Perkembangan sosial dan emosional anak merupakan cerminan dari kematangan sosial dan emosional orang tua. Benarkah demikian? Masa kanak-kanak dipandang sebagai fase krusial dan progresif bagi perkembangan konsep diri, termasuk kemampuan sosio-emosional anak. Orangtua, terutama ibu sebagai figur sosial terdekat bagi anak berperan penting dalam pemberian teladan maupun bimbingan sosial dan emosional yang tepat. Pola pengasuhan yang dilakukan orang tua pada perkembangan ini dapat menjadi sebuah stimulasi atau bahkan penghambat. Data WHO menunjukkan bahwa 20% anak di seluruh dunia mengalami masalah perkembangan sosio-emosional akibat ketidaktepatan pola asuh.
Mungkin, kalau berdomisili di Yogyakarta, kamu nggak asing sama Rumah Sakit Jiwa Grhasia atau Rumah Sakit Khusus Puri Nirmala, salah dua tempat rehabilitasi gangguan jiwa. Tapi, pernah enggak kamu mendengar soal Pondok Tetirah Dzikir? Pondok yang berada di Sleman, Yogyakarta ini telah didirikan semenjak tahun 2001. Sebagai tempat rehabilitasi, Pondok Tetirah Dzikir memadukan pendekatan spiritualitas dan konsep komunitas. Pondok ini juga berusaha membantu individu dengan gangguan jiwa dan individu yang terjebak dalam penyalahgunaan zat psikoaktif sebagai upaya mewujudkan tujuan global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs nomor 3.
Apakah kalian pernah membaca chat seperti “Baik. Terima kasih pak/bu 🙏”, “menty b banget hari ini.” atau “iyaa siih” ?
Bagi generasi sebelum Gen Z, bahasa atau gaya komunikasi yang digunakan Gen Z itu membingungkan. Lalu, kenapa sih Gen Z punya gaya komunikasi yang berbeda dengan generasi mereka?
Gen Z lebih banyak berkomunikasi lewat sosial media seperti Tik Tok, Instagram, dan X daripada generasi sebelumnya. Bahkan, sosial media seolah-olah menjadi kehidupan kedua bagi mereka karena mereka sangat aktif menggunakan sosial media. Sosial media menjadi salah satu faktor penyebab dari perbedaan gaya komunikasi mereka dengan generasi sebelumnya yang menggunakan struktur kalimat kompleks dan panjang dan cenderung formal.
Akhir-akhir ini, istilah dalam dunia pengasuhan semakin beragam, salah satunya adalah pendekatan gentle parenting. Pendekatan ini semakin populer di kalangan para orang tua setelah banyak tokoh di sosial media yang membuat konten mengenai pendekatan ini. Semakin populernya pendekatan ini menjadi sebuah tanda tanya, apakah pendekatan ini merupakan pendekatan ilmiah, pendekatan yang merujuk pada pendekatan ilmiah tertentu, atau hanya sekedar pendekatan yang populer yang berkembang di masyarakat?
Pernahkah anda merasa kesulitan berhenti scroll social media, meskipun awalnya berniat membuka social media hanya 5-10 menit saja?
Ternyata ini kerap terjadi, terutama ketika aktivitas scrolling ini dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga dalam jumlah pengguna media sosial aktif, dengan total mencapai 143 juta pengguna. Rata-rata, orang Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Angka ini tentu sangat fantastis, bayangkan jika durasi tersebut dialihkan untuk kegiatan yang lebih produktif.
Pernahkah kamu merasa bahwa media sosial seolah-olah tahu apa yang kamu pikirkan? Setiap kali kamu scrolling laman media sosial, muncul konten dan info-info yang relevan satu sama lain.
Kok bisa sih?
Ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil kerja keras algoritma yang dirancang untuk memahami kebiasaan kita. Sebenarnya, seberapa besar sih pengaruh algoritma ini? Apakah kita selalu punya kendali dalam melihat informasi atau justru algoritma yang diam-diam membentuk perilaku kita? Yuk, kita kupas lebih lanjut bagaimana algoritma bekerja dan dampaknya bagi keseharian kita.
Perkembangan dalam sistem transaksi keuangan saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak menggunakan uang tunai, kini metode pembayaran non-tunai mulai mengambil alih. Seiring pergeseran menuju ekonomi digital, penggunaan uang elektronik dan transaksi berbasis kartu semakin meningkat. Kemajuan teknologi yang cepat dan mudah diakses turut mendorong pertumbuhan e-commerce, yang memanfaatkannya untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Salah satu inovasi terbaru dalam layanan keuangan digital adalah paylater, sebuah metode pembayaran yang mirip dengan kartu kredit namun tidak memerlukan kartu fisik.
Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta kembali dengan episode terbaru OPSI: Obrolan Psikologi. Pada episode 3 yang tayang Selasa, 6 Mei 2025, pukul 15.00 – 16.00 WIB, tema yang diangkat adalah “Sekolah Sejahtera Pondasi Generasi Emas: Pilar Masa Depan Bangsa”.
Episode ini menghadirkan Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog sebagai narasumber. Diana memiliki minat penelitian dalam pengembangan sistem kesehatan mental dengan pendekatan multilevel, dengan keluarga dan sekolah sebagai peran utama. Bidang keahliannya mencakup Psikologi dan Ilmu Kognitif, dengan fokus pada Psikologi Biologis (Neuropsikologi, Psikofarmakologi, Psikologi Fisiologis) serta Psikologi Kesehatan, Klinis, dan Konseling. Beliau juga aktif dalam berbagai asosiasi profesional dan aktif melakukan berbagai penelitian bersama Center for Public Mental Health (CPMH) Psikologi UGM.