negatif “Aku bukan rasa gagal itu” dan mulai melihat diri dari perspektif yang lebih sehat.
  2. Kasih sayang dan penerimaan diri. ELT menumbuhkan cinta yang datang dari dalam diri, sehingga individu tak lagi berperang dengan dirinya sendiri.
  3. Dukungan kelompok. Lingkungan kelompok yang empatik membuat peserta merasa diterima dan didengarkan, yang menjadi fondasi penting dalam pemulihan.

Pendekatan ini menggabungkan dimensi psikologis dan spiritual, membangun keseimbangan antara pikiran, emosi, dan makna hidup. Bagi mahasiswa yang sedang mencari jati diri, pendekatan ini membantu mereka menemukan harapan baru.

Tantangan dan Harapan

Penelitian ini memang masih berskala kecil, hanya melibatkan tujuh peserta. Dua di antaranya menunjukkan kemajuan yang lebih lambat karena kesulitan membuka diri. Selain itu, hasil penelitian juga bersifat jangka pendek karena belum dilakukan tindak lanjut setelah terapi berakhir.

Meski begitu, temuan ini memberikan harapan baru bagi dunia psikologi Indonesia. Empathic Love Therapy terbukti efisien dan terjangkau, terutama bagi layanan kesehatan primer seperti puskesmas, yang sering menjadi tempat pertama masyarakat mencari bantuan.

ELT juga bisa diintegrasikan dalam program konseling kampus, komunitas, atau pusat kesehatan mental mahasiswa. Terapi ini tidak membutuhkan alat khusus hanya ruang aman, bimbingan psikolog, dan niat untuk saling mendengarkan dengan empati.

Membangun Generasi yang Sembuh dan Berdaya

Orang-orang dewasa muda sering disebut sebagai generasi penuh potensi, namun di balik semangat eksplorasi mereka tersimpan tekanan besar yang sering tak terlihat. Empathic Love Therapy membantu mereka menemukan kembali makna, cinta, dan harapan di tengah badai kehidupan. Lebih dari sekadar teknik terapi, ELT adalah gerakan empati sebuah ajakan untuk melihat diri dengan kasih, bukan dengan penilaian. Kesehatan mental bukan hanya soal “menyembuhkan yang sakit”, tapi juga tentang membangun budaya saling memahami dan mendukung. Di masyarakat yang terbiasa menuntut kesempurnaan, belajar berempati pada diri sendiri bisa menjadi bentuk revolusi kecil menuju kesejahteraan bersama.

 

Penulis : Regizki Maulia

A Photo by Kampus Production at Pexels.com

Bagaimana Upaya Meningkatkan Pertumbuhan Pasca-Trauma pada Individu dengan Pengalaman Masa Kecil yang Buruk (ACEs)?

Artikel Psikologi Tuesday, 11 November 2025

Masa kanak-kanak merupakan periode yang paling penting dalam perkembangan sepanjang rentang hidup manusia. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman dan stabil, termasuk dukungan orang tua secara konsisten dalam memenuhi kebutuhan dasar dan membantu mereka mengenal dunia. Anak yang tumbuh dengan pengasuh yang konsisten akan merasa aman dan mengembangkan konsep diri yang sehat. Namun sebaliknya, anak yang tumbuh dalam lingkungan tidak stabil atau penuh tekanan akan lebih rentan mengalami stres berlebihan dan masalah psikologis di kemudian hari. Pengalaman pada masa kanak-kanak hingga usia 18 tahun yang menyebabkan stres dan trauma disebut dengan Adverse Childhood Experience atau ACEs.


Apa yang dimaksud dengan ACEs dan apa saja dampaknya?

Pengalaman masa kecil yang buruk (ACEs) seperti sering dimarahi, diremehkan, atau ditolak oleh orang tua, kemungkinan berdampak hingga ia dewasa. Misalnya, akan merasa kesulitan membangun hubungan yang aman dengan orang lain, mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem, dan gangguan pola makan. ACEs tidak hanya berpengaruh terhadap emosi dan perilaku, tetapi juga berdampak negatif pada perkembangan otak dan kondisi neurobiologis, misalnya menyebabkan ketidakseimbangan hormon kortisol, yaitu hormon yang berperan penting dalam respons tubuh terhadap tekanan atau stres. Pengalaman traumatik yang diakibatkan oleh pengalaman masa kecil memiliki berbagai dampak negatif. Oleh karenanya, apabila mengalami trauma, seseorang tidak bisa hanya ‘melupakan’ pengalaman tersebut, tetapi perlu membangun kembali cara pandang menjadi kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan menemukan makna baru dalam hidup. 

