• Tentang UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan
  • LPPM UGM
Universitas Gadjah Mada UNIVERSITAS GADJAH MADA
KANAL PENGETAHUAN PSIKOLOGI
  • Beranda
  • E-Learning
    • Kuliah Terbuka
    • Kuliah Tamu
    • Artikel Psikologi
    • Podcast
    • Video Pembelajaran
  • Riset & Publikasi
    • Artikel Riset dan Publikasi
    • 3 Minute Thesis
  • Menara Ilmu
    • Kesehatan Mental Masyarakat
    • Psikologi Indigenous & Budaya
    • Proses Mental & Perilaku
    • Rentang Perkembangan Manusia
    • Psikodiagnostika
    • Pengembangan Kualitas Manusia
  • Tokoh Psikologi
  • Beranda
  • psikologiugm
  • psikologiugm
  • page. 3
Arsip:

psikologiugm

Gaya Bahasa Gen Z : Gaya Komunikasi Nyeleneh yang Sarat Makna

Artikel Psikologi Thursday, 26 June 2025

Apakah kalian pernah membaca chat seperti “Baik. Terima kasih pak/bu 🙏”, “menty b banget hari ini.” atau “iyaa siih” ? 

Bagi generasi sebelum Gen Z, bahasa atau gaya komunikasi yang digunakan Gen Z itu membingungkan. Lalu, kenapa sih Gen Z punya gaya komunikasi yang berbeda dengan generasi mereka?

Gen Z lebih banyak berkomunikasi lewat sosial media seperti Tik Tok, Instagram, dan X daripada generasi sebelumnya. Bahkan, sosial media seolah-olah menjadi kehidupan kedua bagi mereka karena mereka sangat aktif menggunakan sosial media. Sosial media menjadi salah satu faktor penyebab dari perbedaan gaya komunikasi mereka dengan generasi sebelumnya yang menggunakan struktur kalimat kompleks dan panjang dan cenderung formal. 

Gentle Parenting: Pendekatan Populer atau Strategi Pengasuhan Berbasis Ilmiah?

Artikel Psikologi Thursday, 26 June 2025

Akhir-akhir ini, istilah dalam dunia pengasuhan semakin beragam, salah satunya adalah pendekatan gentle parenting. Pendekatan ini semakin populer di kalangan para orang tua setelah banyak tokoh di sosial media yang membuat konten mengenai pendekatan ini. Semakin populernya pendekatan ini menjadi sebuah tanda tanya, apakah pendekatan ini merupakan pendekatan ilmiah, pendekatan yang merujuk pada pendekatan ilmiah tertentu, atau hanya sekedar pendekatan yang populer yang berkembang di masyarakat?

Neurosains Dibalik Kecanduan Media Sosial: Bagaimana Algoritma Memanipulasi Otak dan Perilaku Kita?

Artikel Psikologi Wednesday, 25 June 2025

Pernahkah anda merasa kesulitan berhenti scroll social media, meskipun awalnya berniat membuka social media hanya 5-10 menit saja?

Ternyata ini kerap terjadi, terutama ketika aktivitas scrolling ini dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga dalam jumlah pengguna media sosial aktif, dengan total mencapai 143 juta pengguna. Rata-rata, orang Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Angka ini tentu sangat fantastis, bayangkan jika durasi tersebut dialihkan untuk kegiatan yang lebih produktif.

Menilik Bagaimana Algoritma Media Sosial Bekerja: Bagaimana Pengaruhnya bagi Perilaku Kita?

Artikel Psikologi Tuesday, 24 June 2025

Pernahkah kamu merasa bahwa media sosial seolah-olah tahu apa yang kamu pikirkan? Setiap kali kamu scrolling laman media sosial, muncul konten dan info-info yang relevan satu sama lain.

Kok bisa sih?

Ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil kerja keras algoritma yang dirancang untuk memahami kebiasaan kita. Sebenarnya, seberapa besar sih pengaruh algoritma ini? Apakah kita selalu punya kendali dalam melihat informasi atau justru algoritma yang diam-diam membentuk perilaku kita? Yuk, kita kupas lebih lanjut bagaimana algoritma bekerja dan dampaknya bagi keseharian kita.

Sekolah Sejahtera Pondasi Generasi Emas

Obrolan Psikologi Wednesday, 7 May 2025

Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta kembali dengan episode terbaru OPSI: Obrolan Psikologi. Pada episode 3 yang tayang Selasa, 6 Mei 2025, pukul 15.00 – 16.00 WIB, tema yang diangkat adalah “Sekolah Sejahtera Pondasi Generasi Emas: Pilar Masa Depan Bangsa”.

Episode ini menghadirkan Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog sebagai narasumber.  Diana memiliki minat penelitian dalam pengembangan sistem kesehatan mental dengan pendekatan multilevel, dengan keluarga dan sekolah sebagai peran utama. Bidang keahliannya mencakup Psikologi dan Ilmu Kognitif, dengan fokus pada Psikologi Biologis (Neuropsikologi, Psikofarmakologi, Psikologi Fisiologis) serta Psikologi Kesehatan, Klinis, dan Konseling. Beliau juga aktif dalam berbagai asosiasi profesional dan aktif melakukan berbagai penelitian bersama Center for Public Mental Health (CPMH) Psikologi UGM.

Klik, Pinjam, Menyesal: Memahami Pinjol secara Neurosains

Obrolan Psikologi Wednesday, 30 April 2025

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan TVRI Yogyakarta kembali menghadirkan OPSI: Obrolan Psikologi, sebuah talk show interaktif mingguan. Episode kedua yang tayang pada Selasa, 29 April 2025, pukul 15.00-16.00 WIB, membahas tema “Klik, Pinjam, Menyesal: Memahami Pinjol secara Neurosains”.

Selflessness Vs Self Love

Artikel Psikologi Tuesday, 29 April 2025

Siapa, sih, manusia yang tidak mencintai dirinya sendiri? Manusia selalu memiliki rasa cinta terhadap dirinya. Hanya saja, kadar cinta setiap individu berbeda. Ada yang kadar self love-nya rendah sehingga ia cenderung memandang negatif dirinya, menganggapnya sebagai sosok yang hanya penuh kekurangan tanpa sedikitpun kelebihan. Di lain sisi, ada juga manusia yang rasa cinta terhadap dirinya sangat tinggi. Akibatnya, ia tumbuh menjadi sosok egois yang minim empati terhadap orang lain.

Apa itu self love? Bagaimana agar self love tidak menjadi berlebihan? Bagaimana konsep selfless dan pengaruhnya bagi kehidupan ini? Apakah selfless sama dengan people pleasure? Yuk, baca artikel ini sampai tuntas.

=&0=&=&1=&

Self love hanyalah istilah yang berkembang dalam psikologi modern dan semakin populer di kalangan masyarakat saat ini. Wajar saja jika definisi self love tidak akan pernah dapat kita temui di definisi para tokoh psikologi karena memang tidak ada satupun individu yang dilabeli sebagai penemu konsep ini. Namun, terdapat beberapa tokoh penting dalam psikologi yang mengembangkan gagasan yang berkaitan dengan self love. Gagasan para tokoh tersebut akan membangun paradigma berpikir kita tentang self love. 

Pertama yakni konsep self acceptance (penerimaan diri) yang digagas oleh Carl Rogers, seorang tokoh utama psikologi humanistik. Rogers menyatakan bahwa untuk mencapai potensi terbaiknya, manusia perlu untuk menerima secara utuh dirinya tanpa syarat apapun. Saat manusia mampu menerima kondisi dirinya, baik kelebihan maupun kekurangannya, maka ia akan merasakan kesejahteraan emosional.

