World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Setengah dari insiden bunuh diri dunia terjadi di negara kawasan Asia, namun di kawasan tersebut perilaku terkait bunuh diri masih kurang diteliti. Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa 40% orang dewasa mengalami ide bunuh diri selama pandemi COVID-19, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 18–24 tahun. Ide bunuh diri ini merupakan faktor risiko utama bagi perilaku dan percobaan bunuh diri.
psikologiugm
Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa orang Asia cenderung berhati-hati dalam menyampaikan emosi, bahkan lebih memilih diam demi menjaga hubungan tetap harmonis? Jawabannya ada pada budaya, warisan nilai dan norma yang membentuk cara kita berpikir, merasa, hingga berperilaku. Budaya di Asia menekankan empati dan keharmonisan sehingga orang terbiasa lebih peka terhadap perasaan sesama. Kedekatan budaya dengan kehidupan sehari-hari membuat budaya terus-menerus memengaruhi mentalitas, pikiran, emosi, dan tindakan manusia.
Sejak pandemi COVID-19, istilah Work from Home (WFH) menjadi semakin populer. Berbagai perusahaan terutama di sektor digital seperti startup dengan cepat beradaptasi membentuk tim virtual. Bahkan, pembentukan tim virtual di startup Indonesia mengalami peningkatan sebesar 18% selama masa pandemi. Berbeda dengan tim tradisional yang berada di lokasi yang sama, tim virtual adalah tim kerja yang anggotanya tersebar di berbagai lokasi dan mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi dan berkolaborasi mencapai tujuan. Tren ini bukan hanya sementara. Sebuah survei di tahun 2020 menunjukkan bahwa 70% dari 2.700 pekerja global lebih memilih untuk terus bekerja secara virtual. Lebih lanjut, dari 80% perusahaan global yang menerapkan kebijakan tim virtual selama pandemi, 64% di antaranya kini menjadikan kebijakan tersebut permanen.
Tim Hibah Kreativitas Mahasiswa Fakultas Psikologi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus untuk mengupayakan peningkatan kesadaran mengenai sampah serta menambah pengetahuan secara komprehensif dan praktis mengenai sistem pengelolaan sampah yang baik guna mendorong perubahan perilaku dalam memilah dan mengelola sampah secara berkelanjutan. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menumbuhkan perilaku prososial terhadap kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah berbasis komunitas. Untuk mewujudkan hal tersebut, tim berkolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terletak di sasaran lokasi, yaitu Dusun Mejing Wetan, Ambarketawang, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perkembangan sosial dan emosional anak merupakan cerminan dari kematangan sosial dan emosional orang tua. Benarkah demikian? Masa kanak-kanak dipandang sebagai fase krusial dan progresif bagi perkembangan konsep diri, termasuk kemampuan sosio-emosional anak. Orangtua, terutama ibu sebagai figur sosial terdekat bagi anak berperan penting dalam pemberian teladan maupun bimbingan sosial dan emosional yang tepat. Pola pengasuhan yang dilakukan orang tua pada perkembangan ini dapat menjadi sebuah stimulasi atau bahkan penghambat. Data WHO menunjukkan bahwa 20% anak di seluruh dunia mengalami masalah perkembangan sosio-emosional akibat ketidaktepatan pola asuh.
Apakah kalian pernah membaca chat seperti “Baik. Terima kasih pak/bu 🙏”, “menty b banget hari ini.” atau “iyaa siih” ?
Bagi generasi sebelum Gen Z, bahasa atau gaya komunikasi yang digunakan Gen Z itu membingungkan. Lalu, kenapa sih Gen Z punya gaya komunikasi yang berbeda dengan generasi mereka?
Gen Z lebih banyak berkomunikasi lewat sosial media seperti Tik Tok, Instagram, dan X daripada generasi sebelumnya. Bahkan, sosial media seolah-olah menjadi kehidupan kedua bagi mereka karena mereka sangat aktif menggunakan sosial media. Sosial media menjadi salah satu faktor penyebab dari perbedaan gaya komunikasi mereka dengan generasi sebelumnya yang menggunakan struktur kalimat kompleks dan panjang dan cenderung formal.
Akhir-akhir ini, istilah dalam dunia pengasuhan semakin beragam, salah satunya adalah pendekatan gentle parenting. Pendekatan ini semakin populer di kalangan para orang tua setelah banyak tokoh di sosial media yang membuat konten mengenai pendekatan ini. Semakin populernya pendekatan ini menjadi sebuah tanda tanya, apakah pendekatan ini merupakan pendekatan ilmiah, pendekatan yang merujuk pada pendekatan ilmiah tertentu, atau hanya sekedar pendekatan yang populer yang berkembang di masyarakat?
Pernahkah anda merasa kesulitan berhenti scroll social media, meskipun awalnya berniat membuka social media hanya 5-10 menit saja?
Ternyata ini kerap terjadi, terutama ketika aktivitas scrolling ini dilakukan tanpa tujuan yang jelas. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga dalam jumlah pengguna media sosial aktif, dengan total mencapai 143 juta pengguna. Rata-rata, orang Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Angka ini tentu sangat fantastis, bayangkan jika durasi tersebut dialihkan untuk kegiatan yang lebih produktif.
Pernahkah kamu merasa bahwa media sosial seolah-olah tahu apa yang kamu pikirkan? Setiap kali kamu scrolling laman media sosial, muncul konten dan info-info yang relevan satu sama lain.
Kok bisa sih?
Ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil kerja keras algoritma yang dirancang untuk memahami kebiasaan kita. Sebenarnya, seberapa besar sih pengaruh algoritma ini? Apakah kita selalu punya kendali dalam melihat informasi atau justru algoritma yang diam-diam membentuk perilaku kita? Yuk, kita kupas lebih lanjut bagaimana algoritma bekerja dan dampaknya bagi keseharian kita.
Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta kembali dengan episode terbaru OPSI: Obrolan Psikologi. Pada episode 3 yang tayang Selasa, 6 Mei 2025, pukul 15.00 – 16.00 WIB, tema yang diangkat adalah “Sekolah Sejahtera Pondasi Generasi Emas: Pilar Masa Depan Bangsa”.
Episode ini menghadirkan Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog sebagai narasumber. Diana memiliki minat penelitian dalam pengembangan sistem kesehatan mental dengan pendekatan multilevel, dengan keluarga dan sekolah sebagai peran utama. Bidang keahliannya mencakup Psikologi dan Ilmu Kognitif, dengan fokus pada Psikologi Biologis (Neuropsikologi, Psikofarmakologi, Psikologi Fisiologis) serta Psikologi Kesehatan, Klinis, dan Konseling. Beliau juga aktif dalam berbagai asosiasi profesional dan aktif melakukan berbagai penelitian bersama Center for Public Mental Health (CPMH) Psikologi UGM.