 

Perubahan Positif Setelah Mengalami Pengalaman Traumatis

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa individu dapat mengalami pertumbuhan positif setelah melewati pengalaman traumatis, yang dikenal dengan posttraumatic growth (PTG). PTG merupakan perubahan psikologi secara positif yang terjadi setelah seseorang berhasil mengatasi pengalaman traumatis. PTG dapat memperluas cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku, serta membantu mereka membangun kembali pandangan terhadap kehidupan (Blevins & Tedeschi, 2022). PTG terdiri dari lima dimensi, yaitu kekuatan pribadi (personal strength), kemungkinan baru (new possibilities), hubungan dengan orang lain (relating to others), perubahan spiritual (spiritual change), dan kemampuan untuk menghargai kehidupan (appreciation of life).

 

Upaya membangun PostTraumatic Growth dengan Forgiveness Therapy

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan positif setelah mengalami trauma seseorang atau PTG adalah melalui psikoterapi pendekatan kognitif-perilaku (Cognitive Behavior Therapy). Menurut Roepke (2015), intervensi melalui terapi pendekatan kognitif-perilaku yang berupa terapi kognitif (cognitive therapy), terapi paparan (exposure therapy), terapi menulis ekspresif (expressive writing therapy), dan terapi manajemen stres (stress management training). Intervensi tersebut bertujuan membantu individu mengatasi trauma, menemukan makna baru, serta memperkuat aspek positif dalam diri, yang merupakan inti dari posttraumatic growth.

 Terapi pemaafan atau forgiveness therapy telah banyak dilakukan pada beberapa studi. Artikel ini mengutip paper yang berjudul “Forgiveness Therapy to Enhance Posttraumatic Growth in Individuals with Adverse Childhood Experiences” pada tahun 2025. Penelitian ini dilakukan oleh Dita Permata Aditya dan Muhana Sofiati Utami yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi pemaafan (forgiveness therapy) dalam meningkatkan posttraumatic growth (PTG) pada individu yang memiliki pengalaman masa kecil yang buruk (Adverse Childhood Experiences/ACEs). Penelitian ini melibatkan 16 partisipan muda yang dibagi kedalam dua kelompok, yaitu kelompok kontrol yang tidak mendapat terapi pemaafan dan kelompok eksperimen yang mendapat terapi pemaafan, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 8 partisipan. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa terapi pemaafan atau forgiveness therapy berhasil meningkatkan pertumbuhan pasca trauma secara signifikan. Hal ini diketahui berdasarkan adanya perubahan skor antara waktu pengukuran pre-test, post test 1 dan post test 2.

Adapun tahapan terapi pemaafan ini terbagi menjadi empat tahapan. Tahap pertama adalah regulasi emosi menggunakan teknik relaksasi. Teknik ini mampu membantu partisipan merasa lebih tenang dan rileks, serta memungkinkan mereka melihat situasi secara objektif. Selain itu, teknik relaksasi juga berperan dalam mengurangi kecenderungan untuk menghindari hal-hal yang memicu emosi maupun ingatan yang traumatis. Tahapan kedua, adalah self-disclosure atau keterbukaan diri. Self disclosure membantu membuka perasaan dan pikiran yang tersembunyi pada individu serta mendorong individu untuk mendapatkan insight terhadap permasalahan dan solusi dari permasalahan tersebut. Lebih lanjut, proses keterbukaan diri dapat mengurangi beban emosional yang muncul dari pengalaman traumatis, memperkuat kemampuan berpikir reflektif, dan membantu individu menemukan makna dari peristiwa tersebut. Proses untuk keterbukaan diri dapat dilakukan dengan beberapa media seperti bercerita, menulis, dan art therapy. Tahapan ketiga terapi pemaafan adalah teknik reframing atau mengubah cara berpikir. Teknik ini membantu partisipan dalam mengurangi pikiran negatif tentang “mengapa” mereka mengalami ini menjadi melihat diri mereka lebih positif dan meningkatkan self-confidence. Terakhir, tahap keempat merupakan penerimaan dukungan melalui interaksi antar anggota dalam kelompok terapi. Rasa kebersamaan dan dukungan sosial yang terbentuk membantu partisipan menyadari bahwa mereka tidak menghadapi permasalahan ini seorang diri, sekaligus memperkuat relasi sosial serta menumbuhkan motivasi untuk menerapkan pola asuh yang lebih sehat di masa depan.

 

Penulis : Ikke Pradima Sari (Magister Psikologi Minat Mind, Brain, and Performance)

A Photo by RDNE Stock project at Pexels.com

Universitas Gadjah Mada

Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
fpsi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 ext 158
+62 (274) 550435

© Universitas Gadjah Mada