Konsep kedua adalah self esteem (harga diri) yang dicetuskan oleh Nathaniel Branden. Branden mengemukakan bahwa harga diri terdiri dari dua elemen utama, yaitu rasa layak dan rasa kompetensi. Rasa layak berhubungan dengan sejauh mana seorang individu yakin bahwa dirinya layak untuk bahagia, sukses, dan dihormati terlepas dari semua kekurangan dan kesalahan yang pernah dibuatnya. Elemen rasa kompetensi mencakup kepercayaan diri untuk menyelesaikan tugas harian sekaligus tantangan kehidupan.

Selanjutnya terdapat pula konsep self compassion (belas kasih pada diri sendiri) yang dikembangkan oleh Kristin Neff.  Belas kasih pada diri sendiri dibutuhkan terutama saat diri sedang mengalami kegagalan. Alih-alih mengkritik diri dengan sangat keras saat gagal, seseorang yang memiliki belas kasih pada diri sendiri akan lebih memilih untuk berkata, “Kegagalan ini memang menyakitkan, tetapi semua orang pasti mengalami kegagalan. Saya akan belajar dari pengalaman ini dan memberikan diri saya izin untuk memperbaiki kesalahan”.

Ada pula konsep authenticity (keaslian diri) oleh Brene Brown. Nah, keaslian diri ini sangat erat kaitannya dengan menjadi diri sendiri yang asli, jujur, dan tidak terpengaruh oleh ekspektasi atau penilaian orang lain. Agama juga menegaskan pentingnya mengenal diri sendiri yang asli, karena ia dapat menjadi jalan untuk lebih memahami tujuan hidup serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus sesama manusia.

Berdasarkan pemaparan tentang konsep psikologi yang erat kaitannya dengan self love, kita dapat memahami bahwa self love sangat dekat dengan perasaan cukup pada diri sendiri. Ringkasnya, self love muncul saat seseorang mampu mengenal dirinya dengan baik, menerima setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, menghargai diri sendiri, dan memberikan cinta kasih pada diri dengan ikhlas tanpa syarat apapun.

=&2=&=&3=&=&4=&

Self love memang baik karena ia mencakup cinta dan perhatian terhadap diri sendiri, namun bisa jadi berbahaya ketika ia dimaknai dan dipersepsikan sebagai pride of self (kekaguman yang besar pada diri sendiri). Ketika hal ini terjadi, maka akibatnya akan terjadi self centered yang mana di dalamnya terdapat egoisme, obsesi diri, sangat fokus terhadap diri sendiri, dan mementingkan diri sendiri. Orang yang memiliki self love ekstrem cenderung memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk mencapai ambisi yang diinginkan.

Self love ekstrem perlu diwaspadai karena dapat memicu timbulnya permasalahan psikis yang lebih parah, seperti contohnya Narcissistic Personality Disorder (NPD). NPD ditandai dengan adanya pikiran dan perilaku sombong, manipulatif, tidak memiliki empati, merasa ada kebutuhan untuk dikagumi, merasa dirinya harus menjadi pusat, dan menyeru orang lain untuk mendengarkan dirinya. Selain NPD, gangguan kepribadian yang erat kaitannya dengan self centered adalah psikopat, sosiopat, bipolar, dsb.

“Wah, berarti semisal ada orang yang egois banget, maka dapat diartikan dia memiliki indikasi gangguan kepribadian, dong? Contohnya, orang yang lebih mementingkan me time dengan dalih self love padahal sebenarnya dia harus menghadiri rapat atau kepentingan umum lainnya”.

Eits, tidak segampang itu, ya. Gangguan kepribadian dapat ditegakkan hanya oleh tenaga profesional, yaitu psikolog klinis atau psikiater. Jadi, jangan asal menuduh orang-orang sekitar yang menurut pandangan kita egois sebagai pengidap gangguan kepribadian tertentu, ya.

Nah, di pembahasan berikutnya mari membahas tentang konsep selfless. Hm, kok kontradiksi ya dengan self love? Memang secara sekilas terdengar kontradiksi, namun sebenarnya selfless merupakan sebuah topik yang berkembang di literatur psikologi yang menekankan tentang perilaku tanpa pamrih. Selfless bisa menjadi opsi untuk meruntuhkan benteng keegoisan pada diri manusia. Menariknya, selfless juga dibahas pada literatur keagamaan. Penasaran, kan? Yuk, simak bareng-bareng paparan berikut.

