Psikologi menjadi ilmu yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas. Tidak seperti dulu, saat ini kajian tentang psikologi ramai didatangi, baik yang membahas tentang penyembuhan diri, keluarga, pola asuh, pembentukan kebiasaan, pendidikan, bahkan pernikahan. Selain topik tersebut, Psikologi Islam juga semakin banyak diminati dalam beberapa tahun ini. Pertanyaannya, apakah Psikologi Islam memiliki konsep landasan yang sama dengan Psikologi Konvensional?
SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Beberapa tahun terakhir, berita tentang mahasiswa yang mengalami depresi hingga bunuh diri semakin sering terdengar. Tekanan akademik, tuntutan sosial, serta kesepian di perantauan membuat banyak anak muda terjebak dalam perasaan tidak berharga dan kehilangan arah hidup. Survei nasional menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda di Indonesia memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk melakukan perilaku menyakiti diri dibandingkan dengan orang dewasa. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan dan kesehatan mental. Namun, di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, muncul sebuah pendekatan terapi yang menjanjikan, yakni Empathic Love Therapy (ELT), metode psikoterapi yang berfokus pada kasih sayang, penerimaan diri, dan pencarian makna hidup yang baru.
Masa kanak-kanak merupakan periode yang paling penting dalam perkembangan sepanjang rentang hidup manusia. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman dan stabil, termasuk dukungan orang tua secara konsisten dalam memenuhi kebutuhan dasar dan membantu mereka mengenal dunia. Anak yang tumbuh dengan pengasuh yang konsisten akan merasa aman dan mengembangkan konsep diri yang sehat. Namun sebaliknya, anak yang tumbuh dalam lingkungan tidak stabil atau penuh tekanan akan lebih rentan mengalami stres berlebihan dan masalah psikologis di kemudian hari. Pengalaman pada masa kanak-kanak hingga usia 18 tahun yang menyebabkan stres dan trauma disebut dengan Adverse Childhood Experience atau ACEs.
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial tertinggi di dunia, berada dalam pusaran arus informasi visual yang sangat deras. Kemudahan mengakses platform berbasis foto seperti Instagram telah mengubah cara kita bersosialisasi dan secara tidak terhindarkan, cara kita memandang diri sendiri. Sayangnya, hal ini sering kali memperburuk citra tubuh pengguna, karena unggahan di Instagram sering merefleksikan standar ideal yang sulit dijangkau.
Pernah berdiri lama di depan cermin, lalu terus-menerus memikirkan satu atau beberapa ‘cacat’ di tubuhmu yang orang lain bahkan tidak melihat? Rasa tidak puas itu bisa tumbuh menjadi obsesi, hingga membuat hidup seolah hanya berputar pada kekurangan tersebut. Jika hal itu mulai mengganggu keseharianmu, waspadalah, karena itu bisa menjadi tanda Body Dysmorphic Disorder (BDD). Body Dysmorphic Disorder (BDD) dikarakteristikkan sebagai kekhawatiran berlebihan terhadap 1 atau lebih ‘cacat’ di tubuh yang seringkali tidak disadari orang lain. Menurut penelitian, sebanyak 1.9% hingga 2.2% mengalami kondisi ini, dan sebanyak 24 - 28% orang di antaranya pernah melakukan percobaan bunuh diri (suicide).
Anak dengan disabilitas intelektual adalah suatu kondisi perkembangan psikis yang terhenti atau tidak lengkap, utamanya ditandai dengan terjadinya ketidaknormalan perkembangan pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, seperti kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Disabilitas intelektual disebabkan oleh faktor primer dan sekunder. Pada faktor primer yakni adanya keturunan/genetik, sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh faktor luar yang memengaruhi otak, seperti kondisi-kondisi yang terjadi ketika masa prenatal ataupun postnatal serta faktor lainnya.
Bunuh diri menjadi salah satu isu penting dalam kesehatan mental dunia. Pada tahun 2023, WHO mencatat terdapat 700.000 orang meninggal tiap tahunnya. Angka prevalensi tersebut juga didukung hasil penelitian yang menunjukkan bahwa di antara enam anggota keluarga dan 135 anggota komunitas memiliki potensi satu anggota yang melakukan bunuh diri. Tingginya angka tersebut tentu menjadi kekhawatiran bagi masyarakat global. Namun dampak dari tindakan bunuh diri tersebut ternyata juga memberikan konsekuensi besar bagi keluarga terdekat dan orang-orang di sekitarnya.
Dalam setiap bencana yang melanda, baik gempa bumi, banjir, maupun pandemi, terdapat satu kelompok yang selalu hadir di garis depan tanpa banyak sorotan, yaitu para relawan bencana. Mereka bukan hanya tangan pertama yang menolong korban, tetapi juga pihak terakhir yang meninggalkan lokasi bencana. Namun di balik dedikasi tersebut, kesejahteraan mental dan ketangguhan psikologis para relawan kerap luput dari perhatian penelitian dan kebijakan.
Tahukah kamu bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi dengan jumlah lansia terbanyak di Indonesia? Hingga Desember 2021, tercatat terdapat lebih dari 637 ribu orang lanjut usia di DIY. Jumlah lansia yang besar ini membuka kemungkinan yang lebih besar pula untuk berbagai masalah pada lansia, salah satunya adalah masalah psikologis.
World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Setengah dari insiden bunuh diri dunia terjadi di negara kawasan Asia, namun di kawasan tersebut perilaku terkait bunuh diri masih kurang diteliti. Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa 40% orang dewasa mengalami ide bunuh diri selama pandemi COVID-19, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 18–24 tahun. Ide bunuh diri ini merupakan faktor risiko utama bagi perilaku dan percobaan bunuh diri.