=&5=&=&6=&

Teman-teman pasti percaya bahwa cara pandang manusia turut dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Kemudian, cara seseorang berpikir dan memandang sesuatu juga memengaruhinya dalam bersikap. Contoh, kehidupan pasca kematian. Bagi manusia yang tidak percaya maka ia akan menjadikan kehidupan sebagai ajang untuk menjadi yang tercantik, terkaya, tersukses, terbesar, dan ter- lainnya sampai menghalalkan segala macam cara hanya demi memuaskan ambisi hidupnya. Lain halnya dengan orang yang percaya bahwa terdapat kehidupan setelah kematian, ia akan mencoba menjalani hidup dengan bijak, hati-hati, tidak terlalu mengambisikan dunia, dan meyakini bahwa tidak ada manusia besar selain Tuhan yang Maha Besar.

Psikologi mengkaji sebuah topik yang masih belum dipahami oleh banyak orang, yakni

selflessness. Selflessness read more

Cognitive Resource Efficiency: Menggunakan Kapasitas Mental Secara Optimal

Artikel Psikologi Monday, 28 April 2025

Pernahkah di antara kita ada yang terkadang merasa lebih mudah lelah tak cuma secara fisik tapi juga mental? Nah, ini sebenarnya ada kaitannya dengan bagaimana kita mengefisienkan energi/ cognitive resources yang kita punya dalam menjalankan peran kita dalam kehidupan sehari-hari. Efisiensi cognitive resource mengacu pada cara kita mengelola dan mengoptimalkan resource kita untuk mencapai tujuan hidup dengan lebih efektif. 

Manfaat Olahraga dalam Perspektif Neuropsikologi

Artikel Psikologi Friday, 13 September 2024

Belakangan ini, sosial media marak dibanjiri dengan konten olahraga, mulai dari gym, lari, tenis, golf, yoga, pilates, berkuda, dan masih banyak lagi. Tren ragam komunitas olahraga yang ramai saat ini merupakan salah satu bukti akan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan. Dilansir dari medical wellness Indonesia 2024, masyarakat Indonesia semakin sadar akan menjaga kesehatan secara optimal, salah satunya dengan berolahraga. Perlu diketahui juga, bahwa kegemaran terhadap olahraga merupakan salah satu bentuk dari coping mechanism loh! 

Apakah teman teman tau disamping memberi manfaat secara fisik, olahraga bermanfaat bagi kesehatan mental dan kognitif? Agar semakin semangat berolahraga dan melakukan olahraga hanya tidak karena FOMO atau takut ketinggalan tren, artikel berikut ini akan membahas tentang manfaat olahraga dari perspektif neuropsikologi, dengan memberi pemahaman bagaimana olahraga dapat mempengaruhi fungsi otak dan kesehatan mental.

=&0=&

Neuropsikologi merupakan pemahaman tentang bagaimana otak dan strukturnya berpengaruh terhadap pemikiran dan perilaku manusia. Misalnya, dalam perencanaan, pengambilan keputusan, berkomunikasi, mengendalikan emosi, respon terhadap stress, hingga berolahraga melibatkan peran dan fungsi otak dan susunannya.

Saat kita berolahraga, jantung memompa darah lebih kuat dan cepat sehingga meningkatkan aliran darah ke otak. Peningkatan aliran darah dari jantung berperan penting untuk menyalurkan nutrisi yang dibutuhkan otak dalam menjalankan tugasnya. Sehingga, aliran darah dan nutrisi akibat olahraga dapat membantu otak agar bekerja secara optimal.

Perlu diketahui, bahwa saat kita berolahraga beberapa bagian di otak kita terlibat dalam aktivitas fisik yang masing-masing memainkan peran yang berbeda dalam mengkoordinasikan gerakan dan mengatur fungsi tubuh, mulai dari motor cortex di lobus frontal yang berfungsi untuk mengontrol gerakan, basal ganglia di dasar otak yang berfungsi dalam pengendalian gerakan otomatis seperti berjalan, cerebellum atau otak kecil di bagian otak belakang yang berfungsi untuk mengatur kontraksi otot dan menjaga keseimbangan, hippocampus di lobus temporal berperan dalam pembentukan memori dan aktivitas fisik seperti aerobik dapat meningkatkan neurogenesis di area hippocampus, dan prefrontal cortex di bagian depan otak atau lobus frontal yang bertanggung jawab sebagai fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan, perencanaan, dan lain sebagainya. 

Disamping itu, di dalam otak kita terdiri dari milyaran neuron atau sel saraf yang berkomunikasi satu sama lain. Untuk berkomunikasi dan membawa pesan antar neuron, membutuhkan senyawa kimia yang disebut dengan neurotransmitter. Kita mungkin sudah tidak asing dengan istilah dopamin, serotonin, dan endorfin, istilah-istilah tersebut merupakan jenis neurotransmitter. Di otak manusia juga terdiri dari banyak jenis neurotransmitter yang masing-masing memiliki fungsi spesifik. Saat kita berolahraga, produksi neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin meningkat untuk memfasilitasi dan memberi efek positif dari aktivitas fisik, serta mengurangi produksi hormon kortisol. Dopamin biasanya identik dengan hormon bahagia yang bertanggung jawab untuk membuat kita merasa bahagia, misalnya saat kita rutin olahraga dan mencapai berat badan ideal, hormon ini akan diproduksi dalam jumlah yang lebih banyak. Kemudian, serotonin merupakan hormon yang berperan dalam mengatur suasana hati, tidur, dan nafsu makan. Saat berolahraga, produksi serotonin meningkat dan memberi suasana hati yang bahagia hingga mengurangi gejala depresi, selain itu peningkatan serotonin setelah olahraga juga membantu meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi kecemasan.

=&1=&

Setelah melakukan berbagai aktivitas seharian, mengejar tumpukan deadline, berinteraksi dengan beragam karakter orang, bisa menjadi sangat melelahkan dan memicu stress. Stres merupakan respons alami yang mendorong kita untuk menghadapi tantangan dan ancaman dalam kehidupan. Kita tentu mengalami stress setiap harinya di level tertentu. Apabila stress yang kita alami stress ringan, akan membantu kita dalam menjalani aktivitas sehari-hari, karena dapat meningkatkan kewaspadaan, fokus, hingga kita mampu menyelesaikan tugas dengan lebih efektif. Namun, apabila stres yang dialami merupakan stres tingkat tinggi, cara kita meresponnya akan mempengaruhi kesehatan tubuh dan pikiran. 

Stres yang kita alami, terkadang membuat kita sulit untuk rileks, sulit untuk berkonsentrasi, atau menimbulkan kecemasan dan mudah tersinggung. Tingkat stres yang tinggi juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, sulit tidur, hilangnya nafsu makan atau bahkan nafsu makan yang berlebih.

Untuk mengatasi stress harian, cobalah untuk mempelajari teknik manajemen stress yang berguna untuk mengurangi beban dan mendukung kesehatan fisik dan mental. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah berolahraga secara rutin. Dengan berolahraga secara rutin, bahkan dengan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki dapat membantu mengurangi stress dan rasa cemas, sehingga tidur di malam hari menjadi lebih mudah tanpa insomnia dan overthinking. Selain itu, olahraga yang dilakukan pagi, siang, atau sore hari juga mendukung kualitas tidur yang lebih baik.

Peran olahraga dalam mengurangi stres, depresi, dan kecemasan telah terbukti melalui berbagai penelitian. Di antaranya, penelitian systematic review oleh Chong dkk pada tahun 2022 yang menjelaskan bahwa olahraga aerobik, dan tai chi dapat mengurangi kecemasan. Latihan badan dan pikiran seperti yoga, dan pilates juga dapat mengurangi kecemasan.

=&2=&

Selain bermanfaat terhadap kesehatan fisik dan mental, olahraga juga mampu menstimulasi bagian otak yang berfungsi dalam memori, pembelajaran dan meningkatkan berbagai fungsi kognitif, seperti atensi, memori kerja, fungsi eksekutif, dan fleksibilitas kognitif. 

Saat berolahraga, area prefrontal korteks di otak juga menunjukkan respon positif karena terjadinya peningkatan aliran darah selama aktivitas fisik, dan memberi lebih banyak oksigen dan nutrisi ke otak, sehingga mendukung kesehatan dan fungsi otak secara keseluruhan. Prefrontal korteks merupakan bagian otak yang terletak di bagian depan atau lobus frontal, dan berperan penting dalam pengambilan keputusan yang kompleks, perencanaan jangka panjang, pemecahan masalah, atensi, dan pengendalian diri. 

Selain itu, olahraga dan aktivitas fisik berperan penting dalam mendukung neuroplastisitas atau plastisitas otak. Plastisitas otak merupakan kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi neural baru sepanjang hidup. Plastisitas otak ini berperan penting dalam proses pemulihan dari cedera otak, serta membantu melawan penurunan kognitif terkait dengan penuaan seperti pikun. Dengan berolahraga atau latihan fisik secara teratur, dapat mengurangi keparahan gangguan gejala mental seperti depresi, penyakit Alzheimer, dan Parkinson. 

=&3=&

Jika kamu belum menjadikan olahraga sebagai rutinitasmu, mungkin kamu bisa mencoba beberapa tips dibawah ini:

  • Tanyakan pada dirimu, olahraga apa yang kamu senangi? 
  • Mulailah membangun habit olahraga, meskipun sebentar sekitar 30 menit per hari, seperti bersepeda, berjalan kaki, atau berenang
  • Kalau kamu punya smartwatch, kamu bisa memonitor langkah harianmu, dan mulailah membuat goals langkah per hari. Misalnya, untuk membangun habit, kamu bisa mengawalinya dengan target 1000 langkah per hari, kemudian 3000 langkah, 6000 dan seterusnya. 
  • Jika tidak nyaman berolahraga di tempat umum seperti tempat gym, kamu bisa memulainya di rumah, dengan melihat langkah-langkah olahraga virtual dari Youtube,
  • Apabila olahraga sendirian terasa membosankan, cobalah untuk mengikuti komunitas olahraga tertentu untuk membangun vibes olahraga yang menyenangkan
  • Awalnya, olahraga mungkin terasa sulit dijadikan rutinitas, tapi kamu perlu memotivasi dirimu dengan mengingat kembali manfaat olahraga. Bahwa, olahraga mampu membantumu beristirahat dengan lebih berkualitas, mengurangi stress, dan menciptakan rasa bahagia.
  • read more

    Kognisi Politik: Memandang Perilaku Politik dari Sudut Pandang Kognitif

    Artikel Psikologi Thursday, 30 November 2023

    Para politisi

    seringkali menggunakan berbagai cara untuk memenangkan suara selama kampanye pemilihan umum. Beberapa di antaranya mencakup pemanfaatan popularitas partai dan pemimpin, representasi diri sebagai pelindung identitas nasional dan bahkan keberagamaan, serta membentuk koalisi dengan partai lain. Para aktor politik sering kali didorong oleh motivasi untuk meningkatkan elektabilitas mereka di hadapan masyarakat untuk memimpin masyarakat ke arah tertentu. read more

    12345
    Universitas Gadjah Mada

    Fakultas Psikologi
    Universitas Gadjah Mada
    Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
    Yogyakarta 55281 Indonesia
    fpsi[at]ugm.ac.id
    +62 (274) 550435 ext 158
    +62 (274) 550435

    © Universitas Gadjah Mada

    KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY